Sabtu, 26 November 2011

Bagaimana Anda (bisa) Mengungguli Ulama?

Bagaimana Anda (bisa) Mengungguli Ulama?[1]

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 95)

Karya

Fadhilatu Syaikh Al-‘Alim

Kholid bin Abdurrahman Al-Husaynan

hafizhahullah

alih bahasa:

al-Faqir Ilalloh wa tholibus syahadah

Abu Syakir


Pusat Media Al-Fajr

1431 H – 2010 M

Segala puji bagi Allah Rab semesta alam dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.

Syaikhul Mufassirin Abu Ja’far Ath-Thabariy berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala,

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

Maksudnya firman Allah Ta'ala ["لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ"] adalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang absen dari jihad fi sabilillah tidak sama dengan mujahidin fi sabilillah. Karena mereka lebih memilih kenyamanan, kemapanan dan duduk di tempat tinggal mereka daripada bersusah payah menanggung beratnya perjalanan berjihad dan beratnya menghadapi musuh-musuh Allah dengan berjihad melawan mereka karena Allah dan dengan memerangi mereka sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kecuali orang-orang yang mempunyai udzur di antara mereka dengan hilangnya penglihatan mereka dan penyakit-penyakit lainnya yang menghalangi pemiliknya –karena penyakit yang menimpa mereka- dari memerangi dan berjihad melawan mereka di jalan Allah.

"وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ" dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan dalam memperjuangkan minhaj dien-Nya supaya kalimat (hukum) Allah menjadi yang tertinggi, yang mengerahkan segala potensi mereka dalam memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh dien mereka dengan harta benda mereka sebagai infak untuk melemahkan musuh-musuh orang-orang yang beriman kepada Allah dan dengan jiwa mereka. Mereka memerangi musuh-musuh tersebut secara langsung yang bisa membuat kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah.

Saya yakin pembahasan ini akan mengganggu banyak ulama dan orang baik. Karena akan memperlihatkan kekurangan di beberapa sisi kehidupan ulama ini. Meskipun kita semua masing-masing mempunyai kekurangan, aib dan kesalahan. Karena Allah Ta'ala menggambarkan manusia di dalam kitabnya yang mulia sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala,

{ إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا }.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan (mengkhianati)nya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)

Di antara sesuatu yang sudah dipahami dalam akal kita bahwasanya tidak ada orang yang sempurna dalam segala hal dari sisi ibadahnya. Bisa jadi ada yang sukses dalam menuntut ilmu, menghafal dan menyebarkannya, namun pada sisi-sisi yang lain ia lemah dan gagal, misalnya pada sisi qiyamul lail, puasa siang hari, silaturrahim, jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah lainnya.

Bisa jadi ada orang yang kuat dalam ibadah tahajjud, puasa, dan dakwah kepada Allah, namun ia lemah dalam ibadah menuntut ilmu dan menghafalnya. Bisa jadi ada lagi yang kuat dalam ibadah jihad dan melawan musuh, namun ia lemah dalam menuntut ilmu dan menghafalnya. Allah membagi rizki sesuai dengan hikmah, keadilan, rahmat dan keutamaan-Nya.

Mengapa kita marah dengan fakta yang ada?!

Mengapa kita marah ketika ada orang yang terus terang menerangkan kepada kita sisi kekurangan, kesalahan dan kelemahan dalam hidup kita serta berburuk sangka kepadanya sehingga kita mengatakan bahwasanya “dia itu mencela ulama”. Padahal mengakui kebenaran merupakan suatu keutamaan yang seharusnya kita terima dengan lapang dada dan suka rela. Allah Ta'ala berfirman,

(بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ)،

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 14).

Setiap manusia mengetahui kondisi dirinya sendiri yang sebenarnya.

Termasuk Mengherankan!

Sebagian orang mau menerima ketika engkau katakan kepadanya, “Sesungguhnya ulama fulan tidak qiyamul lail dan tidak puasa di siang hari karena sibuk dengan menuntut ilmu, mengarang kitab dan mengajar murid-muridnya. Ia sibuk dengan sesuatu yang lebih penting dari dua ibadah tersebut karena manfaat ilmu berlipat ganda sedangkan manfaat dua ibadah tersebut hanya terbatas pada dirinya sendiri. Ia mau menerima ucapan semacam ini tanpa merasa terganggu dan gelisah.

Namun di sisi lain ketika engkau katakan kepadanya, “Sesungguhnya ulama ini meninggalkan jihad, ribat, i’dad ... dst.” Maka ia akan segera menggerutu dan marah! Bagaimana engkau katakan perkataan seperti itu mengenai ulama ini? Siapa kamu sampai kamu menghukuminya dengan hukum tersebut. Ia menganggap persoalan ini merupakan persoalan yang sangat berbahaya!

Kalimat yang berat bagi jiwa

[Banyak ulama dan masyayikh di masa kini terhalangi dari merasakan nikmat jihad, ribat, i’dad dan hijrah. Padahal manfaatnya berlipat ganda, tidak terbatas hanya pada dirinya sendiri dan tidak ada yang menyamai keutamaannya. Tidak bertentangan dengan menyebarkan ilmu dan mengumpulkan dua keistimewaan dan keutamaan]. Pada kenyatannya, kita tidak menghalangi mereka. Justru merekalah yang menghalangi diri mereka sendiri dari kebaikan dan keutamaan yang agung ini.

Dari Abu Hushain Utsman bin ‘Isham, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” ia berkata, “tunjukkan kepadaku suatu amal yang bisa menyamai (pahala) jihad?” Beliau bersabda, “Aku tidak mendapatkannya.” Beliau melanjutkan, “Apakah engkau mampu, apabila seorang mujahid keluar lalu engkau masuk masjidmu, terus kamu shalat tanpa henti, engkau puasa tanpa berbuka?” Beliau meneruskan, “Siapa yang mampu melakukannya?” Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya kuda seorang mujahid yang berjalan dengan bersemangat bersama tali kekangnya akan ditulis baginya banyak kebaikan. Demikian riwayat Bukhari dari hadits Abu Hushain dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Mu’awiyah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Tidak ada yang bisa menyamai pahala jihad dan ribath.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Demikian juga para ulama sepakat –sepanjang pengetahuan saya- bahwa tidak ada amal sunnah yang lebih utama daripada jihad. Ia lebih utama daripada haji, puasa sunnah dan shalat sunnah. Ribath di jalan Allah lebih utama daripada beribadah di Makkah, Madinah dan baitul Maqdis. Sampai Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, ‘Saya ribath semalam di jalan Allah lebih aku sukai daripada aku mendapati malam lailatul qodar di sisi Hajar Aswad.’.”

Kami melihat banyak ulama yang setiap tahun pergi haji dan pergi umrah berkali-kali setiap tahun dan tidak pernah melewatkan puasa Asyura, tidak pula puasa Arofah dan tidak pula hari-hari yang disunnahkan untuk berpuasa padanya. Akan tetapi dalam ibadah jihad –yang padahal ia adalah lebih utama daripada semua itu- ia tidak antusias untuk melakukannya. Tahun demi tahun ia lewati namun ia tidak berperang dan berjihad sepanjang umurnya sekalipun hanya sekali!

Apakah Ibadah Paling Sulit di Masa Kini?

Ibadah yang paling sulit di masa kini adalah jihad fi sabilillah, kenapa? Karena seluruh dunia, baik orang mukmin, orang kafir, orang jauh, orang dekat, orang shalih atau orang thalih (lawan dari shalih), sampai para ulama –kecuali yang dirahmati Allah- maka ia akan memerangimu dan melampiaskan kemarahannya kepadamu karena kamu telah menyalakan cahaya jihad di hatimu untuk menyalakan api yang akan menguasai leher-leher kaum salibis dan orang-orang kafir.

Seandainya kamu melakukan ibadah apa saja di masa kini (qiyamul-lail, puasa di sinag hari, menghafal Al-Qur'an, menuntut ilmu, dakwah kepada Allah, .... semua ibadah dalam segala macam dan bentuknya) tidak akan ada seorang pun yang marah kepadamu dan memusuhimu. Mereka semua akan rela denganmu. Kamu tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan atau penentangan, bahkan barang kali malah mereka akan membantumu.

Akan tetapi tidaklah kamu berpikir untuk pergi ke medan keperkasaan, kemuliaan, keluhuran dan pengorbanan kecuali pasti akan kamu dapati semua orang mengajak menentangmu, mengendorkan semangatmu, melemahkan tekadmu dan akan berusaha memalingkanmu dari jalan ini dengan segala cara. Sampai kami pernah mendengar ada ulama ketika ia mengetahui bahwa putranya akan pergi berjihad spontan ia menentangnya dan memusuhinya. Namun seandainya putra ulama ini pergi ke negara kafir dan sumber kerusakan dan kerendahan untuk menyempurnakan studynya tentang ilmu-ilmu keduniaan niscaya akan kamu dapati banjir kalimat dorongan dan penyemangat dan niscaya akan ada dukungan moril kepada sang putra karena ia akan mengangkat kepala sang ayah dan membuat wajahnya berseri-seri di hadapan manusia (membuatnya menjadi orang yang terhormat di masyarakat). Laa haula walaa quwwata ilaa billaah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhabarkan perkara ini, di mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

( إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعِدَ لَهُ بِطَرِيْقِ اْلإِسْلَامِ فَقَالَ : تُسْلِمُ وَ تَذَرُ دِيْنَكَ وَ دِيْنَ آبَائِكَ وَ آبَاءِ آبَائِكَ ؟ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ : تُهَاجِرُ وَ تَدَعُ أَرْضَكَ وَ سَمَاءَكَ وَ إِنَّمَا مَثَلُ اْلمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ (بِمَعْنَى الْفَرَس اْلمَرْبُوْطِ فِيْ حَبْلِهِ وَوَاقَعَ اْلمُهَاجِرُ أَنَّهُ مُقَيَّدٌ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَعَدَمُ الْحَرَكَةِ وَتَمْنَعُ عَلَيْهِ أَشْيَاء )! فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْجِهَادِ فَقَالَ : تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقَسَّمُ الْمَالُ؟ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ، وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ و َإِنْ وَقَصَتْهُ دَابَّتَهُ كَانَ حَقًا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ )

