Sabtu, 26 November 2011

Bagaimana Anda (bisa) Mengungguli Ulama?

Bagaimana Anda (bisa) Mengungguli Ulama?[1]

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. (QS. An-Nisaa’ [4]: 95)

Karya

Fadhilatu Syaikh Al-‘Alim

Kholid bin Abdurrahman Al-Husaynan

hafizhahullah

alih bahasa:

al-Faqir Ilalloh wa tholibus syahadah

Abu Syakir


Pusat Media Al-Fajr

1431 H – 2010 M

Segala puji bagi Allah Rab semesta alam dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.

Syaikhul Mufassirin Abu Ja’far Ath-Thabariy berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala,

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

Maksudnya firman Allah Ta'ala ["لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ"] adalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang absen dari jihad fi sabilillah tidak sama dengan mujahidin fi sabilillah. Karena mereka lebih memilih kenyamanan, kemapanan dan duduk di tempat tinggal mereka daripada bersusah payah menanggung beratnya perjalanan berjihad dan beratnya menghadapi musuh-musuh Allah dengan berjihad melawan mereka karena Allah dan dengan memerangi mereka sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kecuali orang-orang yang mempunyai udzur di antara mereka dengan hilangnya penglihatan mereka dan penyakit-penyakit lainnya yang menghalangi pemiliknya –karena penyakit yang menimpa mereka- dari memerangi dan berjihad melawan mereka di jalan Allah.

"وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ" dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan dalam memperjuangkan minhaj dien-Nya supaya kalimat (hukum) Allah menjadi yang tertinggi, yang mengerahkan segala potensi mereka dalam memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh dien mereka dengan harta benda mereka sebagai infak untuk melemahkan musuh-musuh orang-orang yang beriman kepada Allah dan dengan jiwa mereka. Mereka memerangi musuh-musuh tersebut secara langsung yang bisa membuat kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah.

Saya yakin pembahasan ini akan mengganggu banyak ulama dan orang baik. Karena akan memperlihatkan kekurangan di beberapa sisi kehidupan ulama ini. Meskipun kita semua masing-masing mempunyai kekurangan, aib dan kesalahan. Karena Allah Ta'ala menggambarkan manusia di dalam kitabnya yang mulia sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala,

{ إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا }.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan (mengkhianati)nya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)

Di antara sesuatu yang sudah dipahami dalam akal kita bahwasanya tidak ada orang yang sempurna dalam segala hal dari sisi ibadahnya. Bisa jadi ada yang sukses dalam menuntut ilmu, menghafal dan menyebarkannya, namun pada sisi-sisi yang lain ia lemah dan gagal, misalnya pada sisi qiyamul lail, puasa siang hari, silaturrahim, jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah lainnya.

Bisa jadi ada orang yang kuat dalam ibadah tahajjud, puasa, dan dakwah kepada Allah, namun ia lemah dalam ibadah menuntut ilmu dan menghafalnya. Bisa jadi ada lagi yang kuat dalam ibadah jihad dan melawan musuh, namun ia lemah dalam menuntut ilmu dan menghafalnya. Allah membagi rizki sesuai dengan hikmah, keadilan, rahmat dan keutamaan-Nya.

Mengapa kita marah dengan fakta yang ada?!

Mengapa kita marah ketika ada orang yang terus terang menerangkan kepada kita sisi kekurangan, kesalahan dan kelemahan dalam hidup kita serta berburuk sangka kepadanya sehingga kita mengatakan bahwasanya “dia itu mencela ulama”. Padahal mengakui kebenaran merupakan suatu keutamaan yang seharusnya kita terima dengan lapang dada dan suka rela. Allah Ta'ala berfirman,

(بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ)،

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 14).

Setiap manusia mengetahui kondisi dirinya sendiri yang sebenarnya.

Termasuk Mengherankan!

Sebagian orang mau menerima ketika engkau katakan kepadanya, “Sesungguhnya ulama fulan tidak qiyamul lail dan tidak puasa di siang hari karena sibuk dengan menuntut ilmu, mengarang kitab dan mengajar murid-muridnya. Ia sibuk dengan sesuatu yang lebih penting dari dua ibadah tersebut karena manfaat ilmu berlipat ganda sedangkan manfaat dua ibadah tersebut hanya terbatas pada dirinya sendiri. Ia mau menerima ucapan semacam ini tanpa merasa terganggu dan gelisah.

Namun di sisi lain ketika engkau katakan kepadanya, “Sesungguhnya ulama ini meninggalkan jihad, ribat, i’dad ... dst.” Maka ia akan segera menggerutu dan marah! Bagaimana engkau katakan perkataan seperti itu mengenai ulama ini? Siapa kamu sampai kamu menghukuminya dengan hukum tersebut. Ia menganggap persoalan ini merupakan persoalan yang sangat berbahaya!

Kalimat yang berat bagi jiwa

[Banyak ulama dan masyayikh di masa kini terhalangi dari merasakan nikmat jihad, ribat, i’dad dan hijrah. Padahal manfaatnya berlipat ganda, tidak terbatas hanya pada dirinya sendiri dan tidak ada yang menyamai keutamaannya. Tidak bertentangan dengan menyebarkan ilmu dan mengumpulkan dua keistimewaan dan keutamaan]. Pada kenyatannya, kita tidak menghalangi mereka. Justru merekalah yang menghalangi diri mereka sendiri dari kebaikan dan keutamaan yang agung ini.

