Selasa, 22 November 2011

Loyalitas Terhadap Orang-orang Beriman ( الوَلَاءُ لِلمُؤْمِنِينَ )

Naskah Tarjamah Ini Diterbitkan Oleh

Forum Jihad al-Tawbah

Di tarjamah oleh

Muharridh Muhibbul Haq


بسم الله الرحمن الرحيم

نُخْبَةُ الإِعْلامِ الجِهَادِيِّ

Media Jihad “Nukhbah”

قِسْمُ التَّفْرِيغِ وَالنَّشْرِ

Divisi Transkripsi dan Publikasi

تفريغ المحاضرة الصوتية

Transkrip Audio Ceramah

الوَلَاءُ لِلمُؤْمِنِينَ

Loyalitas Terhadap Orang-orang Beriman

لفضيلة الشيخ:

أبي الزُّبير/ عادل بن عبد الله العباب

حفظه الله

Oleh Fadhiilatus Syaykh

‘Adil bin ‘Abdulloh al-‘Abbaab / Abuz Zubayr

Semoga Alloh menjaganya

الصادرة عن مؤسسة الملاحم للإنتاج الإعلامي

Yang dirilis oleh Departement Produsen Informasi “as-Sahab”

11 رجب 1431 هـ

22/6/ 2010 م


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمدُ للهِ وليِّ المؤمنينَ, والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ متولي الصادقينَ ومن سارَ على نهجِه في البراءةِ من الكافرينَ, أمّا بعدُ:

Segala puji bagi Alloh wali bagi orang-orang beriman, sholawat dan salam semoga terlimpah pada Rosululloh yang menjadi wali bagi orang-orang yang jujur dan siapa saja yang berjalan di atas jalannya dalam berlepas diri dari orang-orang kafir. Adapun kemudian:

إنّ الولاءَ والبراءَ أصلٌ أصيلٌ من أُصولِ الإسلامِ, ودعامةٌ من دعائمِه, فلا يستقيمُ إسلامُ المرءِ حتى يواليَ في اللهِ ويعاديَ في اللهِ, يواليَ أهلَ الحقِّ ويعاديَ أهلَ الباطلِ. والولاءُ والبراءُ شرطٌ في صحةِ الإيمانِ, كما قالَ سبحانَه وتعالَى:

Sesungguhnya al-walaa’ (loyalitas) dan al-baro’ (berlepas diri) adalah salah satu dari pokok islam dan salah satu dari penopangnya, maka tidak lurus islam seseorang hingga dia loyal karena Alloh dan bermusuhan karena Alloh. Loyal kepada ahlul haq dan memusuhi ahlul bathil. al-walaa’ (loyalitas) dan al-baro’ (berlepas diri) juga merupakan syarat sahnya iman. Sebagaimana Alloh –Yang maha tinggi-,

(تَرَى كَثِيراً مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنفُسُهُمْ أَن سَخِطَ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ*وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِالله والنَّبِيِّ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاء وَلَـكِنَّ كَثِيراً مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ).

“Kamu lihat kebanyakan mereka loyal kepada orang-orang kafir. Sungguh amat buruk apa yang disediakan jiwa mereka untuk mereka, (yaitu) kemarahan Alloh –pada mereka, dan mereka kekal dalam ‘adzab. Kalau saja mereka beriman pada Alloh, Nabi dan apa yang diturunkan padanya, (tentu) mereka tidak menjadikan orang-orang kafir itu sebagai wali, akan tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq.” (al-Ma-idah: 80-81)

والولايةُ هي النصرةُ والمحبةُ والإكرامُ والاحترامُ للمحبوبينَ ظاهرًا وباطنًا, قالَ اللهُ تعالى:

Al-wilayah (perwalian) adalah pertolongan, kecintaan, pemuliaan dan penghormatan bagi orang-orang yang dicintai secara zhohir dan secara bathin, Alloh –Yang maha tinggi- berfirman,

(اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ)

“Alloh adalah wali bagi orang-orang yang beriman, Dia keluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thoghut, mereka mengeluarkan dari cahaya kepada kegelapan.” (al-Baqoroh: 257)

والولاءُ لا يكونُ إلا للهِ تعالى ولرسولِه صلى الله عليه وسلم وللمؤمنينَ, قالَ سبحانه:

Loyalitas tidak tidak diterima kecuali pada Alloh, Rosul-Nya –semoga Alloh limpahkan sholawat dan salam baginya- dan orang-orang yang beriman. Alloh –Yang maha suci- berfirman,

(إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ*وَمَن يَتَوَلَّ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ)

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman yang menegakkan sholat, menunaikan zakat dan mereka tunduk. Dan barang siapa yang loyal kepada Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya golongan Alloh itulah yang menang.” (al-Ma-idah: 55-56)

فالولاءُ للمؤمنينَ يكونُ بمحبتِهم لإيمانِهم, ونصرتِهم والنصحِ والدعاءِ لهُم والوقوفِ معهم والرحمةِ بهم وكفِّ الأذى عنهم وإعطائِهم حقوقَ الإسلامِ وغيرِ ذلك مما يدخلُ في الولاءِ, قالَ اللهُ تعالى:

Maka loyalitas terhadap orang-orang beriman adalah dengan mencintai mereka karena iman mereka, menolong mereka, memberikan nasehat, berdoa untuk kebaikan mereka, berdiri (membela) mereka, berkasih sayang pada mereka, menahan gangguan dari mereka, memberikan hak-hak islam pada mereka, dan hal-hal lain yang termasuk dalam loyalitas. Alloh –Yang maha tinggi- berfirman,

(مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ)

“Muhammad adalah utusan Alloh (rosululloh), sedangkan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath: 29)

فموالاةُ المؤمنينَ تعني التقربَ إليهم وإظهارَ الودِّ لهم بالأقوالِ والأفعالِ والنوايا, وتعني تقديمَ النصرةِ لكلِّ متمسكٍ بالإسلامِ اعتقادًا وقولًا وعملًا, والذودَ عن عرضِه ومالِه, فأصلُ الموالاةِ الحبُّ, وأصلُ المعاداةِ البغضُ, وينشأ عنهما من أعمالِ القلوبِ والجوارحِ ما يدخلُ في حقيقةِ الموالاةِ والمعاداةِ كالنصرةِ والأنسِ والمعاونةِ وكالجهادِ والهجرةِ ونحو ذلك من الأعمالِ التي توضحُ حقيقةَ الولاءِ.