“Sesungguhnya syaitan akan duduk menghalangi anak Adam di seluruh jalannya. Ia duduk menghalanginya di jalan Islam, ia berkata, ‘Kami masuk Islam dan meninggalkan dienmu, dien orang tuamu dan dien nenek moyangmu?’ Ia pun tidak mentaatinya lalu masuk Islam. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan hijrah. Ia berkata, ‘Kamu mau hijrah dan meninggalkan tanah airmu. Sesungguhnya permisalan orang yang berhijrah (muhajir) seperti permisalan kuda yang terikat (dalam arti kuda yang terikat dan realita seorang muhajir ia laksana terikat harus mendengar, taat, tidak bergerak dan dihalangi untuk melakukan banyak hal)! Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap hijrah. Kemudian syaitan duduk menghalangi di jalan jihad. Ia berkata, ‘Kamu mau berjihad yang akan mengorbankan nyawa dan harta lalu kamu berperang dan terbunuh, istri dinikahi orang lain dan harta bendamu akan dibagi ke ahli warismu? Ia pun tidak mentaatinya lalu tetap berjihad. Maka barang siapa yang melakukan itu maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga, dan barang siapa yang terbunuh maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga dan jika ia dilemparkan tunggangannya sampai meninggal maka wajib atas Allah untuk memasukkannya ke surga.” (HR. Nasa-i dan yang lainnya)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata, ‘Saya pernah mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) ketika disebutkan kepadanya perkara perang. Beliau mulai menangis dan berkata, ‘Tidak ada amal kebajikan yang lebih utama darinya.’ Yang lain mengatakan beliau berkata, “Tidak ada amalan yang pahalanya menyamai pahala bertemu musuh; dan memerangi mereka adalah amalan yang paling utama; dan orang-orang yang memerangi musuh, merekalah yang membela Islam dan kesuciannya, maka amalan apa yang lebih utama darinya. Orang-orang dalam keadaan aman sementara mereka dalam keadaan ketakutan. Mereka telah mengorbankan diri mereka demi Islam dan kaum muslimin.”

Baik kita katakan bahwa jihad fardhu ‘ain atau fardhu kifayah hasilnya sama, yaitu ‘terhalang dari ibadah jihad fi sabilillah dan ibadah-ibadah yang menyertainya.’ Tidak diragukan lagi bahwasanya apabila jihad fardhu ‘ain ‘sebagaimana di jaman kita ini’ maka perintah jihad menjadi lebih besar dan lebih agung.

Jihad adalah pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta:

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun jihad, cukuplah itu sebagai ibadah. Ia adalah puncak ibadah dan yang paling tinggi. Ia adalah ukuran dan bukti pembeda antara orang yang benar-benar cinta dan orang yang hanya mengaku cinta kepada Allah. Orang yang benar-benar cinta akan mempersembahkan nyawanya dan harta bendanya untuk Rabb dan ilahnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan mempersembahkan sesuatu yang paling ia cintai. Ia sangat ingin seandainya ia memiliki nyawa sebanyak rambutnya yang akan ia persembahkan demi meraih kecintaan dan keridhaan-Nya dan sangat ingin seandainya ia terbunuh karena-Nya kemudian dihidupkan kemudian terbunuh kemudian dihidupkan kemudian mengorbankan dirinya untuk membela kekasih, hamba dan Rasul-Nya,

Sedang bahasa tubuhnya bertutur,

“Pecinta-Mu, menebus dirimu dengan jiwa,
jikalau dia memiliki yang lebih mahal
dari jiwanya, tentulah dikorbankan juga.”

Ia telah menyerahkan jiwa dan hartanya kepada pembelinya dan ia tahu bahwa tidak ada jalan untuk mengambil barang dagangan kecuali dengan memberikan harganya. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At-Taubah [9]: 111).

Apabila sudah dimaklumi dan dipahami oleh manusia bahwa tanda kecintaan kepada Allah dan setiap kecintaan yang benar adalah mengorbankan nyawa dan harta benda demi meraih keridhaan yang ia cintai. Maka yang ia cintai dengan benar -yang mana seharusnya cinta tidak diberikan kecuali kepadanya dan setiap kecintaan selain kecintaan-Nya maka kecintaan kepadanya adalah batil- ia lebih utama untuk mensyariatkan jihad kepada hamba-hamba-Nya yang mana jihad adalah sesuatu yang tertinggi yang dengannya mereka medekatkan drii kepada ilah dan rabb mereka. Persembahan umat-umat sebelum mereka dalam sembelihan dan persembahannya adalah dengan mempersembahkan diri mereka untuk disembelih karena Allah Pelindung mereka. Alangkah bagusnya ibadah ini. Oleh karena itu Allah menyimpannya untuk Nabi yang paling sempurna dan umat yang paling sempurna dari akal, tauhid dan kecintaannya kepada Allah.

Apakah Kamu Ingin Menyerupai As-Sabiqunal Awwalun?

Syaikhul Islam berkata, “Ketahuilah –semoga Allah menjadikanmu menjadi orang shalih- bahwa termasuk nikmat terbesar yang dianugerahkan kepada orang yang Allah inginkan padanya suatu kebaikan: Dia akan menghidupkannya sampai waktu ini di saat Allah memperbaharui dien dan menghidupkan syiar kaum muslimin serta kondisi kaum mukminin dan mujahidin sampai menyerupai dengan As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan muhajirin dan anshar.

Barang siapa yang melaksanakan hal itu di waktu ini maka ia termasuk ke dalam orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha dengan-Nya. Dia menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Sekilas Pandang terhadap Realita Para Sahabat

Barang siapa yang memperhatikan realita para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan segala perbedaan kedudukan dan derajat mereka; ada yang berilmu, ada yang faqih, ada yang ahli ibadah, ada yang ahli hadits, ada yang penyair, dan ada yang pebisnis. Akan didapati mereka semua memiliki sifat yang sama, yaitu cinta jihad dan mencari mati syahid di jalan Allah. Sifat ini mereka warisi dari panutan, pemimpin, imam, pengajar dan murabbi mereka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّيْ أَغْزُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangn-Nya, aku ingin sekali berperang di jalan Allah lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh kemudian berperang lagi lalu terbunuh.” (HR. Muslim)

Berikut ini beberapa ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang dari mengerjakannya:

Ibadah pertama: Jihad fie sabilillah

Banyak hadits terkenal yang menjelaskan keutamaannya baik yang terdapat dalam Shahih Bukhari-Muslim maupun yang lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya,

مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ، قَالَ: فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ لاَ تَسْتَطِيْعُوْنَهُ، وَقَالَ فِي الثَّالِثَةِ: مَثَلُ اْلمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ اْلقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعُ اْلمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى)

“Apa amalan yang menyamai pahala jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Kalian tidak akan mampu melakukannya.” Abu Hurairah, “Para sahabat mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Namun semua dijawab beliau, “Kalian tidak akan mampu melakukannya.” Pada kali ketiga beliau bersabda, “Perumpamaan mujahid fi sabilillah seperti orang yang berpuasa dan shalat membaca ayat-ayat Allah tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai mujahid fi sabilillah itu pulang.” (HR. Muslim)

Perhatikan sabda beliau, “yang menyamai pahala jihad fi sabilillah” beliau tidak mengatakan “lebih utama daripada jihad” karena tidak ada amalan yang keutamaannya melebihinya.

Syaikhul Islam memberikan catatan hadits ini, “Ini adalah bab yang sangat luas yang tidak ada satu riwayat pun mengenai pahala dan keutamaan suatu amalan yang seperti riwayat tentang pahala dan keutamaan jihad.”

Apakah Manfaat Jihad Terbatas pada Pelakunya saja?

Syaikhul Islam berkata, “Sesungguhnya manfaat jihad merata mencakup pelakunya dan selainnya baik dalam urusan dien maupun dunia dan mencakup seluruh ibadah batin maupun lahir. Jihad mencakup kecintaan kepada Allah, ikhlas hanya untuk-Nya, tawakkal kepada-Nya, menyerahkan nyawa dan harta kepad-Nya, sabar, zuhud, berdzikir kepada Allah, dan seluruh amalan-amalan yang lain. Yang mana tidak ada satu pun amalan lain yang mencakup seperti cakupan ibadah jihad.

Orang dan umat yang melaksanakannya selalu ada di antara dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid dan surga. Semua manusia pasti akan hidup dan mati. Dengan berjihad ini mereka telah menggunakan hidup dan matinya dalam usaha meraih puncak kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Sebaliknya, dengan meninggalkan jihad maka dua kebahagiannya tersebut akan hilang atau akan berkurang.”

Bahkan ia merupakan perealisasian makna firman Allah Ta’ala,

{ قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ }

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 162-163)

Setelah Engkau Tahu Bahwa Jihad Amalan Paling Utama Maka Ketahuilah Bahwa Mujahid adalah Manusia paling Utama

Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ditanya,

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَل، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ الله بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ. قَالُوْا: ثُمَّ مَنْ؟، قَالَ: مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

“Wahai Rasulullah siapa manusia yang paling utama?” Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya.” Para sahabat bertanya lagi, “Kemudian siapa?” “Seorang mukmin yang ada di celah bukit, ia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia (agar mereka terjaga) dari keburukan dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Apabila engkau –semoga Allah menjagamu- di bumi jihad dan ribat maka engkau akan mengumpulkan dua keutamaan besar. Pertama, manfaatnya menyebar kepada orang lain, yang kedua, terbatas pada dirimu:

· Engkau berjihad dengan jiwa dan hartamu; ini termasuk amalan paling utama dan pelakunya manusia paling utama di sisi Allah.

· Engkau berada di salah satu gunung atau lembah beribadah kepada Allah dan berjihad fi sabilillah serta meninggalkan manusia agar mereka terlindungi dari keburukanmu.

Ibadah kedua: Ribat fie sabilillah.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata, “Makna ribat adalah tinggal di tsughur untuk memperkuat kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir. Sementara tsughur adalah setiap tempat yang penduduknya khawatir musuh menyerang dari situ.”