Dari Abu Hushain Utsman bin ‘Isham, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” ia berkata, “tunjukkan kepadaku suatu amal yang bisa menyamai (pahala) jihad?” Beliau bersabda, “Aku tidak mendapatkannya.” Beliau melanjutkan, “Apakah engkau mampu, apabila seorang mujahid keluar lalu engkau masuk masjidmu, terus kamu shalat tanpa henti, engkau puasa tanpa berbuka?” Beliau meneruskan, “Siapa yang mampu melakukannya?” Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya kuda seorang mujahid yang berjalan dengan bersemangat bersama tali kekangnya akan ditulis baginya banyak kebaikan. Demikian riwayat Bukhari dari hadits Abu Hushain dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Mu’awiyah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Tidak ada yang bisa menyamai pahala jihad dan ribath.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Demikian juga para ulama sepakat –sepanjang pengetahuan saya- bahwa tidak ada amal sunnah yang lebih utama daripada jihad. Ia lebih utama daripada haji, puasa sunnah dan shalat sunnah. Ribath di jalan Allah lebih utama daripada beribadah di Makkah, Madinah dan baitul Maqdis. Sampai Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, ‘Saya ribath semalam di jalan Allah lebih aku sukai daripada aku mendapati malam lailatul qodar di sisi Hajar Aswad.’.”

Kami melihat banyak ulama yang setiap tahun pergi haji dan pergi umrah berkali-kali setiap tahun dan tidak pernah melewatkan puasa Asyura, tidak pula puasa Arofah dan tidak pula hari-hari yang disunnahkan untuk berpuasa padanya. Akan tetapi dalam ibadah jihad –yang padahal ia adalah lebih utama daripada semua itu- ia tidak antusias untuk melakukannya. Tahun demi tahun ia lewati namun ia tidak berperang dan berjihad sepanjang umurnya sekalipun hanya sekali!

Apakah Ibadah Paling Sulit di Masa Kini?

Ibadah yang paling sulit di masa kini adalah jihad fi sabilillah, kenapa? Karena seluruh dunia, baik orang mukmin, orang kafir, orang jauh, orang dekat, orang shalih atau orang thalih (lawan dari shalih), sampai para ulama –kecuali yang dirahmati Allah- maka ia akan memerangimu dan melampiaskan kemarahannya kepadamu karena kamu telah menyalakan cahaya jihad di hatimu untuk menyalakan api yang akan menguasai leher-leher kaum salibis dan orang-orang kafir.

Seandainya kamu melakukan ibadah apa saja di masa kini (qiyamul-lail, puasa di sinag hari, menghafal Al-Qur'an, menuntut ilmu, dakwah kepada Allah, .... semua ibadah dalam segala macam dan bentuknya) tidak akan ada seorang pun yang marah kepadamu dan memusuhimu. Mereka semua akan rela denganmu. Kamu tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan atau penentangan, bahkan barang kali malah mereka akan membantumu.

Akan tetapi tidaklah kamu berpikir untuk pergi ke medan keperkasaan, kemuliaan, keluhuran dan pengorbanan kecuali pasti akan kamu dapati semua orang mengajak menentangmu, mengendorkan semangatmu, melemahkan tekadmu dan akan berusaha memalingkanmu dari jalan ini dengan segala cara. Sampai kami pernah mendengar ada ulama ketika ia mengetahui bahwa putranya akan pergi berjihad spontan ia menentangnya dan memusuhinya. Namun seandainya putra ulama ini pergi ke negara kafir dan sumber kerusakan dan kerendahan untuk menyempurnakan studynya tentang ilmu-ilmu keduniaan niscaya akan kamu dapati banjir kalimat dorongan dan penyemangat dan niscaya akan ada dukungan moril kepada sang putra karena ia akan mengangkat kepala sang ayah dan membuat wajahnya berseri-seri di hadapan manusia (membuatnya menjadi orang yang terhormat di masyarakat). Laa haula walaa quwwata ilaa billaah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhabarkan perkara ini, di mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

( إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعِدَ لَهُ بِطَرِيْقِ اْلإِسْلَامِ فَقَالَ : تُسْلِمُ وَ تَذَرُ دِيْنَكَ وَ دِيْنَ آبَائِكَ وَ آبَاءِ آبَائِكَ ؟ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ : تُهَاجِرُ وَ تَدَعُ أَرْضَكَ وَ سَمَاءَكَ وَ إِنَّمَا مَثَلُ اْلمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ (بِمَعْنَى الْفَرَس اْلمَرْبُوْطِ فِيْ حَبْلِهِ وَوَاقَعَ اْلمُهَاجِرُ أَنَّهُ مُقَيَّدٌ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَعَدَمُ الْحَرَكَةِ وَتَمْنَعُ عَلَيْهِ أَشْيَاء )! فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْجِهَادِ فَقَالَ : تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقَسَّمُ الْمَالُ؟ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ، وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ و َإِنْ وَقَصَتْهُ دَابَّتَهُ كَانَ حَقًا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ )

“Sesungguhnya syaitan akan duduk menghalangi anak Adam di seluruh jalannya. Ia duduk menghalanginya di jalan Islam, ia berkata, ‘Kami masuk Islam dan meninggalkan dienmu, dien orang tuamu dan dien nenek moyangmu?’ Ia pun tidak mentaatinya lalu masuk Islam. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan hijrah. Ia berkata, ‘Kamu mau hijrah dan meninggalkan tanah airmu. Sesungguhnya permisalan orang yang berhijrah (muhajir) seperti permisalan kuda yang terikat (dalam arti kuda yang terikat dan realita seorang muhajir ia laksana terikat harus mendengar, taat, tidak bergerak dan dihalangi untuk melakukan banyak hal)! Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap hijrah. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan jihad. Ia berkata, ‘Kamu mau berjihad yang akan mengorbankan nyawa dan harta lalu kamu berperang dan terbunuh, istri dinikahi orang lain dan harta bendamu akan dibagi ke ahli warismu? Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap berjihad. Maka barang siapa yang melakukan itu maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga, dan barang siapa yang terbunuh maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga dan jika ia dilemparkan tunggangannya sampai meninggal maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga.” (HR. Nasa-i dan yang lainnya)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata, ‘Saya pernah mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) ketika disebutkan kepadanya perkara perang. Beliau mulai menangis dan berkata, ‘Tidak ada amal kebajikan yang lebih utama darinya.’ Yang lain mengatakan beliau berkata, “Tidak ada amalan yang pahalanya menyamai pahala bertemu musuh; dan memerangi mereka adalah amalan yang paling utama; dan orang-orang yang memerangi musuh, merekalah yang membela Islam dan kesuciannya, maka amalan apa yang lebih utama darinya. Orang-orang dalam keadaan aman sementara mereka dalam keadaan ketakutan. Mereka telah mengorbankan diri mereka demi Islam dan kaum muslimin.”