Makna muwalatul mu’miniin (loyal pada orang-orang beriman) adalah mendekat pada mereka, menampakkan kesenangan pada mereka dengan ucapan, perbuatan dan niat. Maknanya yang lain adalah menyediakan pertolongan bagi setiap orang-orang yang berpegang teguh pada islam secara keyakinan, perkataan dan amal tindakan. Juga (bermakna) mempertahankan kehormatan dan hartanya. Karena dasar loyalitas adalah cinta, sedangkan dasar permusuhan adalah kebencian. Dari keduanyalah berkembang amalan hati dan anggota badan yang masuk dalam hakekat loyalitas dan rivalitas, seperti pertolongan, keramahan dan bantuan, serta seperti jihad, hijroh, dan amal-amal semisalnya yang menjelaskan hakikat loyalitas.

ولابدَّ من إخلاصِ الولاءِ للهِ, يقولُ سبحانَه وتعالَى:

Juga harus ada ke-ikhlash-an dalam memberikan loyalitas pada Alloh. Dia –Yang maha suci lagi tinggi- berfirman,

(قُلْ أَغَيْرَ اللّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّاً فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلاَ يُطْعَمُ قُلْ إِنِّيَ أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكَينَ)

“Katakan, ‘apakah aku akan menjadikan wali selain Alloh Yang menciptakan langit dan bumi sedangkan Dia memberi makan dan tidak diberi makan?’ Katakan, ‘sungguh aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama yang masuk islam.’ Dan janganlah kamu menjadi bagian dari orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 14)

- فولاؤنا لمنْ آمنَ بالله ربًّا وبالإسلامِ دينًا وبمحمدٍ صلى الله عليه وسلم نبيًّا.

- Maka loyalitas kita bagi siapa saja yang beriman pada Alloh sebagai robb, pada islam sebagai diin dan pada Muhammad –semoga Alloh limpahkan sholawat dan salam baginya- sebagai nabi.

- ولاؤنا للمؤمنِ الذي يعبدُ اللهَ وحدَه لا شريكَ له ويتّبع النبيَّ في جميعِ أقوالِه وأفعالِه.

- Loyalitas kita bagi orang beriman yang beribadah pada Alloh semata tanpa ada sekutu bagi-Nya dan mengikuti Nabi dalam seluruh perkataan dan perbuatannya.

- ولاؤنا لمن اتخذَ القرآنَ منهجًا وسلوكًا.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang menjadikan al-Qur-an sebagai manhaj dan jalan.

- ولاؤنا لمن يسعى لتحكيمِ الشريعةِ ونادى بتطبيقِها وعملَ جادًّا لترسيخِها في أوساطِ الناسِ.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang berusaha untuk berhukum pada syari’ah, menyeru untuk menerapkannya dan serius untuk menanamnya dengan kokoh di tengah-tengah manusia.

- ولاؤنا لمن يريدُ استرجاعَ الخلافةِ الإسلاميةِ ونبذِ العلمانيةِ وحاربها.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang ingin mengembalikan khilafah islamiyyah, serta menolak dan memerangi sekulerisme.

- ولاؤنا لمن رفعَ لواءَ الإسلامِ وقامَ بنشرِه في جميعِ البلدانِ وحملَ همّه, فعلّم الناسَ التوحيدَ وحذّرهم من الشركِ ليعبدُوا اللهَ الغفورَ الشكورَ ويهدمُوا شركَ القبورِ والقصورِ.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang meninggikan panji islam, menyebarkannya di seluruh negeri dan mengemban tujuannya. Lalu mengajarkan tawhid pada manusia dan memperingatkan mereka dari (bahaya) syirik agar mereka beribadah pada Alloh Yang maha pengampun lagi mensyukuri dan agar mereka hancurkan syirik qubur dan qushur (istana).

- ولاؤنا لمن تركَ الديارَ والخلانَ والأهلَ والأوطانَ نصرةً للواحدِ الديّانِ, فنصرَ المجاهدينَ في كلِّ مكانٍ, نصرَهم في العراق والشيشان والصومال والبلقان, وفي المغرب وتركستان, وفي جزيرةِ العرب وأفغانستانَ, وفي فلسطين والشام.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang meninggalkan rumah, orang-orang tercinta, keluarga dan Negara untuk menolong (agama) Alloh Yang esa lagi maha memperhitungkan, lalu dia menolong para mujaahidiin di setiap tempat, menolong mereka di ‘Iroq, Checnya, Shomalia, Balkan, Maghrib, Turkistan, Jaziroh ‘Arob, Afghonistan, Palestina dan Syam.

- ولاؤنا لمن هاجرَ ليذودَ بسنانه وكلامه عن حياضِ الإسلامِ فحفظ بيضةَ المسلمينَ وأنقذَ أطفالًا رُضّع وشيوخًا رُكّع, وقدّم الغاليَ والنفيسَ لاسترجاعِ الأقصى الحبيسِ.

- Loyalitas kita bagi siapa saja yang hijroh untuk membela telaga islam dengan gigi dan ucapannya, lalu dia jaga kebersihan kaum muslimiin dan menyelamatkan anak-anak yang masih disusui dan orang-orang tua renta. Juga dia korbankan (segala) yang mahal dan berharga untuk mengembalikan al-Aqsho yang tertawan.