Di antara ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang melaksanakannya adalah ribat fi sabilillah padahal keutamannya sangat agung. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَام شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribat sehari fi sabilillah lebih baik daripada puasa sebulan ditambah qiyamullail. Apabila ia mati sedang ribat fi sabilillah maka pahala amalannya tersebut akan terus mengalir kepadanya, demikian juga rizkinya serta diberi keamanan dari fitnah kubur.” (HR. Muslim)

Bayangkan wahai hamba Allah bahwa satu hari engkau habiskan dalam ribat fi sabilillah itu lebih baik bagimu daripada puasa sebulan penuh disertai qiyamullail sementara engkau tetap ada di negaramu. Kalau mau kita hitung maka orang yang ribat fi sabilillah dalam sebulan ketika ia menjalaninya satu tahu maka ia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamullail selama 30 tahun. Bagaiamana padahal ribat jauh lebih utama dari itu? Bagaimana pahala yang sangat besar ini hilang sia-sia darimu hanya karena argumen-argumen lemah yang dibisikkan dari syaitan dan kelompoknya kepadamu?

Imam Syahid Ibnu An-Nuhas berkata mengenai ribat fi sabilillah, “Dalam riwayat mengenai keutamaan ribat fi sabilillah banyak hal agung yang tidak terdapat dalam qurbah-qurbah selainnya.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِيْ مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَإِنَّهُ يَنْمِي لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيُأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

“Setiap orang mati amalannya akan ditutup kecuali orang yang mati sedang ribat fi sabilillah. Pahala amalannya akan terus dialirkan sampai hari kiamat dan ia akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

Imam Syahid Ibnu An-Nuhas mengomentari hadits ini dengan berkata, “Ini menunjukkan bahwa ribat fi sabilillah amalan paling utama yang pahalanya akan terus mengalir sampai setelah mati.”

Menghilangkan syubhat:

Ketika sebagian orang tidak pergi berjihad beralasan dengan argumen sabda beliaushallallahu 'alaihi wa sallam,

خيركم من طال عمره وحسن عمله

“Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya.”

Kami katakan, Alhamdulillah, syubhat ini hilang dengan hadits berikut [“Setiap orang mati amalannya akan ditutup ....] Barang siapa mati atau terbunuh sebagai syahid, baik di Afghanistan, Chechnya, Iraq, Somalia, Aljazair, Yaman atau tsughur-tsughur Islam yang lain; barang siapa tetap teguh di sana dalam berjihad dan berperang serta tidak taraju’ (mundur menarik prinsip yang selama ini diperjuangkannya) dari semua ini sampai terbunuh maka ia dianggap sebagai seorang syahid dan murabit (orang yang ribat) yang pahala ribat dan amalan lainnya akan terus megalir kepadanya sampai hari kiamat. Coba bayangkan kapan hari kiamat tiba? 200 tahun lagi atau 300 tahun lagi?? Wallahu a’lam.

Yang penting selama tahun-tahun tersebut pahala ribat dan seluruh amalan sehari-harimu akan terus mengalir kepadamu, sementara engkau berada di ‘iliyyin yang paling tinggi berkat rahmat dan keutamaan Allah.

Juga, apakah ia mengetahui hal yang ghaib sehingga ia tahu umurnya panjang dan amalany baik, padahal tanda-tanda penelantaran sudah terlihat dari ucapannya yang justru dengannya ia telah membatalkan amalan terbaik dengan bersandarkan apa yang tidak ia miliki dan tidak ia ketahui. Ketahuilah bahwa jihad itu tidak mempercepat dan tidak mengundurkan ajal. Allah Ta’ala berfirman,

{يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ }

“mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran [3]: 154)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,

{ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ }

"Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh."

maksudnya, ini sudah ditentukan takdirnya oleh Allah ‘Azza wa Jalla yang siapapun tidak akan bisa lari darinya.

Firman Allah,

{ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ }

“untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu”

Maksudnya, mengujimu dengan apa yang menimpamu untuk memisahkan yang buruk dengan yang baik dan agar nampak orang yang mukmin dan yang munafik dari sisi perkataan dan perbuatan.

{ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ }

“Allah Maha Mengetahui isi hati.”

Maksudnya, Allah maha mengetahui rahasia dan perasan yang tersimpan dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

{ الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ }

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar."Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 168-170)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah,

{ الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا }

maksudnya, seandainya mereka mendengarkan saran kami kepada mereka agar duduk-duduk saja dan tidak pergi berjihad mereka tidak akan terbunuh bersama orang yan terbunuh. Allah Ta’ala berfirman,

{ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }

maksudnya, jika dengan duduk-duduk tidak berjihad seseorang bisa selamat dari terbunuh dan kematian maka seharusnya kalian tidak akan mati. Padahal kematian pasti datang menjemput kalian sekalipun kalian bersembunyi di balik benteng yang kokoh. Lindungilah diri kalian dari kematian jika kalian orang-orang yang jujur. Mujahid berkata, dari Jabir bin Abdullah, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul.’.”

Ibadah Ketiga: I’dad Fie Sabilillah

Di antara ibadah yang banyak ulama terhalangi dari melaksanakannya di masa kini adalah i’dad Fie Sabilillah. Allah Ta’ala berfirman,

(وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ).

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Ibnu An-Nuhas berkata, “Sebagian ulama berpendapat wajibnya belajar melempar (kalau sekarang menembak) berdalil dengan ayat ini.”

Syaikh As-Sa’diy berkata,

{ وَأَعِدُّوا }

“Dan siapkanlah” untuk musuh-musuh kalian yang selalu berusaha membinasakan kalian dan membatalkan dien kalian.

{ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

“kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” maksudnya, setiap apa yang kamu sanggupi berupa kekuatan akal, badan, berbagai macam senjata dan sebagainya yang bisa membantu memerangi musuh. Masuk ke dalamnya juga berbagai macam keahlian yang mempelajari berbagai macam senjata, alat perang, peluru, senapan, pilot pesawat, pesawat udara, kapal laut, pembuatan benteng yang kokoh, pembuatan parit-parit perlindungan, alat-alat bela diri, ide-ide brilian, dan kebijakan yang dengan semua itu kaum muslimin bisa maju membela diri dari kejahatan musuh-musuhnya. Demikian juga wajib mempelajari cara menembak, bagaimana menjadi pemberani dan bagaimana mengatur strategi perang. Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

{ ألا إن القوة الرَّمْيُ }

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar.”(Yang dimaksud dengan melempar di sini, adalah melempar senjata secara umum,pent)

Termasuk juga, mempersiapkan diri menguasai kendaran-kendaran yang dibutuhkan ketika perang. Allah Ta’ala berfirman,

{ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ }

“dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” ini adalah illat (alasan) yang ada pada zaman itu, yaitu menggentarkan (menakut-nakuti) musuh. Hukum itu selalu berputar bersama illatnya (alasannya).

Apabila ada sesuatu yang bisa lebih berefek menggentarkan musuh darinya, seperti tank-tank dan pesawat-pesawat tempur yang disiapkan memang untuk berperang yang dengannya lebih bisa menghajar musuh, maka kamu diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan mempelajarinya. Sampai apabila itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan mempelajari industri cara pembuatannya maka itu juga wajib dipelajari, karena sesuatu yang apabila suatu kewajiban yang tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengannya maka ia juga wajib dilakukan.

Dan firman Allah,

] تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ [

“kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu”

Yaitu orang-orang yang kalian tahu mereka adalah musuh kalian.

]وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ [

“dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya”

Yaitu orang-orang yang akan memerangi kalian setalah waktu ini yang Allah firmankan dengan firman-Nya,

] اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ [

“sedang Allah mengetahuinya”

Oleh karena itu Allah memerintahkan mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka. Dan termasuk yang membantu dalam memerangi mereka adalah dengan mengerahkan dana-dana kaum muslimin untu berjihad memerangi orang-orang kafir.”

Dan dalam shahih Muslim, dari `Uqbah bin `Amir, dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di atas mimbar: (Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar.”

Ibadah Keempat: Hijrah fie sabilillah:

Allah Ta'ala berfirman,

{ وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } .

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 100)

Syaikh As-Sa’diy berkata, “Ayat ini menjelaskan anjuran dan motivasi untuk berhijrah dan menjelaskan kemaslahatan-kemaslahatannya. Lalu Allah menjanjikan bahwa orang yang hijrah di jalan-Nya demi meraih ridha-Nya niscaya akan mendapatkan muraghaman yang banyak dan luas. Muraghaman adalah kata yang artinya mencakup kemaslahatan dien dan keluasan dalam kemaslahatan dunia. Hal itu karena banyak orang salah paham bahwa dengan hijrah maka urusannya akan menjadi kacau balau, menjadi fakir setelah sebelumnya kaya, menjadi hina setelah sebelumnya mulia, dan menjadi sulit (sempit) hidupnya setelah sebelumnya hidupnya berkelapangan. Padahal tidak seperti yang ia bayangkan. Selama seorang mukmin hidup bersama orang-orang musyrik maka dalam diennya pasti ada kekurangan, bukan hanya pada ibadah yang terbatas pada dirinya sendiri seperti shalat dan sebagainya, tapi juga pada ibadah-ibadah yang kemanfaatanya untuk orang lain seperti jihad dengan ucapan dan perbuatan serta akibat-akibat ibadah tersebut. Hal itu karena ia tidak bisa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut sementara ia dalam keadaan terfitnah diennya, terutama apabila ia dalam kondisi mustadh’af (lemah tertindas). Apabila ia hijrah fie sabilillah maka ia akan mampu menegakkan dien Allah dan berjihad memerangi musuh-musuh Allah dan membuat mereka marah (muraghamah). Muraghamah adalah ungkapan yang mencakup setiap ucapan dan perbuatan yang bisa membuat marah musuh-musuh Allah. Juga mencakup apa saja yang bisa menjadikan keluasan rizkinya. Dan semuai itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dikhabarkan Allah Ta’ala. Pelajaran akan hal itu dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ketika mereka berhijrah fie sabilillah, meninggalkan kampung halaman, anak-anak, dan harta benda mereka karena Allah, maka dengan itu sempurnalah iman mereka dan mereka mendapatkan iman yang sempurna, jihad yang agung, serta kemenangan bagi dien Allah, yang dengan itu mereka menjadi panutan bagi orang-orang yang hidup setelah mereka. Mereka juga bisa melakukan penaklukan-penaklukan dan mendapatkan ghanimah sebagai akibat dari hijrahnya, yang dengan itu mereka menjadi manusia-manusia yang paling kaya. Demikian juga apa yang akan didapatkan orang-orang yang melakukan apa yang mereka lakukan, mereka akan mendapatkan apa yang mereka dapatkan sampai hari kiamat.”