Baik kita katakan bahwa jihad fardhu ‘ain atau fardhu kifayah hasilnya sama, yaitu ‘terhalang dari ibadah jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah yang menyertainya.’ Tidak diragukan lagi bahwasanya apabila jihad fardhu ‘ain ‘sebagaimana di jaman kita ini’ maka perintah jihad menjadi lebih besar dan lebih agung.

Jihad adalah pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta:

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun jihad, cukuplah itu sebagai ibadah. Ia adalah puncak ibadah dan yang paling tinggi. Ia adalah ukuran dan bukti pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta kepada Allah. Orang yang benar-benar cinta akan mempersembahkan nyawanya dan harta bendanya untuk Rabb dan ilahnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan mempersembahkan sesuatu yang paling ia cintai. Ia sangat ingin seandainya ia memiliki nyawa sebanyak rambutnya yang akan ia persembahkan demi meraih kecintaan dan keridhaan-Nya dan sangat ingin seandainya ia terbunuh karena-Nya kemudian dihidupkan kemudian terbunuh kemudian dihidupkan kemudian mengorbankan dirinya untuk membela kekasih, hamba dan Rasul-Nya,

Sedang bahasa tubuhnya bertutur,

“Pecinta-Mu, menebus dirimu dengan jiwa,
jikalau dia memiliki yang lebih mahal
dari jiwanya, tentulah dikorbankan juga.”

Ia telah menyerahkan jiwa dan hartanya kepada pembelinya dan ia tahu bahwa tidak ada jalan untuk mengambil barang dagangan kecuali dengan memberikan harganya. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.(QS. At-Taubah [9]: 111).

Apabila sudah dimaklumi dan dipahami oleh manusia bahwa tanda kecintaan kepada Allah dan setiap kecintaan yang benar adalah mengorbankan nyawa dan harta benda demi meraih keridhaan yang ia cintai. Maka yang ia cintai dengan benar -yang mana seharusnya cinta tidak diberikan kecuali kepadanya dan setiap kecintaan selain kecintaan-Nya maka kecintaan kepadanya adalah batil- ia lebih utama untuk mensyariatkan jihad kepada hamba-hamba-Nya yang mana jihad adalah sesuatu yang tertinggi yang dengannya mereka medekatkan drii kepada ilah dan rabb mereka. Persembahan umat-umat sebelum mereka dalam sembelihan dan persembahannya adalah dengan mempersembahkan diri mereka untuk disembelih karena Allah Pelindung mereka. Alangkah bagusnya ibadah ini. Oleh karena itu Allah menyimpannya untuk Nabi yang paling sempurna dan umat yang paling sempurna dari akal, tauhid dan kecintaannya kepada Allah.

Apakah Kamu Ingin Menyerupai As-Sabiqunal Awwalun?

Syaikhul Islam berkata, “Ketahuilah –semoga Allah menjadikanmu menjadi orang shalih- bahwa termasuk nikmat terbesar yang dianugerahkan kepada orang yang Allah inginkan padanya suatu kebaikan: Dia akan menghidupkannya sampai waktu ini di saat Allah memperbaharui dien dan menghidupkan syiar kaum muslimin serta kondisi kaum mukminin dan mujahidin sampai menyerupai dengan As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan muhajirin dan anshar.

Barang siapa yang melaksanakan hal itu di waktu ini maka ia termasuk ke dalam orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha dengan-Nya. Dia menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Sekilas Pandang terhadap Realita Para Sahabat

Barang siapa yang memperhatikan realita para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan segala perbedaan kedudukan dan derajat mereka; ada yang berilmu, ada yang faqih, ada yang ahli ibadah, ada yang ahli hadits, ada yang penyair, dan ada yang pebisnis. Akan didapati mereka semua memiliki sifat yang sama, yaitu cinta jihad dan mencari mati syahid di jalan Allah. Sifat ini mereka warisi dari panutan, pemimpin, imam, pengajar dan murabbi mereka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّيْ أَغْزُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangn-Nya, aku ingin sekali berperang di jalan Allah lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh kemudian berperang lagi lalu terbunuh.” (HR. Muslim)

Berikut ini beberapa ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang dari mengerjakannya:

Ibadah pertama: Jihad fie sabilillah

Banyak hadits terkenal yang menjelaskan keutamaannya baik yang terdapat dalam Shahih Bukhari-Muslim maupun yang lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya,

مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ، قَالَ: فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ لاَ تَسْتَطِيْعُوْنَهُ، وَقَالَ فِي الثَّالِثَةِ: مَثَلُ اْلمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ اْلقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعُ اْلمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى)

“Apa amalan yang menyamai pahala jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Kalian tidak akan mampu melakukannya.” Abu Hurairah, “Para sahabat mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Namun semua dijawab beliau, “Kalian tidak akan mampu melakukannya.” Pada kali ketiga beliau bersabda, “Perumpamaan mujahid fi sabilillah seperti orang yang berpuasa dan shalat membaca ayat-ayat Allah tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai mujahid fi sabilillah itu pulang.” (HR. Muslim)

Perhatikan sabda beliau, “yang menyamai pahala jihad fi sabilillah” beliau tidak mengatakan “lebih utama daripada jihad” karena tidak ada amalan yang keutamaannya melebihinya.

Syaikhul Islam memberikan catatan hadits ini, “Ini adalah bab yang sangat luas yang tidak ada satu riwayat pun mengenai pahala dan keutamaan suatu amalan yang seperti riwayat tentang pahala dan keutamaan jihad.”

Apakah Manfaat Jihad Terbatas pada Pelakunya saja?