- ولاؤنا للمؤمنِ الذي بادرَ بنفسه وماله ليحيا المستضعفون وتُرد حقوقُ المظلومين فاقتحم غمارَ الموتِ دفاعًا عنهم يصولُ ويجولُ تحت نيرانِ القصفِ حتى لا يُزجَّ بالإخوةِ الأخواتِ بالسجونِ ويُهانَ المسلمون.

- Loyalitas kita bagi orang beriman yang bersegera dengan jiwa dan hartanya untuk (mempertahankan) hidup orang-orang tertindas dan mengembalikan hak-hak orang-orang yang teraniaya. Lalu dia berhadapan dengan derita kamatian untuk membela mereka. Dia menyerang dan berputar di bawah api bombardir hingga tidak ada ikhwah ataupun akhowat yang dilempar di penjara dan (hingga tidak ada) kaum muslimiin yang dihinakan.

- ولاؤنا لكلِّ مؤمنٍ مجاهدٍ في سبيل الله رأى ما حلّ بالأمّة الإسلامية من قتلٍ وقصفٍ وتخريبٍ وتدميرٍ وإهلاكٍ للحرثِ والنسلِ, فلم يهنأ له بالٌ ولم يستلذّ بطعامٍ ولا شرابٍ وتركَ الدنيا السرابَ فنفرَ لإنقاذِهم استجابةً لقولِ العزيزِ الوهّابِ:

- Loyalitas kita untuk setiap mu’min mujahid di jalan Alloh yang melihat apa menimpa ummat islam dari pembunuhan, pengeboman, pengrusakan, penghancuran, serta pembinasaan ladang dan keterunan. Dia tidak nyaman dengan keadaannya, tidak merasakan lezatnya makanan dan minuman, serta meninggalkan fatamorgana dunia, lalu dia berangkat untuk menyelamatkan mereka sebagai sambutan terhadap firman Alloh Yang maha mulia lagi pemberi,

(انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ)

“Berangkatlah (berperang) dalam keadaan ringan dan berat, serta berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Alloh.” (at-Tawbah: 41)

وخشية أن يقعَ في العقابِ كما في الخطاب:

Juga karena rasa takut jatuh pada siksaan sebagaimana dalam pembicaraan,

(إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيماً).

“jika kalian tidak berperang, Alloh akan mengadzab kalian dengan ‘adzab yang pedih.” (at-Tawbah: 39)

- ولاؤنا للمؤمنِ الذي رفضَ الديمقراطيةَ التي تُألّه البشرَ وتعارضُ أن يكونَ الحُكمُ لله وحدَه, فمَن حاربَ منهجَ الديمقراطيةِ المخالفَ للقرآنِ والسُّنة نواليه وننصرُه ونحبُّه ونضعُ يدَنا في يدِه ونفتحُ له قلوبَنا وبيوتَنا ونمدُّ له أيدينا؛ لأنه هو من ينقذُ أطفالَ ونساءَ المسلمين ويحررُ المقدساتِ من أيدي الصليبيينَ فنوالي المؤمنَ الرافضَ خططَ اليهودِ والنصارى وأذنابِهم في احتلالِ بلادِ المسلمينَ والسيطرةِ على منابعِ النفطِ في المجتمعاتِ الإسلاميةِ, ونقفُ جنبًا إلى جنبٍ مع المؤمنِ الصادقِ مع ربه ونبيه ودينه وأمّته, المرء المسلم الذي سَلِمَ المسلمون من لسانِه ويدِه يتحرّى من يوالي ومن يؤيد, فلا يُوالي إلا الصّادقين..

- Loyalitas kita kepada orang beriman yang menolak demokrasi yang menuhankan manusia dan yang menentang penerapan hukum Alloh semata. Maka siapa saja yang memerangi konsep demokrasi yang bertentangan dengan al-Qur-an dan as-Sunnah, kita berikan loyalitas padanya, kita tolong dia, kita cintai dia, kita bekerjasama dengan-nya, kita bukakan hati dan rumah kita untuknya, dan kita berikan bantuan dengan tangan kita baginya; karena dialah yang menyelamatkan anak-anak dan wanita-wanita kaum muslimiin serta membebaskan tempat-tempat suci dari tangan-tangan salibis. Karenanya kita loyal kepada orang beriman yang menolak langakah-langkah yahudi, nashroniy dan antek-antek mereka dalam menjajah negeri kaum muslimiin dan dalam mengawasi sumber-sumber minyak dalam masyarakat islam. Kita bekerja sama dengan orang beriman yang jujur pada Robb-nya, Nabinya, diin-nya dan ummat-nya. Seorang muslim adalah yang orang-orang islam lainnya selamat dari lisan dan tangannya, memilih orang yang loyal dan (mau) membantu, maka dia tidak (akan) loyal kecuali pada orang-orang yang jujur…

- الصادق في سريرته وعلانيته صدقًا لا غَبشَ فيه نظيف القلبِ وسليم الصدرِ لا يضعُ يده في يد من روّع الآمنين من اليهودِ والحكامِ والصليبيين.

- Orang jujur dalam kesendiriannya dan terang-terangannya, tidak ada kesamaran padanya, berhati bersih, berhati lurus, serta tidak bekerjasama menakut-nakuti orang-orang yang tentram dari kalangan yahudi, para penguasa dan penyembah salib.

- الصادق الذي لا يُحابي سجّان الأمسِ ولم يكن له معاونًا أو مفتيًا أو مفاوضًا ولا لربه منافقًا.

- Orang jujur yang tidak memihak pada penjahat masa lalu, tidak menjadi penolong, juru fatwa, ataupun penasehat, dan tidak juga bersikap munafiq pada Robb-nya.

- الصادق الذي لا يبيعُ دينه بعرضٍ من الدنيا قليلٍ ولا يساومُ على بيع عقيدته وعرضه من أجل مسكنه ومأكله أو زوجته وذريّته, أو جمعيّته ومركزه, أو مسجده ومؤسسته, أو جامعته وقناته.