Ibadah Kelima: Hirasah (berjaga-jaga) fie Sabilillah

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( عينان لا تمسهما النار : عين بكت من خشية الله وعين باتت تحرس في سبيل الله ) رواه الترمذي

“Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang semalaman berjaga-jaga fie sabilillah.” (HR. Tirmidzi)

Abdullah bin Amrradhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sungguh, aku begadang semalaman berjaga-jaga fie sabilillah dalam keadaan takut lebih aku sukai daripada aku sedelah seratus onta tunggangan.”

Ibnu An-Nuhas berkata, “Ketahuilah bahwaberjaga-jaga fie sabilillah termasuk qurbah yang paling agung dan ketaatan yang paling tinggi. Ia adalah ribat yang paling utama. Setiap orang yang berjaga-jaga menjaga kaum muslimin pada suatu tempat yang dikhawatirkan musuh akan menyerang dari tempat itu maka ia adalah murabit (orang yang sedang ribat).

Lebih Utama dari Lailatul Qadar

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(ألا أنبئكم ليلة أفضل من ليلة القدر؟ حارس حرس في أرض خوف لعله أن لا يرجع إلى أهله.) رواه الحاكم وقال صحيح على شرط البخاري.

“Maukah kalian kuberitahu suatu malam yang lebih utama dari malam lailatul qadar? Malam itu adalah malam yang dilalui seorang yang berjaga-jaga di suatu tempat yang dipenuhi ketakutan yang bisa jadi ia tidak akan kembali lagi kepada keluarganya.” (HR. Al-Hakim. Ia berkata, “Shahih menurut syarat Bukhari.”)

Ibadah Keenam: Ghadwah wa Rawhah fie Sabilillah

Di antara ibadah-ibadah yang banyak ulama masa kini terhalang dari melaksanakannya adalah ‘Ghadwah wa Rawhah fie Sabilillah.’

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لغدوة في سبيل الله أو روحة خير من الدنيا وما فيها) رواه مسلم.

“Sungguh, ghadwah fie sabilillah atau rawhah fie sabilillah lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ghadwah adalah berjalan dalam rentang waktu pagi hari sampai tergelincir mata hari. Rawhah adalah berjalan dalam dalam rentang waktu dari tergelincir matahari sampai sore hari. Kata ‘atau’ di sini berfungsi untuk membagi, bukan karena keraguan-raguan periwayat. Jadi makna hadits tersebut adalah: bahwa rawhah dan ghadwah sama-sama menghasilkan pahala. Dari zhahir hadits pahala akan diraih tidak terbatas pada ghadwah dan rawhah dari negara tempat tinggalnya saja, tapi pahala akan didapatlan dengan setiap ghadwah dan rawhah dalam perjalanannya menuju medan perang. Demikian juga setiap ghadwah dan rawhah di medan perang, karena semuanya sama-sama disebut ghadwah dan rawhah fie sabilillah. Makna hadits ini adalah bahwa keutamaan dan pahala ghadwah dan rawhah fie sabilillah lebih baik daripada seluruh kenikmatan dunia seandainya itu semua dimiliki manusia dan membayangkan menikmati semuanya. karena semua itu pasti akan sirna sedangkan kenimatan akhirat akan kekal abadi.”

Jihad itu Seperti Pasar

Ketahuilah bahwa jihad itu seperti pasar yang memiliki banyak pintu pahala. Seolah-olah di dalamnya terdapat pasar-pasar yang lain. Barang siapa yang mengharamkan dirinya dari jihad sungguh ia telah mengharamkan dirinya dari pintu-pintu kebaikan yang besar dan pahala yang besar dari amal shalih.

Adapun keutamaan-keutamaan yang tidak didapatkan orang yang duduk-duduk tidak berjihad sangat banyak, di antaranya:

Keutamaan pertama: seratus derajat yang didapatkan mujahidin fi sabilillah di surga

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من آمن بالله وبرسوله وأقام الصلاة وصام رمضان كان حقا على الله أن يدخله الجنة جاهد في سبيل الله أو جلس في أرضه التي ولد فيها،

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadhan maka Allah wajib memasukkannya ke surga, baik ia berjihad fie sabilillah atau hanya duduk-duduk di negeri tempat ia dilahirkan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami berikan kabar gembira ini kepada manusia?”

Beliau menjawab,

إن في الجنة مائة درجة أعدها الله للمجاهدين في سبيل الله ما بين الدرجتين كما بين السماء والأرض فإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة أراه فوقه عرش الرحمن ومنه تفجر أنهار الجنة.

“Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang disiapkan Allah untuk mujahidin fie sabilillah. Jarak antara dua derajatnya sebagaimana jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah mintalah kepada-Nya surga firdaus. Karena ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Aku melihat Arsy Allah ada di atasnya dan darinyalah mengalir sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, “Kedudukan mujahid di surga sangat tinggi sejarak 50 ribu tahun.”

Keutamaan kedua: kemuliaan orang mati syahid di sisi Allah

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

(( ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد ، يتمنى أن يرجع إلى الدنيا ، فيقتل عشر مرات ؛ لما يرى من الكرامة )) .

“Tidak ada seorangpun yang masuk surga yang ingin kembali lagi ke dunia -sementara ia memiliki segala apa yang ada di muka bumi- kecuali orang yang di dunia mati syahid; ia ingin kembali lagi ke dunia, ingin terbunuh sepuluh kali lagi, karena ia melihat kemuliaan yang didapatkannya di surga.”

Dalam salah satu riwayat, “Karena melihat keutamaan mati syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

Coba bayangkan wahai saudaraku tercinta, bahwa para ulama, fuqaha, ahli hadits, khathib, da’i, ahli ibadah, dan orang shalih dengan segala tingkatannya tidak ada satupun dari mereka yang berkeinginan kembali lagi ke dunia kecuali orang yang mati syahid karena ia melihat keutamaan dan kemuliaan mati syahid di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Kemuliaan yang didapatkan orang mati syahid tidak bisa dibayangkan akal atau digambarkan dengan goresan pena.”

Ia sangat ingin kembali lagi ke dunia bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi sepuluh kali (ini membuat geram orang yang mengatakan bahwa jihad adalah mahraqah (tempat membakar / dihabisinya para pejuang Islam) padahal Allah ta’ala berfirman,

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ }

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (QS. Ash-Shoff [61]: 10)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kemudian Dia menafsirkan perniagaan agung yang tidak akan merugi dan yang menghasilkan maksud dan menghilangkan halangan, maka Dia berfirman,

{ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ }

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shoff [61]: 11)

Yaitu, dari perniagaan dunia dan bekerja keras serta mati-matian hanya untuk itu.

Kemudian Dia melanjutkan,

{ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ }

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ash-Shoff [61]: 12)

Maksudnya, jika kalian melakukan apa yang Aku perintahkan dan tunjukkan kepada kalian maka akan Kuampuni kesalahan-kesalahan kalian dan akan Kumasukkan kalian ke dalam surga dan tempat-tempat tinggal yang baik dan derajat-derajat yang tinggi.

Oleh karena itu Dia melanjutkan,

{ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ }

“dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shoff [61]: 12).”

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(( ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد ، يتمنى أن يرجع إلى الدنيا ، فيقتل عشر مرات ؛ لما يرى من الكرامة ))

“Tidak ada seorangpun yang masuk surga yang ingin kembali lagi ke dunia -sementara ia memiliki segala apa yang ada di muka bumi-kecuali orang yang di dunia mati syahid; ia ingin kembali lagi ke dunia, ingin terbunuh sepuluh kali lagi, karena ia melihat kemuliaan yang didapatkannya di surga.”

Ini bukan keadaan orang yang terbakar api. Orang yang terbakar api tidak ingin terbakar api lagi bahkan ia ingin sehat wal afiat. Pendapat jihad adalah mahraqah tidak lain adalah tahrif lilkalim (menyimpangkan makna firman Allah) dari makna sebenarnya dan berpendapat atas nama Allah tanpa ilmu, makar terhadap dien dan pemeluknya serta membuat mereka tidak mendapatkan keutamaan agung. Dan ini sama dengan kejahatan perampok, pencuri perbekalan, dan bentuk bantuan kepada para pencuri dari kalangan jin dan manusia yang mencuri perbekalan umat Islam. maka tidak ada perbekalan kecuali perbekalan akhirat. Tidak ada keselamatan kecuali keselamatan akhirat. Itu juga termasuk menghalang-halangi dari jalan Allah dan ini kerjaan Ibnu Ubay (gembong munafik) dan gengnya, yaitu melemhakan semangat untuk berperang fie sabilillah dan menggembosi umat Islam serta membuat kekacauan di tengah mereka. Kami berlindung kepada Allah dari ditelantarkan Allah dan dijauhkan dari Allah.

Keutamaan ketiga: keistimewaan orang mati syahid

Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

للشهيد عند الله سبع خصال : يغفر له في أول دفعة من دمه، ويرى مقعده من الجنة، ويحلى حلة الإيمان، و يزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، و يجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار الياقوتة منه خير من الدنيا و ما فيها، ويشفع في سبعين إنسانا من أهل بيته

“Orang mati syahid memiliki tujuh keistimewaan di sisi Allah: diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama kali, diperlihatkan tempat duduknya di surga, diberi hiasan iman, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dilindungi dari siksa kubur, diamankan dari hari ketakutan akbar, disematkan di kepalanya mahkota permata kemuliaan yang satu permatanya saja lebih baik dari dunia seisinya dan bisa memberikan syafa’at pada tujuh puluh anggota keluarganya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan lain-lain)

Pertanyaannya:

Seandainya ada dua orang mati, yang satu di halaqah ilmu dan yang satunya terbunuh di peperangan fie sabilillah. Apakah kita bisa mengatakan, sesungguhnya yang mati di halaqah ilmu mengambil keistimewaan orang mati syahid yang disebutkan dalam hadits ini? Sebagaimana yang didapat orang yang terbunuh di medan perang? Ini adalah masalah ghaib yang bukan wilayah ijtihad atau berpendapat. Namun yang menjadi tempat rujukan adalah Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ternyata tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan bahwa yang mati di halaqah ilmu akan mendapatkan keistimewaan-keistimewaan yang akan didapatkan orang yang mati syahid!