Syaikhul Islam berkata, “Sesungguhnya manfaat jihad merata mencakup pelakunya dan selainnya baik dalam urusan dien maupun dunia dan mencakup seluruh ibadah batin maupun lahir. Jihad mencakup kecintaan kepada Allah, ikhlas hanya untuk-Nya, tawakkal kepada-Nya, menyerahkan nyawa dan harta kepad-Nya, sabar, zuhud, berdzikir kepada Allah, dan seluruh amalan-amalan yang lain. Yang mana tidak ada satu pun amalan lain yang mencakup seperti cakupan ibadah jihad.

Orang dan umat yang melaksanakannya selalu ada di antara dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid dan surga. Semua manusia pasti akan hidup dan mati. Dengan berjihad ini mereka telah menggunakan hidup dan matinya dalam usaha meraih puncak kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Sebaliknya, dengan meninggalkan jihad maka dua kebahagiannya tersebut akan hilang atau akan berkurang.”

Bahkan ia merupakan perealisasian makna firman Allah Ta’ala,

{ قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ }

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 162-163)

Setelah Engkau Tahu Bahwa Jihad Amalan Paling Utama Maka Ketahuilah Bahwa Mujahid adalah Manusia paling Utama

Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ditanya,

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَل، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ الله بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ. قَالُوْا: ثُمَّ مَنْ؟، قَالَ: مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

“Wahai Rasulullah siapa manusia yang paling utama?” Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya.” Para sahabat bertanya lagi, “Kemudian siapa?” “Seorang mukmin yang ada di celah bukit, ia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia (agar mereka terjaga) dari keburukan dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Apabila engkau –semoga Allah menjagamu- di bumi jihad dan ribat maka engkau akan mengumpulkan dua keutamaan besar. Pertama, manfaatnya menyebar kepada orang lain, yang kedua, terbatas pada dirimu:

· Engkau berjihad dengan jiwa dan hartamu; ini termasuk amalan paling utama dan pelakunya manusia paling utama di sisi Allah.

· Engkau berada di salah satu gunung atau lembah beribadah kepada Allah dan berjihad fi sabilillah serta meninggalkan manusia agar mereka terlindungi dari keburukanmu.

Ibadah kedua: Ribat fie sabilillah.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata, “Makna ribat adalah tinggal di tsughur untuk memperkuat kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir. Sementara tsughur adalah setiap tempat yang penduduknya khawatir musuh menyerang dari situ.”

Di antara ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang melaksanakannya adalah ribat fi sabilillah padahal keutamannya sangat agung. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَام شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribat sehari fi sabilillah lebih baik daripada puasa sebulan ditambah qiyamullail. Apabila ia mati sedang ribat fi sabilillah maka pahala amalannya tersebut akan terus mengalir kepadanya, demikian juga rizkinya serta diberi keamanan dari fitnah kubur.” (HR. Muslim)

Bayangkan wahai hamba Allah bahwa satu hari engkau habiskan dalam ribat fi sabilillah itu lebih baik bagimu daripada puasa sebulan penuh disertai qiyamullail sementara engkau tetap ada di negaramu. Kalau mau kita hitung maka orang yang ribat fi sabilillah dalam sebulan ketika ia menjalaninya satu tahu maka ia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamullail selama 30 tahun. Bagaiamana padahal ribat jauh lebih utama dari itu? Bagaimana pahala yang sangat besar ini hilang sia-sia darimu hanya karena argumen-argumen lemah yang dibisikkan dari syaitan dan kelompoknya kepadamu?

Imam Syahid Ibnu An-Nuhas berkata mengenai ribat fi sabilillah, “Dalam riwayat mengenai keutamaan ribat fi sabilillah banyak hal agung yang tidak terdapat dalam qurbah-qurbah selainnya.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِيْ مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَإِنَّهُ يَنْمِي لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيُأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

“Setiap orang mati amalannya akan ditutup kecuali orang yang mati sedang ribat fi sabilillah. Pahala amalannya akan terus dialirkan sampai hari kiamat dan ia akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

Imam Syahid Ibnu An-Nuhas mengomentari hadits ini dengan berkata, “Ini menunjukkan bahwa ribat fi sabilillah amalan paling utama yang pahalanya akan terus mengalir sampai setelah mati.”

Menghilangkan syubhat:

Ketika sebagian orang tidak pergi berjihad beralasan dengan argumen sabda beliaushallallahu 'alaihi wa sallam,

خيركم من طال عمره وحسن عمله

“Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya.”

Kami katakan, Alhamdulillah, syubhat ini hilang dengan hadits berikut [“Setiap orang mati amalannya akan ditutup ....] Barang siapa mati atau terbunuh sebagai syahid, baik di Afghanistan, Chechnya, Iraq, Somalia, Aljazair, Yaman atau tsughur-tsughur Islam yang lain; barang siapa tetap teguh di sana dalam berjihad dan berperang serta tidak taraju’ (mundur menarik prinsip yang selama ini diperjuangkannya) dari semua ini sampai terbunuh maka ia dianggap sebagai seorang syahid dan murabit (orang yang ribat) yang pahala ribat dan amalan lainnya akan terus megalir kepadanya sampai hari kiamat. Coba bayangkan kapan hari kiamat tiba? 200 tahun lagi atau 300 tahun lagi?? Wallahu a’lam.

Yang penting selama tahun-tahun tersebut pahala ribat dan seluruh amalan sehari-harimu akan terus mengalir kepadamu, sementara engkau berada di ‘iliyyin yang paling tinggi berkat rahmat dan keutamaan Allah.

Juga, apakah ia mengetahui hal yang ghaib sehingga ia tahu umurnya panjang dan amalany baik, padahal tanda-tanda penelantaran sudah terlihat dari ucapannya yang justru dengannya ia telah membatalkan amalan terbaik dengan bersandarkan apa yang tidak ia miliki dan tidak ia ketahui. Ketahuilah bahwa jihad itu tidak mempercepat dan tidak mengundurkan ajal. Allah Ta’ala berfirman,

{يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ }

mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran [3]: 154)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,

{ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ }

"Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh."

maksudnya, ini sudah ditentukan takdirnya oleh Allah ‘Azza wa Jalla yang siapapun tidak akan bisa lari darinya.