- Orang jujur yang tidak menjual diin-nya dengan sebagian orientasi dunia yang sedikit, tidak tawar-menawar untuk menjual ‘aqidah dan kehormatan-nya hanya karena tempat tinggal atau makanannya, isteri atau keturunannya, atau organisasi dan markasnya, atau masjid dan yayasannya, atau universitas dan siaran televisinya.

- الصادق الذي لم يتلبّس بنصرةِ الأمريكان وعملائهم.

- Orang jujur yang tidak terlibat dalam membantu amerika dan antek-anteknya.

- الصادق الذي والى المجاهدينَ وناصرهم على عدوِّهم ابتغاءَ مرضاةِ الله وتأسيًا برسولِ الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم, فنبذَ اليهودَ والأمريكانَ وأعوانَهم وأنصارَهم وتبرّأ من مُعتقداتهم وخزعبلاتهم ولم يكن لهم مواليًا أو جاسوسًا حتى يكون مواليًا لله ولرسوله والمؤمنين, فلا يصحُّ ولاءٌ بالوقوفِ مع العملاءِ, ولا إيمانَ لمن كان ولاؤه للأمريكان يدلُّهم على عوراتِ المسلمينَ الشرفاءِ وأماكنِ المجاهدينَ الأتقياءِ ويعملُ معهم باسم مكافحة الإرهاب (أي محاربة الإسلام!), فمَن كان هذا حالُه فقد والاهم مِن دونِ المؤمنين وانطبقَ عليه قوله تعالى:

- Orang jujur yang loyal kepada para mujaahidiin, membantu mereka melawan musuh mereka demi mencari ridho Alloh dan mengikuti Rosululloh –semoga Alloh limpahkan sholawat dan salam baginya dan keluarganya-. Lalu menolak yahudi, amerika, serta penolong dan pembela mereka, dan berlepas diri dari keyakinan dan dongeng-dongeng mereka, tidak loyal pada mereka atau menjadi spionase hingga (hanya) loyal pada Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Maka tidaklah sah loyalitas yang diiringi dengan keberpihakan pada antek-antek (musuh), tidak ada iman bagi orang yang loyalitasnya pada amerika, menunjukkan aurot kaum muslimiin yang mulia pada mereka dan tempat-tempat mujaahidiin yang bertaqwa, serta bekerja sama dengan mereka atas nama memerangi terorisme (maksudnya memerangi islam!), maka siapa saja yang keadaannya demikian, sungguh dia telah loyal pada mereka selain dari selain orang-orang beriman dan terkena firman Alloh –Yang maha tinggi-

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ).

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nashroni sebagai wali. Sebagaian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Dan siapa di antara kalian yang loyal kepada mereka, maka sungguh dia bagian dari mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi hidayah pada kaum yang zholim.” (al-Maidah: 51)

يا علماءَ المسلمين:

مَن الذي يمنعُكم مِن موالاةِ المجاهدين؟

Wahai ulama’ kaum muslimiin:

Siapa yang menghalangi kalian untuk loyal pada para mujaahidiin?

إنْ كانَ الذي يمنعُكم هو أنهم يخالفونكم في بعضِ مسائلِ التنزيلِ؛ فقد اختلفَ الصحابةُ الكِرامُ في مسائلِ تنزيلِ الأحكامِ وتقاتلوا فيما بينهم كما حصل بين الصحابيين الجليلين معاوية وعلي رضي الله عنهما, ولكن لم يكن هذا الخلافُ سببًا لتركِ الولاءِ والمحبةِ والنصرةِ للمؤمنِ أو صرفِه للمنافقين والمشركين, بل كانوا يجتمعون على محاربةِ النصارى, إذًا فلا نتخذ من هذا الخلاف سببًا في أن نرتمي في أحضانِ العلمانيين ونتوحّد معهم ضدَّ المجاهدين.

Jika yang menghalangi kalian adalah karena mereka menyelisihi kalian dalam sebagian masalah al-Qur-an; maka sungguh para sahabat yang mulia dahulu berselisih dalam beberapa hukum dalam al-Qur-an, mereka juga saling berperang sebagaimana yang terjadi antara dua sahabat yang mulia, (yakni) Mu’awiyah dan ‘Aliy –semoga Alloh meridhoi mereka berdua-, akan tetapi perselisihan ini tidak menjadi sebab untuk meninggalkan loyalitas, cinta dan menolong orang-orang beriman, atau (menjadi sebab untuk) menyerahkannya pada orang-orang munafiq dan musyrik, bahkan mereka berkumpul untuk memerangi orang-orang nashroniy, maka janganlah kita jadikan perselisihan ini sebagai sebab terlemparnya kita dalam dada orang-orang sekuler dan (menjadi sebab) bersatunya kita dengan mereka untuk melawan mujaahidiin.

ولنفترض أن هذا الخلافَ هو السببُ, فمَن أشدُّ مخالفة؟ أهو الذي خالفكَ في مسألةٍ اجتهاديةٍ أو وسيلةٍ من وسائلِ التغييرِ؟ أم الحاكمُ العلمانيُّ الديمقراطيُّ الموالي للصليبيين المطبِّع مع إسرائيلَ المتحاكم للكفرِ المخالف لأصولِ الدين بدعوته إلى تقاربِ الأديان! فهذا ليس سببًا شرعيًّا في صرفِ الولاءِ لغيرِ المجاهدين ناهيك أن تكون أحد أنصار الحُكّام أو أحد المحاربين للمجاهدين على شاشة الإعلام فتخسر ولاءَ الصالحين وتُجيّر جهودك وولاءك للأنظمة العلمانية.