Sebagian orang ingin engkau terhalangi dari semua ini agar ia tetap menjadi Syaikh (gurumu) dan kelak di hari kiamat ia akan berlepas diri darimu jika kamu tahu pendapatnya dan engkau mengambil sarannya padahal engkau telah meninggalkan nash yang jelas dan meyakinkan dari hadits Rasulullah, lalu mana orang mendulang keuntungan wahai orang miskin (orang yang kasihan). Berpegang teguhlah dengan petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan dengan setiap apa yang berasal dari beliau. Itu adalah jalan keterjagaan dan keselamatan. Adapun selain itu hanyalah fatamorgana di tanah kosong yang disangka air oleh orang yang sedang kehausan.

Keutamaan keempat: Para Nabi Unggul dariOrang yang Mati Syahid HanyaKarena Keutamaan Kedudukan Sebagai Nabi

Dari Utbah bin Abd As-Sulamiy radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(القتلى ثلاثة رجل مؤمن جاهد بنفسه وماله في سبيل الله حتى إذا لقي العدو وقاتلهم حتى يقتل فذلك الشهيد الممتحن في جنة الله تحت عرشه لا يفضله النبيون إلا بفضل درجة النبوة....)

“Orang terbunuh ada tiga. Seorang mukmin berjihad dengan nyawa dan hartanya di jalan Allah sampai apabila ia bertemu musuh dan memerangi mereka sampai terbunuh maka itulah orang mati syahid yang teruji di surga Allah di bawah arsy-Nya. Tidaklah para nabi unggul darinya kecuali karena keutamaan derajat kenabian ... .” (HR. Ahmad dengan isnad jayyid (baik), HR. Thabrani dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan redaksi darinya).

Banyak dari kita yang membaca hadits semacam ini, namun membacanya hanya selintas laksana orang lewat, tanpa merenungkan redaksinya dan tidak memperdalam kandungan maknanya. Lihatlah sabda beliau [tidaklah para nabi unggul darinya kecuali karena keutamaan derajat kenabian]. Ini berarti mereka dari golongan shiddiqin. Karena Allah Ta'ala berfirman,

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء/69]،

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 69)

Berbahagialah jika engkau menjadi seorang shiddiq plus syahid.

Namun ada sebagian orang yang ingin menjadikanmu bersama dengan orang-orang yang absen dan duduk-duduk berpangku tangan dari jihad serta meninggalkan derajat yang dengannya engkau bisa berada dekat dengan derajat para nabi. Tetapi mereka justru bahagia dan nyaman dalam kondisi seperti itu. Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Keutamaan Kelima: Lebih Utama daripada Ibadah Tujuh puluh tahun

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuia berkata, Ada salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewati suatu celah bukit yang padanya terdapat air tawar. Ia pun menyukainya. Ia berkata, Seandainya saya memisahkan diri dari manusia lalu saya tinggal di tempat ini. Tapi saya tidak akan melakukan ini sebelum minta ijin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Beliau bersabda,

(لا تفعل؛ فإن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما، ألا تحبون أن يغفر الله لكم، ويدخلكم الجنة ؟ أغزوا في سبيل الله ، من قاتل في سبيل الله فواق ناقة وجبت له الجنة)

“Jangan kamu lakukan. Karena tempat berdiri salah seorang dari kalian di jalan Allah lebih utama daripada shalatnya di rumahnya sendiri selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kalian suka Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke surga? Berperanglah di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah selama waktu memeras susu onta maka ia pasti masuk surga.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, Hadits Hasan)

Sangat jauh sekali bedanya antara nasihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat ini dan antara nasihat-nasihat sebagian orang di masa kita ini yang kata-katanya, kebiasaannya, sumber dananya dan kerjaannya memalingkan dan menghalangimu dari jihad dan jalan kebenaran yang lurus.

Siapa yang engkau ikuti wahai saudaraku se-Islam?

Siapa teladanmu?

Allah Ta'ala berfirman,

{ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Keutamaan keenam: Syuhada terbaik

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

(أفضل الشهداء الذين يقاتلون في الصف الأول فلا يلفتون وجوههم حتى يقتلوا أولئك يتلبطون في الغرف العلى من الجنة يضحك إليهم ربك فإذا ضحك ربك إلى عبد في موطن فلا حساب عليه )

“Syuhada terbaik adalah yang berperang di barisan terdepan, mereka tidak menolehkan wajahnya sampai terbunuh. Mereka bergulingan merasakan kenikmatan di kamar-kamar tertinggi di surga. Rabbmu tertawa kepada mereka. Apabila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba pada suatu kesempatan maka hamba tersebut tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad)

Keutamaan ketujuh: Rumah terbaik di surga milik syuhada

Dari Samurah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رأيت الليلة رجلين أتياني فصعدا بي الشجرة فأدخلاني دارا هي أحسن وأفضل لم أر قط أحسن منها قالا أما هذه الدار فدار الشهداء.

“Tadi malam saya melihat dua orang lelaki yang mendatangiku. Mereka berdua membawaku naik pohon, lalu mereka memasukanku ke sebuah rumah yang saya belum pernah melihat rumah yang lebih bagus dan lebih baik darinya. Kedua lelaki itu berkata, ‘rumah ini adalah rumah para syuhada.’” (HR. Bukhari)

Cahaya di atas cahaya

Setelah penjelasan akan keutamaan dan buah-buah yang agung dari jihad di atas, tidakkah engkau rindu untuk datang ke bumi jihad dan ribat? Bumi keperkasaan dan kemuliaan, bumi penebusan dan pengorbanan. Sehingga engkau lebih dekat untuk meraih kesyahidan yang merupakan cita-cita Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Alangkah indah, manis dan bagus apabila engkau bisa mengumpulkan antara jihad fi sabilillah dengan menghafal Al-Qur’an, menuntut ilmu, qiyamul lail, puasa di siang hari, dakwah kepada Allah, akhlak yang baik dan mengikuti sunnah.

Renungkan dengan baik ayat-ayat berikut ini:

Allah Ta'ala berfirman,

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Maaidah [5]: 54)

Allah Ta'ala berfirman,

{ مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ }

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 5-6)

Wal hamdu lillaahi rabbil ‘alamin

Doakan saudara-saudara kalian para mujahidin

Saudara-saudara kalian

Di Pusat Media Al-Fajr

1431 H – 2010 M

[1]Catatan: yang dimaksud mengungguli yang kami kehendaki di sini adalah mengungguli yang bersifat relatif, tidak dalam segala hal. Karena para ulama telah mengungguli sebagian mujahidin dalam hal menuntut ilmu, menghafal dan menyebarkannya. Namun kami hanya ingin menjelaskan sebagian ibadah yang agung yang ditinggalkan dan tidak diamalkan ulama di masa kini. Padahal mereka mengetahui keutamaan dan urgensinya. Namun mereka terhalang dari mengamalkannya.

Siapakah Syaikh Al Battar yang namanya dijadikan nama Mu'askar di Saudi?

Siapakah Syaikh Al Battar yang namanya dijadikan nama Mu'askar di Saudi?

Nama : Syaikh Al Hafidh Yusuf bin Sholih bin Fah-d Al 'Uyairi

Lahir : hari senin 1/4/1394 H

Anak : 3 orang anak perempuan.

Syahid : beliau syahid di tangan tentara thoghut Saudi pada hari sabtu malam ahad 30/3/1424 H di daerah Hail. Umur beliau ketika syahid adalah 30 tahun. Semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Beliau menikah dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shoq'abi, Buroidah. Istrinya adalah saudara kandung dari istri Syaikh Sulaiman Al 'Unwan.

Pendidikan: beliau setelah menamatkan madrasah mutawassithoh (SLTP) melanjutkan ke madrasah tsanawiyah (SLTA) selama tiga bulan. Kemudian beliau tinggalkan sekolah dan pergi berjihad ke Afghanistan.[1]

Setelah itu beliau pergi ke Afghanistan sebagai seorang pemuda yang perkasa sementara umurnya belum lewat 18 tahun. Di sanalah akhirnya jihad berbaur dengan hatinya dan menguasai seluruh anggota badannya.

Beliau dikaruniai otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat sehingga setelah itu beliau mampu menjadi salah satu pelatih di kamp Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.

Beliau menyelesaikan latihan selama beberapa tahun, di mana beliau memiliki kelebihan dalam kemauan yang kuat dan kesungguhan. Sampai-sampai beliau pernah mengadakan sebuah training di kamp Al Faruq, di mana ketika itu beliau mengatakan kepada ikhwah yang lain: Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat. Beliau mengatakan kepada ikhwah: Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan. Menurut perkiraanku beliau memulai dengan latihan tank dan akan diakhiri setelah empat bulan kemudian dengan latihan pistol, di mana tidak akan ada seorangpun yang mampu bertahan kecuali sedikit dari para pemuda.

Para ikhwah menceritakan bagaimana hafalan beliau yang sangat luar biasa mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Selain itu beliau memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan yang beliau temui dalam berbagai pertempuran yang dengannya Alloh muliakan beliau dengan debu peperangan yang menempel pada kedua kaki beliau.

Ketika terjadi pertikaian antar kelompok jihad Afghan, Syaikh Yusuf adalah penjaga pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh. Kemudian tatkala Syaikh Usamah memutuskan untuk pergi ke Sudan dengan menggunakan sebuah pesawat, Syaikh Yusuf termasuk salah seorang petinggi Al Qaeda yang menyertai Syaikh Usamah bin Ladin. Di sana Syaikh Yusuf tinggal selama empat bulan, dan selama itu pula beliau menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh.

Selama masa itu Syaikh Usamah mengenal berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Syaikh Yusuf Al 'Uyairi, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepada Syaikh Yusuf beberapa urusan-urusannya. Dan sungguh aku ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai Syaikh Usamah di Sudan, bagaimana kehidupan beliau, jihad beliau dan pengorbanan beliau, di mana banyak sekali yang menjadikan orang terkagum-kagum ketika mendengarnya. Ketika aku mendengarkan cerita beliau ini aku lihat pada kedua matanya terpancar kerinduan kepada Syaikh Usamah dan kepada hari-hari yang telah lalu ..