Firman Allah,

{ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ }

untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu

Maksudnya, mengujimu dengan apa yang menimpamu untuk memisahkan yang buruk dengan yang baik dan agar nampak orang yang mukmin dan yang munafik dari sisi perkataan dan perbuatan.

{ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ }

Allah Maha Mengetahui isi hati.

Maksudnya, Allah maha mengetahui rahasia dan perasan yang tersimpan dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

{ الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ }

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar."Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 168-170)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah,

{ الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا }

maksudnya, seandainya mereka mendengarkan saran kami kepada mereka agar duduk-duduk saja dan tidak pergi berjihad mereka tidak akan terbunuh bersama orang yan terbunuh. Allah Ta’ala berfirman,

{ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }

maksudnya, jika dengan duduk-duduk tidak berjihad seseorang bisa selamat dari terbunuh dan kematian maka seharusnya kalian tidak akan mati. Padahal kematian pasti datang menjemput kalian sekalipun kalian bersembunyi di balik benteng yang kokoh. Lindungilah diri kalian dari kematian jika kalian orang-orang yang jujur. Mujahid berkata, dari Jabir bin Abdullah, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul.’.”

Ibadah Ketiga: I’dad Fie Sabilillah

Di antara ibadah yang banyak ulama terhalangi dari melaksanakannya di masa kini adalah i’dad Fie Sabilillah. Allah Ta’ala berfirman,

(وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ).

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Ibnu An-Nuhas berkata, “Sebagian ulama berpendapat wajibnya belajar melempar (kalau sekarang menembak) berdalil dengan ayat ini.”

Syaikh As-Sa’diy berkata,

{ وَأَعِدُّوا }

“Dan siapkanlah” untuk musuh-musuh kalian yang selalu berusaha membinasakan kalian dan membatalkan dien kalian.

{ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

“kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” maksudnya, setiap apa yang kamu sanggupi berupa kekuatan akal, badan, berbagai macam senjata dan sebagainya yang bisa membantu memerangi musuh. Masuk ke dalamnya juga berbagai macam keahlian yang mempelajari berbagai macam senjata, alat perang, peluru, senapan, pilot pesawat, pesawat udara, kapal laut, pembuatan benteng yang kokoh, pembuatan parit-parit perlindungan, alat-alat bela diri, ide-ide brilian, dan kebijakan yang dengan semua itu kaum muslimin bisa maju membela diri dari kejahatan musuh-musuhnya. Demikian juga wajib mempelajari cara menembak, bagaimana menjadi pemberani dan bagaimana mengatur strategi perang. Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

{ ألا إن القوة الرَّمْيُ }

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar.”(Yang dimaksud dengan melempar di sini, adalah melempar senjata secara umum,pent)

Termasuk juga, mempersiapkan diri menguasai kendaran-kendaran yang dibutuhkan ketika perang. Allah Ta’ala berfirman,

{ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ }

“dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” ini adalah illat (alasan) yang ada pada zaman itu, yaitu menggentarkan (menakut-nakuti) musuh. Hukum itu selalu berputar bersama illatnya (alasannya).

Apabila ada sesuatu yang bisa lebih berefek menggentarkan musuh darinya, seperti tank-tank dan pesawat-pesawat tempur yang disiapkan memang untuk berperang yang dengannya lebih bisa menghajar musuh, maka kamu diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan mempelajarinya. Sampai apabila itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan mempelajari industri cara pembuatannya maka itu juga wajib dipelajari, karena sesuatu yang apabila suatu kewajiban yang tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengannya maka ia juga wajib dilakukan.

Dan firman Allah,

] تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ [

“kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu”

Yaitu orang-orang yang kalian tahu mereka adalah musuh kalian.

]وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ [

“dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya”

Yaitu orang-orang yang akan memerangi kalian setalah waktu ini yang Allah firmankan dengan firman-Nya,

] اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ [

“sedang Allah mengetahuinya”

Oleh karena itu Allah memerintahkan mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka. Dan termasuk yang membantu dalam memerangi mereka adalah dengan mengerahkan dana-dana kaum muslimin untu berjihad memerangi orang-orang kafir.”

Dan dalam shahih Muslim, dari `Uqbah bin `Amir, dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di atas mimbar: (Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar.”

Ibadah Keempat: Hijrah fie sabilillah:

Allah Ta'ala berfirman,

{ وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } .

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisaa’ [4]: 100)

Syaikh As-Sa’diy berkata, “Ayat ini menjelaskan anjuran dan motivasi untuk berhijrah dan menjelaskan kemaslahatan-kemaslahatannya. Lalu Allah menjanjikan bahwa orang yang hijrah di jalan-Nya demi meraih ridha-Nya niscaya akan mendapatkan muraghaman yang banyak dan luas. Muraghaman adalah kata yang artinya mencakup kemaslahatan dien dan keluasan dalam kemaslahatan dunia. Hal itu karena banyak orang salah paham bahwa dengan hijrah maka urusannya akan menjadi kacau balau, menjadi fakir setelah sebelumnya kaya, menjadi hina setelah sebelumnya mulia, dan menjadi sulit (sempit) hidupnya setelah sebelumnya hidupnya berkelapangan. Padahal tidak seperti yang ia bayangkan. Selama seorang mukmin hidup bersama orang-orang musyrik maka dalam diennya pasti ada kekurangan, bukan hanya pada ibadah yang terbatas pada dirinya sendiri seperti shalat dan sebagainya, tapi juga pada ibadah-ibadah yang kemanfaatanya untuk orang lain seperti jihad dengan ucapan dan perbuatan serta akibat-akibat ibadah tersebut. Hal itu karena ia tidak bisa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut sementara ia dalam keadaan terfitnah diennya, terutama apabila ia dalam kondisi mustadh’af (lemah tertindas). Apabila ia hijrah fie sabilillah maka ia akan mampu menegakkan dien Allah dan berjihad memerangi musuh-musuh Allah dan membuat mereka marah (muraghamah). Muraghamah adalah ungkapan yang mencakup setiap ucapan dan perbuatan yang bisa membuat marah musuh-musuh Allah. Juga mencakup apa saja yang bisa menjadikan keluasan rizkinya. Dan semuai itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dikhabarkan Allah Ta’ala. Pelajaran akan hal itu dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ketika mereka berhijrah fie sabilillah, meninggalkan kampung halaman, anak-anak, dan harta benda mereka karena Allah, maka dengan itu sempurnalah iman mereka dan mereka mendapatkan iman yang sempurna, jihad yang agung, serta kemenangan bagi dien Allah, yang dengan itu mereka menjadi panutan bagi orang-orang yang hidup setelah mereka. Mereka juga bisa melakukan penaklukan-penaklukan dan mendapatkan ghanimah sebagai akibat dari hijrahnya, yang dengan itu mereka menjadi manusia-manusia yang paling kaya. Demikian juga apa yang akan didapatkan orang-orang yang melakukan apa yang mereka lakukan, mereka akan mendapatkan apa yang mereka dapatkan sampai hari kiamat.”