Padahal sungguh kita akan menganggap bahwa perselisihan inilah sebabnya, lalu siapakah yang lebih keras penyelisihannya? Apakah orang yang berselisih denganmu dalam beberapa masalah ijtihaadiyyah atau (dalam) beberapa sarana perubahan? Ataukah pemerintah sekuler demokrat yang loyal pada kaum salibis yang taat pada isroo-iil yang berhukum pada kekufuran yang menyelisihi pokok-pokok diin ini dengan seruannya kepada pendekatan antar agama! Maka ini bukanlah sebab syar’iy untuk memalingkan loyalitas pada selain mujaahidiin yang melarang Anda untuk menjadi salah seorang penolong penguasa atau salah seorang yang memerangi mujaahidiin di layar media, lalu Anda rusak loyalitas kepada orang-orang sholih dan mengurap kesungguhan dan loyalitas Anda untuk pemerintahan sekuler.

والمتابعُ لتاريخِ السلفِ والعلماءِ الربانيين لا يجدُ أنهم صرفوا الولاءَ لليهودِ أو النصارى أو لأذنابهم من السلاطين بل كانوا يأخذون من أهلِ الذمةِ الجزيةَ عن يدٍ وهُم صاغرون.

Orang yang mengamati sejarah orang-orang terdahulu dan ulama’ robbaaniy tidak mendapati bahwa mereka memalingkan loyalitas pada yahudi dan nashroniy atau pada penguasa-penguasa yang menjadi antek-antek mereka, bahkan orang-orang terdahulu mengambil pajak dari ahludz dzimmah dari tangan (mereka) sedangkan mereka dalam keadaan terhina.

وقد قاتلَ شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ مع أهلِ البِدع التتارَ الكفارَ المحتلين ديارَ المسلمين وتوحّد المسلمون تحت رايةِ البطلِ صلاحِ الدينِ الأيوبيِّ لقتالِ الإفرنجِ مع اختلافِ مذاهبهم في مسائلِ الكلام.

Sungguh syaykhul islam Ibnu Taymiyyah memerangi tatar kafir yang menjajah negeri kaum muslimiin bersama ahlul bid’ah, dan kaum muslimiin bersatu di bawah panji sang pahlawan Sholahud Diin al-Ayyubiy untuk memerangi Frank meskipun madzhab mereka berbeda dalam permasalahan theology.

ومن عقيدةِ أهلِ السنةِ والجماعةِ الجهادُ مع كلِّ برٍّ وفاجرٍ, بينما أننا نرى بعضًا منكم أيها العلماءُ يتفقُ مع أصحابِ البِدع المكفرةِ في قتالِ المجاهدين من أهلِ السنةِ والجماعةِ, فالمؤمن يوالى على قدرِ ما عنده من إيمانٍ ويُبغض على قدرِ ما ارتكبه من معصيةٍ, وهذا على سبيلِ التنزُّل مع المخالفِ, وإلا فمنهجُ المجاهدين من أوضحِ المناهجِ التي تدعو إلى الكتاب والسنة قولًا واعتقادًا وعملًا, وكلماتُ ومحاضراتُ وكتبُ مشايخِ الجهادِ فيها من الوضوحِ في الدعوةِ إلى التوحيدِ ونبذِ الشركِ مع السعيِّ لإقامةِ الخلافةِ الإسلاميةِ ما لا يوجدُ عند بقيةِ الجماعاتِ ومواقفهم لم تتغير تجاه الحاكمِ المنازعِ الله في حاكميته, إذًا فما الذي يجعلكم تسارعون في موالاةِ الطغاةِ -إلا من رحم الله منكم- حتى وصلَ بكم الحالُ إلى التشكيكِ بقدرات المجاهدين في استرجاع الخلافةِ الإسلاميةِ وكأن التاريخَ غُيِّبَ عنكم أو كأنكم لم تقرؤوا سيرةَ النبيِّ صلى الله عليه وسلم في كيفيةِ بناءِ الدولةِ الإسلاميةِ في ظلِّ وجودِ دولةِ المشركين, في ظلِّ وجودِ دولةِ اليهودِ والرومِ وفارسَ وأعوانِهم من المنافقين.

Sedangkan bagian dari ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah adalah berjihad bersama orang yang baik dan orang yang fajir. Sedangkan kami melihat sebagian dari kalian wahai ulama’, bersepakat dengan ahlul bid’ah al-mukaffiroh untuk memerangi para muajahidiin dari Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, padahal (semestinya) seorang mu’min diberikan loyalitas sesuai dengan kadar iman yang ada padanya, dan dibenci sesuai dengan kadar kemaksiatan yang dilakukannya. Inilah metode berlepas diri dengan orang yang menyelisihi. Namun manhaj mujaahidiin lah manhaj yang paling jelas yang menyeru pada al-Kitab dan as-Sunnah, secara perkataan, keyakinan dan perbuatan. Di dalam perkataan, ceramah dan kitab-kitab masyayikhul jihad ada kejelasan mengenai da’wah / seruan kepada tawhid dan menolak syirk diiringi dengan usaha untuk mendirikan khilafah islamiyyah, sebagai hal yang tidak didapati pada jamaa’ah-jamaa’ah lain dan posisi mereka menghadapi para penguasa yang menyelisihi Alloh dalam penetapan hukum-Nya tidaklah berubah. Jadi, apa yang menjadikan kalian berlomba-lomba untuk loyal kepada para tiran –kecuali orang yang Alloh sayangi di antara kalian-, hingga sampailah keadaaan kalian meragukan qodar para mujaahidiin dalam mengembalikan khilafah islamiyyah. Seolah-olah sejarah telah lenyap dari hadapan kalian atau seolah-olah kalian tidak pernah membaca sejarah Nabi –semoga sholawat dan salam Alloh limpahkan padanya-, bagaimana mendirikan dawlah islam di bawah bayangan eksistensi dawlah musyrikiin, di bawah bayangan eksistensi dawlah yahudi, rum, Persia dan para pembantu mereka dari kalangan munafiqiin.