Aku juga ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai kecemerlangan Abu Hafsh Al Mishri rohimahulloh dan berbagai serangan-serangan militer yang beliau kendalikan di sana, baik yang di Somalia atau proyek beliau terhadap Qorniq (kaum nasrani di wilayah selatan) dan perencanaan beliau untuk menyerang mereka sesuai dengan taktik militer yang telah dicanangkan oleh Syaikh Usamah dan Abu Hafsh.

Syaikh Yusuf juga ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Dan beliau termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, di mana pada masa itu para pemuda Islam seusia beliau tengah lalai dengan kondisi umat.

Dan ketika terjadi tragedi Bosnia, Syaikh Yusuf memiliki peran yang sangat besar bersama para ikhwah di Damam, dan demikian pula di Kosova. Beliau berperan sebagai pengumpul dana untuk mereka dan memberikan bantuan kepada mereka semampu beliau. Beliau membuat sebuah program selama dua minggu bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.

Kemudian terjadi peledakan di Khobar. Beliaupun dipenjara dan disiksa dengan siksaan yang keras di penjara reserse umum, Damam, dengan tuduhan beliau termasuk orang-orang yang melakukan peledakan tersebut. Para ikhwah yang bersama beliau bercerita tentang beliau: Kami lihat beliau diangkut memakai usungan setiap kali selesai diintrogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang beliau alami. Beliau dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya yang menyebabkan akhirnya Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudi bahwa dialah yang melakukan peledakan.

Syaikh Yusuf rohimahulloh mengatakan kepadaku: Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, aku meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena aku ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar saja, permintaanku dikabulkan. Akupun dipanggil dari sel dan aku didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan aku sampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, pemimpin penjara itu mengatakan kepadaku: Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu …

Maka dengan dingin aku katakan kepada mereka: Aku tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi aku akan merelakan diriku untuk kalian. Aku akan memberikan pengakuan bahwa akulah yang melakukan peledakan itu dan aku siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku. Ketika aku tanyakan kepada Syaikh Yusuf kenapa beliau melakukan hal itu, beliau menjawab: Demi Alloh kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan. Syaikh Yusuf melanjutkan: Ketika aku selesai berbicara pimpinan penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan: Keluarkan dan beri pelajaran dia!..

Kemudian penyiksaan yang luar biasa pun terus berlanjut sampai akhirnya Alloh berkenan untuk menyingkap siapa aktor peledakan yang sebenarnya sesuai pengakuan reserse. Syaikh Yusuf bercerita kepadaku: Suatu saat aku dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku: Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rofidloh (Syi'ah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun..!! Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel.

Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka: Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!! Benar saja, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan syariat Saudi ..

Kemudian setelah itu Syaikh Yusuf tinggal di penjara. Di mana beberapa waktu pernah beliau dikumpulkan bersama orang-orang Rofidloh (Syi'ah) yang diantaranya ada yang setingkat ayatulloh atau sayyid. Di sana Syaikh Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan mereka sampai-sampai ayatulloh mereka melarang orang-orang Rofidloh lainnya untuk mendekatinya atau bergaul dengannya. Syaikh Yusuf berkata: Pernah suatu saat aku pura-pura tidur. Lalu ayatulloh mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rofidloh lainnya. Lalu aku dengarkan ceramahnya sampai ketika aku mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya .. Mereka semua terkagung dengan Syaikh Yusuf karena kuatnya hujjah dan penjelasan beliau.

Setelah itu Syaikh Yusuf dipindah ke penjara umum bersama Ahlus Sunnah. Setelah berjalan beberapa waktu Syaikh Yusuf mogok makan karena beliau ingin disel (penjara individu) saja supaya beliau dapat menggunakan waktu secara maksimal dan dapat menyendiri dengan Robbnya. Maka permintaannyapun dipenuhi sehingga beliau tinggal di dalam sel selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu beliau bebas …

Katika aku bertanya kepada Syaikh Yusuf mengenai kehidupannya di sel dan apakah beliau merasa bosan? Beliau menjawab dengan satu kata: Demi Alloh aku tidak memiliki waktu untuk mandi kacuali mandi janabat dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!..

Di sel beliau gunakan waktu untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiyah. Maka beliau hafal Al Qur'an secara lancar dan tepat, hafal Shohih Al Bukhori dan Muslim, beliau konsentrasi membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama', sehingga pada suatu hari pernah seorang penjaga mengatakan kepada beliau: Demi Alloh aku kasihan dengan kondisimu ..?!

Maka Syaikh Yusuf mengatakan kepadanya: Demi Alloh justeru akulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam pasti aku setuju karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!.

Hal itu karena penjaga itu merasa heran dengan kondisi Syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Di mana beliau tidak keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak, karena saking kuatnya keinginan beliau dalam memanfaatkan waktu secara maksimal. Syaikh Yusuf pernah mengatakan kepadaku: Demi Alloh aku pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Alloh. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasanku dari penjara, tanpa sadar aku gertak dia: Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!! Itu saya lakukan di luar kesadaranku akan tetapi itu ku lakukan karena saking besarnya kenikmatan yang aku dapatkan dalam penjara, dan betapa besarnya ilmu yang ku dapatkan dalam penjara.

Dan ketika Syaikh Yusuf bebas dari penjara beliau teruskan hubungan beliau dengan jihad dan mujahidin, khususnya dengan Syaikhul Mujahidin Usamah bin Ladin hafidlohulloh.

Kemudian datanglah peristiwa Chechnya, dan beberapa saat sebelumnya peristiwa Dagestan, maka Syaikh Yusuf pun mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mereka. Beliau menulis berbagai kajian syar'i untuk situs Shoutul Jihad. Untuk situs itu beliau menulis buku-buku sebagai berikut:

Hidayatul Hayaro Fi Hukmil Usaro, Al 'Amaliyat Al Istisyhadiyah Intiharun Am Syahadah, dan juga kajian-kajian strategis lainnya di mana yang terakhir adalah yang buku yang berjudul 'Amaliyatul Masrohi Fi Moskow Wa Madza Istafada Minha Al Mujahidun.

Syaikh Yusuf juga menjalin hubungan dengan Komandan Khothob dan melakukan surat-menyurat mengenai persoalan militer. Di mana Syaikh Yusuf memberikan taktik-taktik militer yang cemerlang yang mencengangkan setiap orang yang bergaul dengannya atau membacanya … di antaranya adalah beliau pernah berkirim surat kepada Khothob seusai perang konvensional yang pertama yang kemudian disusul dengan perang gerilya, di mana ketika itu kondisi mujahidin semakin sulit. Maka Syaikh Yusuf mengirim surat kepada komandan Khothob yang isinya adalah 18 prediksi perang dan apa yang harus mereka lakukan untuk masing-masing dari yang diprediksikan tersebut. Komandan Khothob pun banyak mengambil manfaat dari surat tersebut dan berterima kasih banyak kepada Syaikh Yusuf.

Syaikh Yusuf juga memiliki andil dalam mengumpulkan dana untuk mujahidin Chechnya. Di mana beliau berhasil mengumpulkan dana yang banyak sekali. Dan dalam rangka itu, terjadilah banyak kasus yang sangat disayangkan antara beliau dengan beberapa ulama'. Di mana para ulama' tersebut mengabaikan beliau dan tidak mau membantunya. Misalnya adalah pengalaman beliau bersama Syaikh Salman Al 'Audah. Di mana ketika itu Komandan Khothob mengatakan kepada para ikhwah pada saat masih di Dagestan: Berikan satu juta dollar supaya kami dapat bertahan melawan Rusia sampai akhir musim dingin ..

Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui seorang kaya, dan orang kaya itupun bersedia untuk memberikan 8 juta real kepadanya akan tetapi dengan syarat Syaikh Salman mau membuat memo kepadanya atau menelphonya. Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui Salman Al 'Audah akan tetapi usahanya ini tidak membuahkan hasil. Syaikh Salman selalu mengulur-ulur waktu kemudian pada akhirnya mengatakan kepada Syaikh Yusuf: Sebenarnya aku ini sama sekali tidak senang dengan persoalan Chechnya.!!

Demikianlah. Syaikh Yusuf meneruskan langkah jihadnya yang penuh dengan pengorbanan dan kerja keras yang hanya sedikit saja orang yang mampu melakukannya.

Hubungan Syaikh Yusuf dengan persoalan Chechnya pun terus berlanjut. Akan tetapi semakin mengecil karena beliau tersibukkan dengan persoalan Afghanistan dan pemerintahan Tholiban. Ketika itu beliau mencurahkan kebanyakan waktunya untuk mempelajari gerakan ini dan kredibilitasnya. Kemudian datanglah hari-hari yang penuh berkah di mana patung-patung Budha di Afghanistan dihancurkan. Maka Syaikh Yusufpun memusatkan perhatiannya kepada persoalan ini dan membuat proyek-proyek buka puasa dan penyembelihan qurban di Afghanistan. Kemudian beliau menghubungi Amirul Mukminin dan para menteri Tholiban, kemudian Syaikh Yusuf berusaha untuk menghubungkan mereka semua dengan Syaikh Hamud bin 'Uqla' rohimahulloh. Pada musim haji tahun 1421 H Syaikh Yusuf bertemu dengan beberapa menteri Tholiban yang datang untuk menunaikan haji dan beliau bersama para menteri tersebut hendak membuat hubungan telephon antara Amirul Mukminin dengan Syaikh Hamud bin 'Uqla' rohimahulloh, tepatnya setelah hari-hari tasyriq jam 9 sore. Syaikh Yusuf mengatakan kepadaku: Kami berangkat meninggalkan Mekah sementara kami berpacu dengan waktu. Sementara kami tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan karena Syaikh Hamud berada di Qoshim. Sementara kami dalam keadaan kecapaian. Maka aku putuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian. Jika dia mengemudikan mobil maka aku usahakan tidur, kemudian aku mengemudikan mobil dan dia istirahat .. Kami pun terus meneruskan perjalanan sampai akhirnya aku ketiduran dan tidak terbangun kecuali ketika mobil sudah terbalik setelah menabrak onta peliharaan. Maka kamipun akhirnya gagal untuk bertemu. Dan sebenarnya selama itu telah terjadi sebuah peristiwa yang unik bersama para petugas reserse, akan tetapi atas bimbingan Alloh beliau telah bebas satu bulan sebelum peristiwa 11 september, untuk suatu perkara yang Alloh inginkan.