Ibadah Kelima: Hirasah (berjaga-jaga) fie Sabilillah

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( عينان لا تمسهما النار : عين بكت من خشية الله وعين باتت تحرس في سبيل الله ) رواه الترمذي

“Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang semalaman berjaga-jaga fie sabilillah.” (HR. Tirmidzi)

Abdullah bin Amrradhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sungguh, aku begadang semalaman berjaga-jaga fie sabilillah dalam keadaan takut lebih aku sukai daripada aku sedelah seratus onta tunggangan.”

Ibnu An-Nuhas berkata, “Ketahuilah bahwaberjaga-jaga fie sabilillah termasuk qurbah yang paling agung dan ketaatan yang paling tinggi. Ia adalah ribat yang paling utama. Setiap orang yang berjaga-jaga menjaga kaum muslimin pada suatu tempat yang dikhawatirkan musuh akan menyerang dari tempat itu maka ia adalah murabit (orang yang sedang ribat).

Lebih Utama dari Lailatul Qadar

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(ألا أنبئكم ليلة أفضل من ليلة القدر؟ حارس حرس في أرض خوف لعله أن لا يرجع إلى أهله.) رواه الحاكم وقال صحيح على شرط البخاري.

“Maukah kalian kuberitahu suatu malam yang lebih utama dari malam lailatul qadar? Malam itu adalah malam yang dilalui seorang yang berjaga-jaga di suatu tempat yang dipenuhi ketakutan yang bisa jadi ia tidak akan kembali lagi kepada keluarganya.” (HR. Al-Hakim. Ia berkata, “Shahih menurut syarat Bukhari.”)

Ibadah Keenam: Ghadwah wa Rawhah fie Sabilillah

Di antara ibadah-ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang dari melaksanakannya adalah ‘Ghadwah wa Rawhah fie Sabilillah.’

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لغدوة في سبيل الله أو روحة خير من الدنيا وما فيها) رواه مسلم.

“Sungguh, ghadwah fie sabilillah atau rawhah fie sabilillah lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ghadwah adalah berjalan dalam rentang waktu pagi hari sampai tergelincir mata hari. Rawhah adalah berjalan dalam dalam rentang waktu dari tergelincir matahari sampai sore hari. Kata ‘atau’ di sini berfungsi untuk membagi, bukan karena keraguan-raguan periwayat. Jadi makna hadits tersebut adalah: bahwa rawhah dan ghadwah sama-sama menghasilkan pahala. Dari zhahir hadits pahala akan diraih tidak terbatas pada ghadwah dan rawhah dari negara tempat tinggalnya saja, tapi pahala akan didapatlan dengan setiap ghadwah dan rawhah dalam perjalanannya menuju medan perang. Demikian juga setiap ghadwah dan rawhah di medan perang, karena semuanya sama-sama disebut ghadwah dan rawhah fie sabilillah. Makna hadits ini adalah bahwa keutamaan dan pahala ghadwah dan rawhah fie sabilillah lebih baik daripada seluruh kenikmatan dunia seandainya itu semua dimiliki manusia dan membayangkan menikmati semuanya. karena semua itu pasti akan sirna sedangkan kenimatan akhirat akan kekal abadi.”

Jihad itu Seperti Pasar

Ketahuilah bahwa jihad itu seperti pasar yang memiliki banyak pintu pahala. Seolah-olah di dalamnya terdapat pasar-pasar yang lain. Barang siapa yang mengharamkan dirinya dari jihad sungguh ia telah mengharamkan dirinya dari pintu-pintu kebaikan yang besar dan pahala yang besar dari amal shalih.

Adapun keutamaan-keutamaan yang tidak didapatkan orang yang duduk-duduk tidak berjihad sangat banyak, di antaranya:

Keutamaan pertama: seratus derajat yang didapatkan mujahidin fi sabilillah di surga

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من آمن بالله وبرسوله وأقام الصلاة وصام رمضان كان حقا على الله أن يدخله الجنة جاهد في سبيل الله أو جلس في أرضه التي ولد فيها،

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadhan maka Allah wajib memasukkannya ke surga, baik ia berjihad fie sabilillah atau hanya duduk-duduk di negeri tempat ia dilahirkan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami berikan kabar gembira ini kepada manusia?”

Beliau menjawab,

إن في الجنة مائة درجة أعدها الله للمجاهدين في سبيل الله ما بين الدرجتين كما بين السماء والأرض فإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة أراه فوقه عرش الرحمن ومنه تفجر أنهار الجنة.

“Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang disiapkan Allah untuk mujahidin fie sabilillah. Jarak antara dua derajatnya sebagaimana jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah mintalah kepada-Nya surga firdaus. Karena ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Aku melihat Arsy Allah ada di atasnya dan darinyalah mengalir sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, “Kedudukan mujahid di surga sangat tinggi sejarak 50 ribu tahun.”

Keutamaan kedua: kemuliaan orang mati syahid di sisi Allah

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

(( ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد ، يتمنى أن يرجع إلى الدنيا ، فيقتل عشر مرات ؛ لما يرى من الكرامة )) .