أيها العلماءُ:

أَوَمَا تعُون أنه كلما توسّع المجاهدون في الأرض وأثخنوا الضرباتِ في العدوِّ الصليبي استخدمكم عملاؤهم أبواقًا إعلامية لتخدّروا الأمّة وتشككوا بشرعيةِ استهدافِ الكفارِ المحاربين ورؤوسِ الردةِ المارقين وترمُوا خيرةَ المجاهدينَ بفكرِ الخوارجِ المنحرفِ, وبهذا شاركتموهم في محاربةِ المدِّ الجهاديِّ المتنامي, فكل هذا الذي يبدرُ منكم ليس من الولاء للمؤمنين بل جُيِّرت جهودكم وولاؤكم لصالحِ الحملةِ الصليبيةِ بسببِ قعودِكم وموالاتِكم لعملائهم وتقديمِ مصالحكم الجزئية الموهومة على مصالحِ الأمّةِ الكليةِ المتحققةِ.

Wahai para ulamaa’

Tidakkah kalian memperhatikan bahwa setiap kali mujaahidiin mendapat keluasan di bumi dan menimpakan berbagai serangan pada musuh salibis, antek-antek musuh pun menggunakan kalian sebagai corong media untuk membius ummat, menyebarkan keraguan dalam (hukum) syar’iy mentarget pasukan kafir dan para pemimpin riddah yang keluar (dari islam). Kalian juga menuduh kebaikan para mujaahidiin sebagai pemikiran khowarij yang menyimpang. Dengan ini kalian telah berpartisipasi dalam memerangi bantuan jihad yang sedang berkembang. Semua yang kalian bergegas menujunya ini bukanlah bagian dari loyalitas untuk orang-orang beriman. Bahkan kerja keras dan loyalitas kalian diurap untuk kepentingan perang salib disebabkan sikap duduk dan loyalitas kalian untuk antek-antek mereka, serta dedikasi kepentingan parsial kalian yang tidak jelas untuk kepentingan universal ummat yang pasti.

فهؤلاء المتناقضون في آرائهم يصرفون مسألةَ الولاءِ على غيرِ ما أراده اللهُ ورسولُه, فتُخالف أفعالُهم أقوالَهم ويذمون واقعًا هم لبناته والمسهمون فيه ويتغير ولاؤهم على حسبِ القوى وميزانِ الهوى! بالأمسِ لمّا ضُرِبت غزة تبرؤوا ممن وقف مع إسرائيل وقالوا إنّ حكامَ العربِ لا يعبدون إلا كراسيهم فهي آلهتهم, ودعا بعضُهم لقتالهم, ثم سرعانَ ما تبخرَ كلُّ هذا وجوّزوا للحاكمِ موالاةَ اليهودِ والنصارى لدفعِ ضررهم الأكبر وكأنّ ديارَ المسلمين غير محتلةٍ ودينهم غير مُحارب وأعراضُهم مُصانة وأموالهم محروزة!.

Maka orang-orang yang opininya hancur, mereka memalingkan masalah loyalitas pada selain apa yang tidak dikehendaki oleh Alloh dan Rosul-Nya. Lalu perbuatan mereka menyelisihi perkataan mereka dan mereka cela kenyataan, mereka adalah untuk kerusakannya, di dalamnya mereka juga berperan dan merubah loyalitas mereka sesuai dengan kekuatan dan timbangan hawa nafsu! Kemarin ketika Gaza diserang mereka berlepas diri dari siapa saja yang berdiri (mendukung) isroo-iil. Mereka mengatakan sungguh pemerintahan arab tidak menyembah (siapapun) kecuali kursi mereka yang merupakan ilah mereka. Sebagian mereka menyeru untuk memerangi mereka (isroo-iil). Kemudian dengan cepat semuanya itu menguap dan mereka membolehkan si penguasa untuk loyal pada yahudi dan nashroniy (dengan alas an) untuk menolak bahaya yang lebih besar seolah-olah negeri kaum muslimiin tidak terjajah, diin mereka tidak diperangi, kehormatan mereka terlindungi dan harta mereka terpelihara!

سبحانَ اللهِ كانَ طرحُ كثيرٍ من الدعاةِ في المحاضراتِ وفي حديثهم للناسِ طرح مفاهيمِ الكتابِ والسنة, وكان ولاؤهم لهما ولمن طبّقهما من أبناءِ المسلمين وعلى وجهِ الخصوصِ كانَ الولاءُ للمجاهدينَ حفاظًا على التوحيدِ وأهلِه وحربًا على العلمانيةِ وأصحابِها, فوالوهم وذادوا عنهم وعادوا كلَّ من عاداهم من أعداءِ الدينِ ومن وقفَ معهم, ثم تغيرت الأحوالُ وتبدلت المواقفُ عندما غُيِّبَ بعضهم في السجونِ وأُوقِف من أُوقِف منهم وامتُحِن في دينه فعندها انقسمت الولاءات إلى قسمينِ بناءً على الأقوى, فتناقضت الأفعالُ والأقوالُ, فمن والوه بالأمسِ عادوه اليومَ ومن عادوه ونابذوه من الحكامِ الخونةِ والوه, في حين أن هؤلاء الحكام مبادئهم هي المبادئ العلمانية نفسها لم تتغير أو تتبدل بل ازدادت وضوحًا في مخالفةِ منهجِ اللهِ.