Dan tatkala beliau bebas dari penjara, beliau memiliki jasa yang besar dalam menulis mengenai jihad, mengupas berbagai persoalannya berdasarkan dalil syar'i, membelanya dan membantah berbagai syubhat yang disebarkan oleh para mukhodzil (pelemah semangat jihad) dan munafik. Beliau juga ikut aktif di beberapa forum paltalk dengan nama Azzam.

Syaikh Yusuf rohimahulloh sibuk untuk melatih para pemuda dan menghasung mereka agar pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan kamp-kamp latihan di sana. Beliau menerbitkan empat kaset rekaman untuk mengobarkan semangat jihad dan i'dad. Di antaranya adalah sebuah kaset rekaman yang memuat materi fikih dengan suara beliau.

Kemudian terjadi peristiwa besar dalam sejarah Afghanistan yaitu dibunuhnya komandan yang keji Ahmad Syah Mas'ud. Ketika itu kegembiraan Syaikh Yusuf tidak terbayang. Aku ingat ketika itu aku lewat di depannya lalu aku bertanya kepadanya ada informasi apa?

Beliau menjawab bahwa Syaikh Usamah mengatakan kepada para ikhwah: Siapakah yang dapat menyelesaikan Ahmad Syah Mas'ud untukku, karena dia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya. Maka beberapa ikhwah berangkat atas kesadaran mereka sendiri untuk membunuhnya dengan hanya mengharap pahala dari Alloh yang Mahamulia. Maka datanglah informasi yang menggembirakan sebagaimana yang telah kalian dengar ..

Setelah itu terjadilah serangan yang penuh berkah di Amerika, sarang kekafiran. Maka rasa-rasanya Syaikh Yusuf mau terbang lantaran senangnya. Ketika itu aku menghubungi Syaikh Yusuf, beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau sedang ada pertemuan dengan para ulama' Qoshim. Di sana ada beberapa ulama' yang mengkritisi serangan yang terjadi di Amerika itu!!

Beliau juga menceritakan kepadaku mengenai beberapa diskusi dan pertemuan dengan para ulama' tersebut yang akhirnya dapat menimbulkan dampak yang baik pada mereka dalam mendukung jihad dan mujahidin.

Setelah itu Syaikh mulai menulis bukunya yang bagus yang berjudul Haqiqotul Harbish Sholibiyah, dalam buku itu beliau mengemukakan dalil-dalil amaliyah istisyhadiyah dan membantah berbagai syubhat yang muncul seputar persoalan ini. Di dalam buku itu beliau juga menghasung umat agar bangkit dari kelalaian yang tengah kita alami. Ini merupakan buku bagus dalam persoalan ini, yang ditulis oleh Syaikh Yusuf selama sembilan atau sepuluh hari!!

Sampai-sampai tatkala buku itu sampai kepada Syaikh Usamah, beliau mengatakan kepada para ikhwah: Sepertinya buku ini telah ditulis sebelum terjadi serangan. Karena tidak mungkin buku ini ditulis secapat itu!!

Padahal aku berani bersumpah demi Alloh bahwa Syaikh Yusuf tidak menulis buku itu kecuali setelah peristiwa serang tersebut, akan tetapi beliau memang berkonsentrasi penuh sampai akhirnya beliau menyelesaikan kajian fikih, hadits dan ushul fikih ini yang tidak ada seorangpun dapat membantahnya.

Demikianlah, Syaikh Yusuf itu banyak jasanya dalam memperbanyak barisan ulama' yang mendukung serangan 11 september karena alasan-alasan ilmiyah yang beliau ungkapkan dalam buku tersebut, dengan menggunakan ungkapan yang sederhana namun serius dan sarat dengan dalil-dalil dari Al Qur'an dan Sunnah.

Dan ketika beliau selesai menulis buku tersebut, beliau langsung melakukan koreksi akhir terhadap bukunya yang berjudul Al Mizan Li Harokati Tholiban. Kemudian selesai dan beliau sebarkan.

Demikianlah tulisan-tulisannya terus bergulir ibarat air yang mengucur, yang memancarkan cahaya Al Qur'an dan Sunnah, di antaranya adalah:

1- Daurun Nisa' Fi Jihadil A'da' yang diterbitkan secara ilegal dengan menggunakan nama 'Abdulloh Az Zaid.

2- Tsawabit 'Ala Thoriqil Jihad, dalam buku ini beliau menulis prinsip-prinsip jihad yang ditulis dalam beberapa seri yang terpisah-pisah.

Juga tulisan-tulisan lainnya yang disebarkan di Markaz Ad Dirosat dan di forum-forum umum di internet.

Di antara hal yang sangat menyedihkan Syaikh Yusuf adalah para ulama' yang acuh dengan jihad, sampai-sampai pada suatu saat aku ingat ketika aku berbincang-bincang dengan beliau mengenai sikap acuh para ulama' terhadap jihad, beliau berbicara dengan kata-kata yang sangat berkesan kemudian beliau menangis!!.

Oleh karena itulah beliau menulis berbagai buku dan bantahan di mana tujuan pokok Syaikh Yusuf adalah membela kehormatan saudara-saudara kita mujahidin yang berada di daerah-daerah perbatasan (tsughur).

Beliau juga berperan aktif dalam menulis serial perang salib terhadap Irak yang diangkat di situs Ad Dirosat, di sana beliau memiliki peran yang sangat besar bahkan tulisan-tulisan beliau di sana hampir mencapai 80%.

Beliau dikaruniai Alloh dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya dalam membuat tulisan-tulisan syar'i dan analisa-analisa politik, semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang seluas-luasnya.

Memang Syaikh Yusuf sendiri telah dikenal di kalangan banyak ulama' memiliki sifat-sifat tersebut, di mana mereka mengakui bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang memiliki kelebihan dan keunggulan dalam hal itu.

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat ulet dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kasus. Seringkali beliau diuji dengan kawan dan orang yang ia cintai di medan jihad yang mati syahid, terluka dan tertawan. Akan tetapi meskipun demikian beliau tetap ridlo dengan ketetapan dan taqdir Alloh, serta pasrah kepada apa yang telah ditetapkan oleh Robbnya terhadap dirinya.

Syaikh Yusuf adalah orang yang berhati lembut, berperasaan sensitif dan cepat mengalirkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Alloh. Sungguh aku tidak akan lupa ketika beliau menceritakan Abu Hajir Al 'Iroqi yang ditahan di penjara Amerika mengenai profil dan pengorbanannya, kemudian beliau menangis terisak-isak!!.

Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu', khususnya apabila mengingatkan mengenai Alloh, akherat, jihad dan mati syahid di jalan Alloh.

Beliau juga menegaskan akan hubungan jihad dan perasaannya dengan aqidah yang benar dan dengan ilmu syar'i. Beliau mengatakan bahwa kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat laa ilaaha illalloh Muhammad rosululloh. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini. Beliau selalu mengingatkanku dengan perkataan Syaikh 'Abdulloh 'Azzam rohimahulloh mengenai hal ini: Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad. Maksudnya adalah sejumlah orang pergi ke medan jihad hanya karena terdorong emosi saja terhadap sebuah gambaran yang ia lihat berupa penyiksaan orang Islam atau pemerkosaan wanita muslimah. Emosi semacam ini memang baik akan tetapi yang lebih baik adalah hendaknya seorang mujahid itu berangkat berjihad berdasarkan sebuah keyakinan yang mendalam terhadap wajibnya menempuh jalan jihad ini dan sejauh mana hubungannya dengan aqidah tauhid, serta menghidupkan tekad untuk menyerbarkannya di tengah-tengah manusia, dan menegakkan daulah yang melaksanakan dan merealisasikan jihad.

Seluruh kenikmatan dunia ini telah terpampang di hadapan Syaikh Yusuf. Akan tetapi ia talak tiga semua itu, beliau lebih memilih untuk hidup sebagai orang yang mulia sampai ia meraih apa yang ia inginkan. Ayahnya seorang saudagar yang Alloh berikan kesuksesan. Akan tetapi Yusuf tidak memiliki perhatian terhadap dunia. Yusuf sendiri mendapatkan dukungan dan ridlo dari ayahnya terhadap kehidupan jihad yang ia pilih itu. Terlebih lagi ibunya. Ia sering kali memberikan dukungan dan pengukuhan, bahkan senantiasa memberi nasehat kepada Syaikh Yusuf agar tidak menyerahkan diri .. Sungguh demi Alloh, ia adalah seorang ibu yang mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati ..

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat tawadlu', sampai-sampai ia tidak menghargai dirinya sendiri. Dan jika engkau bersanding dengan beliau, pasti beliau meyakini bahwa engkau adalah orang yang lebih mengerti dan lebih paham daripada dirinya. Ia tidak suka untuk mendahului dalam berbicara khususnya terhadap orang yang berilmu atau seorang penuntut ilmu. Ketawadlu'annya ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya akan tetapi ini merupakan watak bawaannya yang Alloh anugerahkan kepada beliau.

Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiyah dalam semua persoalan. Jika ia berbicara mengenai ilmu syar'i tentu engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama' yang faqih. Dan apabila ia berbicara mengenai persoalan politik pasti engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu beliau juga memiliki perhatian menganai ilmu computer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer sebagaimana seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai tophographi, teghnologi dan elektronik.

Alloh berikan anugerah kepadanya untuk diterima di hadapan manusia. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya kecuali pasti orang tersebut akan mencintai Syaikh Yusuf. Aku belum pernah menemukan seorangpun yang mencela beliau dari sisi akhlaq atau karakter, akan tetapi justeru beliau diterima di hadapan manusia karena beliau memiliki akhlaq yang baik dan perilaku yang bersih, demikianlah beliau dalam pandangan kami dan hanya Alloh sajalah yang tahu. Nahsabuhu kadzalik wa la nuzakki 'alallohi ahada.