“Tidak ada seorangpun yang masuk surga yang ingin kembali lagi ke dunia -sementara ia memiliki segala apa yang ada di muka bumi- kecuali orang yang di dunia mati syahid; ia ingin kembali lagi ke dunia, ingin terbunuh sepuluh kali lagi, karena ia melihat kemuliaan yang didapatkannya di surga.”

Dalam salah satu riwayat, “Karena melihat keutamaan mati syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

Coba bayangkan wahai saudaraku tercinta, bahwa para ulama, fuqaha, ahli hadits, khathib, da’i, ahli ibadah, dan orang shalih dengan segala tingkatannya tidak ada satupun dari mereka yang berkeinginan kembali lagi ke dunia kecuali orang yang mati syahid karena ia melihat keutamaan dan kemuliaan mati syahid di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Kemuliaan yang didapatkan orang mati syahid tidak bisa dibayangkan akal atau digambarkan dengan goresan pena.”

Ia sangat ingin kembali lagi ke dunia bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi sepuluh kali (ini membuat geram orang yang mengatakan bahwa jihad adalah mahraqah (tempat membakar / dihabisinya para pejuang Islam) padahal Allah ta’ala berfirman,

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ }

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (QS. Ash-Shoff [61]: 10)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kemudian Dia menafsirkan perniagaan agung yang tidak akan merugi dan yang menghasilkan maksud dan menghilangkan halangan, maka Dia berfirman,

{ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ }

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Ash-Shoff [61]: 11)

Yaitu, dari perniagaan dunia dan bekerja keras serta mati-matian hanya untuk itu.

Kemudian Dia melanjutkan,

{ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ }

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ash-Shoff [61]: 12)

Maksudnya, jika kalian melakukan apa yang Aku perintahkan dan tunjukkan kepada kalian maka akan Kuampuni kesalahan-kesalahan kalian dan akan Kumasukkan kalian ke dalam surga dan tempat-tempat tinggal yang baik dan derajat-derajat yang tinggi.

Oleh karena itu Dia melanjutkan,

{ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ }

“dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shoff [61]: 12).”

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(( ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد ، يتمنى أن يرجع إلى الدنيا ، فيقتل عشر مرات ؛ لما يرى من الكرامة ))

“Tidak ada seorangpun yang masuk surga yang ingin kembali lagi ke dunia -sementara ia memiliki segala apa yang ada di muka bumi-kecuali orang yang di dunia mati syahid; ia ingin kembali lagi ke dunia, ingin terbunuh sepuluh kali lagi, karena ia melihat kemuliaan yang didapatkannya di surga.”

Ini bukan keadaan orang yang terbakar api. Orang yang terbakar api tidak ingin terbakar api lagi bahkan ia ingin sehat wal afiat. Pendapat jihad adalah mahraqah tidak lain adalah tahrif lilkalim (menyimpangkan makna firman Allah) dari makna sebenarnya dan berpendapat atas nama Allah tanpa ilmu, makar terhadap dien dan pemeluknya serta membuat mereka tidak mendapatkan keutamaan agung. Dan ini sama dengan kejahatan perampok, pencuri perbekalan, dan bentuk bantuan kepada para pencuri dari kalangan jin dan manusia yang mencuri perbekalan umat Islam. maka tidak ada perbekalan kecuali perbekalan akhirat. Tidak ada keselamatan kecuali keselamatan akhirat. Itu juga termasuk menghalang-halangi dari jalan Allah dan ini kerjaan Ibnu Ubay (gembong munafik) dan gengnya, yaitu melemhakan semangat untuk berperang fie sabilillah dan menggembosi umat Islam serta membuat kekacauan di tengah mereka. Kami berlindung kepada Allah dari ditelantarkan Allah dan dijauhkan dari Allah.

Keutamaan ketiga: keistimewaan orang mati syahid

Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

للشهيد عند الله سبع خصال : يغفر له في أول دفعة من دمه، ويرى مقعده من الجنة، ويحلى حلة الإيمان، و يزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، و يجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار الياقوتة منه خير من الدنيا و ما فيها، ويشفع في سبعين إنسانا من أهل بيته

“Orang mati syahid memiliki tujuh keistimewaan di sisi Allah: diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama kali, diperlihatkan tempat duduknya di surga, diberi hiasan iman, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dilindungi dari siksa kubur, diamankan dari hari ketakutan akbar, disematkan di kepalanya mahkota permata kemuliaan yang satu permatanya saja lebih baik dari dunia seisinya dan bisa memberikan syafa’at pada tujuh puluh anggota keluarganya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan lain-lain)

Pertanyaannya:

Seandainya ada dua orang mati, yang satu di halaqah ilmu dan yang satunya terbunuh di peperangan fie sabilillah. Apakah kita bisa mengatakan, sesungguhnya yang mati di halaqah ilmu mengambil keistimewaan orang mati syahid yang disebutkan dalam hadits ini? Sebagaimana yang didapat orang yang terbunuh di medan perang? Ini adalah masalah ghaib yang bukan wilayah ijtihad atau berpendapat. Namun yang menjadi tempat rujukan adalah Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ternyata tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan bahwa yang mati di halaqah ilmu akan mendapatkan keistimewaan-keistimewaan yang akan didapatkan orang yang mati syahid!

Sebagian orang ingin engkau terhalangi dari semua ini agar ia tetap menjadi Syaikh (gurumu) dan kelak di hari kiamat ia akan berlepas diri darimu jika kamu tahu pendapatnya dan engkau mengambil sarannya padahal engkau telah meninggalkan nash yang jelas dan meyakinkan dari hadits Rasulullah, lalu mana orang mendulang keuntungan wahai orang miskin (orang yang kasihan). Berpegang teguhlah dengan petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan dengan setiap apa yang berasal dari beliau. Itu adalah jalan keterjagaan dan keselamatan. Adapun selain itu hanyalah fatamorgana di tanah kosong yang disangka air oleh orang yang sedang kehausan.