Maha suci Alloh, telah ada penolakan dari kebanyakan da’i dalam berceramah dan dalam berbicara pada manusia mereka menolak pemahaman al-Kitab dan as-Sunnah. Padahal dahulu loyalitas mereka untuk keduanya (al-Kitab dan as-Sunnah) dan untuk siapa saja yang menerapkan keduanya dari putera-putera kaum muslimiin, khususnya loyalitas adalah untuk para mujaahidiin untuk menjaga tawhid dan pemeluknya, juga untuk memerangi sekulerisme dan pemeluknya. Mereka loyal pada para mujaahidiin, membela mereka, dan memusuhi siapa saja yang memusuhi mereka dari kalangan musuh-musuh diin ini serta siapa saja yang berdiri mendukung musuh-musuh itu. Kemudian berubahlah keadaaan dan sikap pun juga berubah, ketika sebagian mereka ditahan dalam penjara, sebagian dihentikan (da’wahnya) dan mendapatkan ujian dalam diin-nya, ketika itulah loyalitas terbagi menjadi dua berdasarkan pada yang lebih kuat. Perbuatan dan perkataan pun menjadi runtuh. Siapa yang kemarin diberikan loyalitas padanya, hari ini dimusuhinya. Dan penguasa pengkhianat yang dahulu dimusuhi dan ditolaknya, (sekarang) diberikan loyalitas padanya. Ketika prinsip penguasa itu menggunakan prinsip sekuler saja (justru) tidak berubah, bahkan bertambah jelas penyelisihan mereka terhadap manhaj Alloh.

وهنا أطرحُ على مَن كان هذا حاله هذا السؤالَ, ولكن الجواب يترتب عليه جنةٌ لمن وُفِّق وفاز, ونارٌ لمن لم يُوفق وخِسر, ولابد أن يكونَ الجوابُ بعيدًا عن المداهناتِ والمجاملاتِ لأن المسألةَ مسألةُ إيمانٍ وكفرٍ, مسألةُ توحيدٍ وشِركٍ, والسؤالُ:

Disinilah akan saya sampaikan pertanyaan kepada siapa saja yang dalam keadaaan demikian, akan tetapi jawabannya berdampak pada surga bagi siapa yang mendapat tawfiq dan mendapat kemenangan, serta neraka bagi siapa saja yang tidak mendapat tawfiq dan merugi. Jawaban juga harus jauh dari mudahanah (penjilatan) dan kepura-puraan karena permasalahan ini adalah permasalahan iman dan kufr, permasalahan tawhid dan syirik, pertanyaannya adalah;

مَن هو أحقُّ بالولاءِ والنصرةِ والمحبّةِ, أهوَ المؤمنُ صاحبُ العقيدةِ التي لا غُبارَ عليها -عقيدةِ أهلِ السنةِ والجماعةِ- أم هو العلمانيُّ صاحبُ عقيدةِ الكفرِ بأحكامِ الشريعةِ السماويةِ؟

Siapakah yang lebih berhak mendapat loyalitas, pertolongan dan kecintaan? Apakah orang beriman yang memiliki ‘aqidah yang tidak catat –‘aqiidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah- ataukah orang sekuler yang memiliki ‘aqiidah kufr (ingkar) terhadap hukum-hukum syari’ah dari langit?

مَن أحقُّ بالولاءِ, أهوَ مَن يبذلُ روحَه ومالَه ليبقى دينُه, أو هو من يسعى السعيَّ الحثيثَ لمحاربةِ الإسلامِ, تارةً ينشرُ الآراءَ المخالفةَ للقرآنِ والسنةِ -كالقوميةِ والديمقراطيةِ والاشتراكيةِ- وتارةً يشاركُ في محاربةِ الدينِ؟

Siapakah yang lebih berhak mendapat loyalitas? Apakah orang yang mengorbankan nyawa dan hartanya agar diin ini kekal, ataukah orang yang melakukan usaha yang cepat untuk memerangi islam, yang terkadang menyebarkan opini-opini yang bertentangan dengan al-Qur-an dan as-Sunnah –seperti nasionalisme, demokrasi dan sosialisme- dan terkadang berpartisipasi dalam memerangi diin ini?

مَن أحقُّ بالولاءِ, أهوَ مَن يجاهدُ ليقيمَ الخلافةَ الإسلاميةَ, أو هو مَن يعملُ لترسيخِ حكمِ اليهودِ والنصارى في الأرضِ؟

Siapakah yang lebih berhak mendapat loyalitas? Apakah orang yang berjihad untuk mendirikan khilafah islamiyyah, ataukah orang yang bekerja untuk mengokohkan hukum yahudi dan nashroniy?

يا علماءَ المسلمين:

كيفَ وضعتُم أيديكم في أيدي الحكامِ -إلا مَن رحمَ اللهُ منكم- وأعطيتموهم الولاءَ مع أنهم تبنوا العلمانيةَ ورفضُوا الشريعةَ وأقروا بمواثيقِ الأممِ المتحدةِ وتحاكموا إلى محاكمِها وأيّدوا المحتلَّ وشاركوا في تحقيقِ مُخططه وسهّلوا له الاستيلاءَ على منابعِ النفطِ وخانوا الأمّةَ واستباحُوا الخمرَ والزنا والربا بقوانينِهم الوضعيةِ وحاربوا الله ورسوله؟

Wahai ulamaa’ kaum muslimiin:

Bagaimana kalian bisa bekerjasama dengan para penguasa –kecuali yang Alloh sayangi di antara kalian-, kalian berikan loyalitas pada mereka sedangkan mereka cenderung pada sekulerisme, menolak syari’ah, menyepakati perjanjian PBB, berhukum dengan pengadilan mereka, membantu penjajah, berpartisipasi dalam mewujudkan rancangan penjajah, mempermudah penjajah untuk menguasai sumber minyak, mengkhianati ummat, melegalkan khomr, zina dan riba dengan udang-undang mereka, serta memerangi Alloh dan Rosul-Nya?