Beliau rohimahulloh senantiasa mengajak para pemuda dan mujahidin agar meninggalkan kemewahan dan kenikmatan, dan beliau mengajak mereka untuk hidup secara sederhana agar jiwa itu terbiasa untuk sabar dan memikul kesusahan di bumi jihad. Pernah selama berhari-hari beliau tidak makan kecuali sedikit padahal beliau adalah orang yang berkecukupan, akan tetapi beliau ingin membiasakan diri untuk hidup susah.

Beliau adalah orang yang dermawan, tidak merasa berat untuk memberi dan berkorban kepada saudara-saudaranya. Namun demikian beliau adalah orang yang kuat memegang amanah dan sungguh-sungguh dalam menjaga harta mujahidin yang ada di tangannya sehingga ia berikan harta itu kepada orang yang berhak atas harta tersebut.

Beliau masuk DPO Saudi atas permintaan Amerika. Mereka meminta agar beliau menyerahkan diri selama satu tahun lebih, namun beliau menolak untuk menyerahkan diri atau menghinakan diri dalam persoalan agama. Al Hamdulillah, beliau melakukan hal itu dan selama itu beliau dapat melakukan banyak jasa besar untuk Islam dan umat Islam, di mana jasa-jasa itu sewajarnya tidak dapat dilakukan kecuali dalam tempo lima tahun!!..

Aku sampaikan itu semua bukan untuk melebih-lebihkan, demi Alloh bukan. Akan tetapi ini adalah sebagai informasi mengenai apa yang aku lihat, bahkan ini hanya sebagian dari apa yang kulihat .. Pernah selama berjam-jam beliau tidak istirahat atau tidur. Bahkan terkadang selama beberapa hari beliau tidak tidur .. di dalam jadwal hariannya tidak ada waktu tidur kecuali hanya sedikit yang hanya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya.

Selama satu tahun itu beliau hidup sebagai buronan yang senantiasa waspada terhadap musuh siang dan malam. Senjatanya tidak pernah berpisah dengannya. Dia selalu siap siaga dan hati-hati.

Beliau pernah mengatakan kepadaku: Akhi, kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rosul SAW, di mana mereka hidup di Madinah dalam keadaan takut dan was-was sampai mereka dapat mengusir orang-orang Yahudi dari sana. Lalu beliau menyampaikan kepadaku perkataan seorang sahabat:

وما بنا يا رسول الله إلا الخوف وسيف أحدنا على عاتقه..

Wahai Rosululloh, tidak ada yang ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.

Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridlwanullohu 'alaihim.

Syaikh Yusuf jarang sekali melihat keluarganya --- bapak-ibunya ---. Sampai pada masa-masa terakhir ketika perburuan semakin ketat hubungan mereka terputus sama sekali. Bahkan hubungan beliau dengan ketiga puterinya juga terputus. Puterinya yang paling besar namanya adalah Maryam. Pada hari-hari terakhir beliau menulis sebuah syair yang sangat berkesan untuk mereka, yang dicantumkan dalam surat beliau sebelum beliau mati syahid dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih mati di jalan Alloh daripada ditawan oleh Thoghut Saudi, semoga Alloh menyegerakan siksaannya terhadap para thoghut itu. Dalam hal ini beliau meneladani seorang sahabat mulia ketika tertangkap musuh: Adapun aku, pada hari ini aku tidak akan mau tunduk dalam penguasaan orang kafir. Dengan begitu seolah-olah beliau mengatakan:

ولست أبالي حين أقتل iiمسلما

على أي جنب كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله وإن يشأ

يبارك على أوصال شلوٍ iiممزع

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh sebagai orang muslim …

Pada sisi mana aku tersungkur di jalan Alloh …

Itu semua hanya untuk Dzat Alloh, dan jika Ia kehendaki …

niscaya memberkati persendian-persendian tubuh yang terpotong-potong …

Abu Muhammad (Syaikh Yusuf) telah pergi meninggalkan kita, sementara beliau adalah orang yang tersembunyi dan tidak dikenal oleh banyak manusia. Namun semua itu tidak ia hiraukan selama Alloh mengenalnya. Dan semua jasa-jasanya yang besar untuk membela Islam dan membantu mujahidin kelak akan menjadi saksi bahwa beliau adalah termasuk orang pilihan dari umat Islam hari ini.

Dengan demikian berakhirlah kehidupan seorang pemuda dan seorang Syaikh dari kalangan pemuda Islam, yang terkumpul padanya berbagai keutamaan, seperti ilmu, dakwah, jihad, dan ibadah yang terbaik insya Alloh. Beliau telah meraih apa yang dirindukan oleh setiap pemuda yang mengenal jalan petunjuk, maka selamat berbahagia wahai Abu Muhammad ..

Sungguh kami menangisimu melebihi tangisan kami kepada banyak orang-orang yang kami cintai ..

Kami menangisimu dan kami berharap apa yang di sisi Alloh lebih baik untukmu ..

Namun dahulu kami mengharapkan dirimu hidup menyertai umat Islam yang malang ini, yang tidak mendapatkan orang membelanya dan menegakkan syariat Alloh pada mereka kecuali sedikit orang …

Sungguh kami takkan melupakanmu wahai Abu Muhammad ..

Demi Alloh, orang yang pernah hidup bersamamu pasti akan sulit untuk mengabaikan pengaruhmu pada kehidupannya.

Kami melihat dirimu telah berbuat sesuatu untuk membela jihad, yang tidak dapat dilakukan oleh berbagai organisasi dan orang-orang yang bekerja secara konsentrasi.

Sungguh engkau adalah teladan yang langka, semua waktumu engkau berikan untuk jihad dan mujahidin.

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad ..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad ..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad ..[2]


[1] Dari situs Syaikh Al Battar.

[2] Disadur dari majalah Shoutul Jihad edisi 1 dan 2 yang ditulis oleh Syaikh Asy Syahid 'Isa bin Sa'ad Al 'Usyin, dengan sedikit penyesuaian.

DO’A YANG MENCAKUP KEBAIKAN DUNIA DAN AKHERAT

DO’A YANG MENCAKUP

KEBAIKAN DUNIA DAN AKHERAT

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ، وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ، وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَ جَنِّبْهُمُ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَ بَارِكْ لَهُمْ فِي أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ مَا أَبْقَيْتَهُمْ، وَ اجْعَلْهُمْ شَاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِيْهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ كِتَابَكَ وَ دِيْنَكَ وَ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَظْهِرِ الْهُدَي وَ دِيْنَ الْحَقِّ الَّذِي بَعَثْتَ بِهِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكُفَّارَ وَ الْمُنَافِقِيْنَ، الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يُبَدِّلُوْنَ دِيْنَكَ وَ يُعَادُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَللَّهُمَّ خَالِفْ كَلِمَتَهُمْ، وَشَتِّتْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ، وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَيُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ مُجْرِيَ السَّحَابِ، وَ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَهَازِمَ اَلأَحْزَابِ، اِهْزِمْهُمْ وَ زَلْزِلْهُمْ ، وَ انْصُرْنَا عَلَيْهِمْ، رَبَّنَا أَعِنَّا وَلاَ تُعِنْ عَلَيْنَا، وَ انْصُرْنَا وَلاَ تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَ لاَ تَمْكُرْ عَلَيْنَا، وَ اهْدِنَا وَ يَسِّرِ الْهُدَي لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ مُطَاوِعِيْنَ مُخْبِتِيْنَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخَائِمَ صُدُوْرِنَا

Yaa Alloh, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, kaum muslimin dan muslimat, satukanlah hati mereka, perbaikilah hubungan mereka, menangkanlah mereka atas musuhMu dan musuh mereka, berilah petunjuk mereka kepada jalan-jalan keselamatan, dan keluarkanlah mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan jauhkanlah mereka dari perbuatan-perbuatan keji yang lahir maupun yang batin, dan berkahilah pendengaran dan penglihatan mereka selama Engkau hidupkan mereka, dan jadikanlah mereka orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmatMu, memujiMu lantaran nikmat-nikmat tersebut, dan menerima nikmat-nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat-nikmat tersebut kepada mereka wahai Robb semesta alam. Yaa Alloh menangkanlah kitabMu, diin (agama) Mu dan hamba-hambaMu yang beriman, dan menangkanlah petunjuk dan diinul haqq (agama yang benar) yang Engkau turunkan melalui Nabi Kami Muhammad SAW di atas semua diin (agama). Yaa Alloh siksalah orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang menghalang-halangi dari jalanMu dan merubah diin (agama) Mu, dan memusuhi orang-orang beriman. Yaa Alloh cerai-beraikan kesepakatan mereka, perselisihkanlah hati mereka, dan jadikanlah kehancuran mereka pada usaha mereka, dan turunkanlah bencana kepada mereka. Yaa Alloh turunkanlah siksaanMu yang tidak ada yang bisa menolaknya dari orang-orang yang jahat. Yaa Alloh, yang menjalankan awan, yang menurunkan kitab, yang menghancurkan pasukan yang bersekutu, hancurkanlah mereka dan goncangkanlah mereka, dan menangkanlah kami atas mereka. Wahai Robb kami, tolonglah kami dan janganlah Engkau tolong orang yang memusuhi kami, menangkanlah kami dan jangan Engkau menangkan orang yang memusuhi kami, buatkanlah makar untuk membela kami dan jangan Engkau buatkan makar orang yang memusuhi kami, dan berilah petunjuk kepada kami, dan mudahkanlah kami dalam mendapatkan petunjuk, dan menangkanlah kami terhadap orang yang menganiaya kami. Wahai Robb kami, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur, taat, tunduk, banyak berdo’a dan banyak bertaubat kepadamu. Wahai Robb kami, terimalah taubat kami, sucikanlah dosa kami, kokohkanlah hujjah jami, berilah petunjuk hati kami, luruskanlah lidah-lidah kami dan cabutlah kedengkian yang ada di dalam dada-dada kami.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Lafadh do’a ini diriwayatkan oleh At Tirmidziy dengan sanad tunggal, dan ia menshohiihkannya, dan ini adalah termasuk do’a yang paling mencakup kebaikan dunia dan akherat, dan do’a ini ada penjelasannya yang sangat agung.” (Al Fataawaa, Kitaabul Jihaad, dalam surat beliau kepada para sahabatnya ketika beliau berada di penjara Iskandariyah)