Keutamaan keempat: Para Nabi Unggul dariOrang yang Mati Syahid HanyaKarena Keutamaan Kedudukan Sebagai Nabi

Dari Utbah bin Abd As-Sulamiy radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(القتلى ثلاثة رجل مؤمن جاهد بنفسه وماله في سبيل الله حتى إذا لقي العدو وقاتلهم حتى يقتل فذلك الشهيد الممتحن في جنة الله تحت عرشه لا يفضله النبيون إلا بفضل درجة النبوة....)

“Orang terbunuh ada tiga. Seorang mukmin berjihad dengan nyawa dan hartanya di jalan Allah sampai apabila ia bertemu musuh dan memerangi mereka sampai terbunuh maka itulah orang mati syahid yang teruji di surga Allah di bawah arsy-Nya. Tidaklah para nabi unggul darinya kecuali karena keutamaan derajat kenabian ... .” (HR. Ahmad dengan isnad jayyid (baik), HR. Thabrani dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan redaksi darinya).

Banyak dari kita yang membaca hadits semacam ini, namun membacanya hanya selintas laksana orang lewat, tanpa merenungkan redaksinya dan tidak memperdalam kandungan maknanya. Lihatlah sabda beliau [tidaklah para nabi unggul darinya kecuali karena keutamaan derajat kenabian]. Ini berarti mereka dari golongan shiddiqin. Karena Allah Ta'ala berfirman,

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء/69]،

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 69)

Berbahagialah jika engkau menjadi seorang shiddiq plus syahid.

Namun ada sebagian orang yang ingin menjadikanmu bersama dengan orang-orang yang absen dan duduk-duduk berpangku tangan dari jihad serta meninggalkan derajat yang dengannya engkau bisa berada dekat dengan derajat para nabi. Tetapi mereka justru bahagia dan nyaman dalam kondisi seperti itu. Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Keutamaan Kelima: Lebih Utama daripada Ibadah Tujuh puluh tahun

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuia berkata, Ada salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewati suatu celah bukit yang padanya terdapat air tawar. Ia pun menyukainya. Ia berkata, Seandainya saya memisahkan diri dari manusia lalu saya tinggal di tempat ini. Tapi saya tidak akan melakukan ini sebelum minta ijin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Beliau bersabda,

(لا تفعل؛ فإن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما، ألا تحبون أن يغفر الله لكم، ويدخلكم الجنة ؟ أغزوا في سبيل الله ، من قاتل في سبيل الله فواق ناقة وجبت له الجنة)

“Jangan kamu lakukan. Karena tempat berdiri salah seorang dari kalian di jalan Allah lebih utama daripada shalatnya di rumahnya sendiri selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kalian suka Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke surga? Berperanglah di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah selama waktu memeras susu onta maka ia pasti masuk surga.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, Hadits Hasan)

Sangat jauh sekali bedanya antara nasihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat ini dan antara nasihat-nasihat sebagian orang di masa kita ini yang kata-katanya, kebiasaannya, sumber dananya dan kerjaannya memalingkan dan menghalangimu dari jihad dan jalan kebenaran yang lurus.

Siapa yang engkau ikuti wahai saudaraku se-Islam?

Siapa teladanmu?

Allah Ta'ala berfirman,

{ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Keutamaan keenam: Syuhada terbaik

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(أفضل الشهداء الذين يقاتلون في الصف الأول فلا يلفتون وجوههم حتى يقتلوا أولئك يتلبطون في الغرف العلى من الجنة يضحك إليهم ربك فإذا ضحك ربك إلى عبد في موطن فلا حساب عليه )

“Syuhada terbaik adalah yang berperang di barisan terdepan, mereka tidak menolehkan wajahnya sampai terbunuh. Mereka bergulingan merasakan kenikmatan di kamar-kamar tertinggi di surga. Rabbmu tertawa kepada mereka. Apabila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba pada suatu kesempatan maka hamba tersebut tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad)

Keutamaan ketujuh: Rumah terbaik di surga milik syuhada

Dari Samurah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رأيت الليلة رجلين أتياني فصعدا بي الشجرة فأدخلاني دارا هي أحسن وأفضل لم أر قط أحسن منها قالا أما هذه الدار فدار الشهداء.

“Tadi malam saya melihat dua orang lelaki yang mendatangiku. Mereka berdua membawaku naik pohon, lalu mereka memasukanku ke sebuah rumah yang saya belum pernah melihat rumah yang lebih bagus dan lebih baik darinya. Kedua lelaki itu berkata, ‘rumah ini adalah rumah para syuhada.’” (HR. Bukhari)

Cahaya di atas cahaya

Setelah penjelasan akan keutamaan dan buah-buah yang agung dari jihad di atas, tidakkah engkau rindu untuk datang ke bumi jihad dan ribat? Bumi keperkasaan dan kemuliaan, bumi penebusan dan pengorbanan. Sehingga engkau lebih dekat untuk meraih kesyahidan yang merupakan cita-cita Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Alangkah indah, manis dan bagus apabila engkau bisa mengumpulkan antara jihad fi sabilillah dengan menghafal Al-Qur’an, menuntut ilmu, qiyamul lail, puasa di siang hari, dakwah kepada Allah, akhlak yang baik dan mengikuti sunnah.

Renungkan dengan baik ayat-ayat berikut ini:

Allah Ta'ala berfirman,

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Maaidah [5]: 54)

Allah Ta'ala berfirman,

{ مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ }

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 5-6)

Wal hamdu lillaahi rabbil ‘alamin

Doakan saudara-saudara kalian para mujahidin

Saudara-saudara kalian

Di Pusat Media Al-Fajr

1431 H – 2010 M

[1]Catatan: yang dimaksud mengungguli yang kami kehendaki di sini adalah mengungguli yang bersifat relatif, tidak dalam segala hal. Karena para ulama telah mengungguli sebagian mujahidin dalam hal menuntut ilmu, menghafal dan menyebarkannya. Namun kami hanya ingin menjelaskan sebagian ibadah yang agung yang ditinggalkan dan tidak diamalkan ulama di masa kini. Padahal mereka mengetahui keutamaan dan urgensinya. Namun mereka terhalang dari mengamalkannya.