يا علماءَ المسلمين:

لماذا هذا التحريفُ والتعطيلُ لمفهومِ الولاءِ؟ ولماذا لا نراكم توالون المؤمنين فتتبنون قضاياهم وتناصروهم وتقاتلون دونهم بدلَ أن تصرفوا الولاءَ لمن عاداهم وناصرَ عدوّهم ومنعَ المسلمين من الأخذ بثأرهم ودفع الصائل عنهم, لماذا تُضفون عليهم الصبغةَ الشرعيةَ وتجعلونهم ولاةَ أمرٍ شرعيين؟ فمن الذي يُجوِّز لكم هذا ولا سيما في ظلِّ هذه الأوضاعِ التي تمرُّ بها الأمّةُ الإسلاميةُ وتكالب الأعداءِ وأنصارهم عليها, فواليتم أعداءها ومدمري حضارتها وإنتاجها, وفي صحيح الإمام البخاري من حديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إنّ الله قال:

Wahai ulamaa’ kaum muslimiin:

Kenapa ada penyimpangan dan peniadaan paham loyalitas? Kenapa kami tidak melihat kalian memberikan loyalitas pada orang-orang beriman, lalu kalian perbaiki urusan mereka, kalian tolong mereka dan berperang membela mereka sebagai ganti daripada kalian palingkan loyalitas kepada orang yang memusuhi mereka, menolong musuh mereka, melarang kaum muslimiin dari membalas mereka dan melawan serangan mereka? Kenapa kalian menyandarkan ajaran syar’iy pada mereka dan kalian jadikan mereka sebagai waliyul amri yang syar’iy? Siapakah yang membolehkan kalian untuk berbuat demikian, terutama dalam kondisi yang dilalui ummat islam ini, sedangkan musuh dan penolongnya mengeroyok mereka, lalu kalian berikan loyalitas pada musuh mereka dan menghancurkan kebudayaan serta produksi mereka.

Di dalam shohih imam al-Bukhoriy terdapat hadits Abu Huroyroh –semoga Alloh meridhoinya- berkata, Rosululloh –semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam baginya- bersabda, sesungguhnya Alloh berfirman

من عادى لي وليًّا فقد آذنته بالحرب

“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh aku izinkan dia untuk diperangi.”

فحبُّ المؤمنِ ومناصرته والوقوفُ إلى جانبه ضدَّ الأعداء وبغضُ الكافرين ومقاتلتهم مِن لوازمِ الإيمانِ بالولاء, فيجبُ علينا أن نحبَّ لله ونُبغِض لله ونوالي في الله ونعادي في الله, ومن لوازمِ الإيمان بالولاء عدم حِل غيبةِ المسلمِ وحسده وبغضه وعدم خذلانه وظُلمه وعدم استباحة دمه وماله وعرضه, وأي خذلانٍ للمجاهدين أكثرُ مما يحصلُ منا اليوم؟

Maka mencintai orang beriman, menolongnya, berdiri di sisinya (untuk) melawan musuh, membenci orang-orang kafir, dan memerangi mereka merupakan bagian dari hal-hal penting dalam iman yang berkaitan dengan loyalitas. Maka wajib bagi kita untuk cinta karena Alloh, benci karena Alloh, loyal karena Alloh, memusuhi karena Alloh. Dan termasuk hal-hal penting dalam iman yang berkaitan dengan loyalitas adalah tidak halal meng-ghibah seorang muslim, dengki padanya, membencinya, tidak menelantarkan dan menzholiminya, tidak menghalalkan darah, harta dan kehormatan-nya. Dan penelantaran terhadap mujaahidiin apa lagi yang lebih banyak terjadi pada kita hari ini?

خذلانهم في أفغانستانَ والعراقِ والصومالِ والشيشانِ وفي جزيرةِ العربِ, أوما حرّكت مشاعرَنا المشاهدُ البشِعةُ التي نراها ونسمعُ عنها في استباحةِ أعراضِ المسلمين؟ فكم من أختٍ لنا هتك عرضَها الأمريكان وعملاؤهم!

Menelantarkan mereka di Afghonistan, ‘Iroq, Shomalia, Checnya, dan di Jaziroh ‘Arob. Tidakkah perasaan kita tergerak oleh pemandangan yang tidak baik yang kita lihat dan kita dengar berkenaan dengan dihalalkannya kehormatan kaum muslimiin? Berapa banyak saudari kita yang dirusak kehormatannya oleh amerika dan antek-anteknya?!

أيها المسلمون:

أما لامست آذاننا صرخاتُ الأطفالِ وأنّاتُ الأمهاتِ؟ كم من أطنانِ المتفجراتِ التي صُبّت عليهم؟

Wahai kaum muslimiin:

Tidakkah telinga kita tersentuh oleh teriakan anak-anak dan rintihan ibu-ibu? Berapa ton bom yang telah ditimpakan kepada mereka?

فإن كنا صادقين في ولائنا للهِ ورسولهِ والمؤمنين فلماذا هذا السكوتُ منا؟ فلا بدَّ أن ننفرَ في سبيل الله لننقذَ المسلماتِ ونسترجعَ المقدساتِ ونخلصَ الأقصى من هدم اليهود, ففي صحيح مسلم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Maka jika kita jujur dalam memberikan loyalitas karena Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang beriman, kenapa kita hanya diam saja? Kita harus berangkat (berperang) di jalan Alloh untuk menyelamatkan wanita-wanita muslimah, mengembalikan tempat-tempat suci, dan untuk melepaskan al-Aqsho dari penghancuran yang dilakukan oleh yahudi. Di dalam shohih muslim disebutkan, Rosululloh –semoga Alloh limpahkan sholawat dan salam baginya- bersabda,

"لا تحاسدُوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبِع بعضكم على بيع بعضٍ وكونوا عبادَ اللهِ إخوانًا, المسلمُ أخو المسلمِ لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره, التقوى هاهنا -ويُشيرُ إلى صدرِه ثلاثَ مراتٍ- بحسبِ امرئٍ من الشر أن يحقرَ أخاه المسلمَ, كل المسلمِ على المسلمِ حرامٌ دمُه ومالُه وعرضُه".

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling menyalahkan, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling memusuhi, janganlah sebagian kalian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara seorang muslim. Janganlah menzholiminya, janganlah menelantarkannya dan janganlah menghinakannya. Taqwa itu ada di sini –beliau menunjuk ke dadanya 3 kali-. Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika dia merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”

ومن علاماتِ الإيمانِ بالولاء القيامُ بحاجةِ المسلمِ وستره وتفريج كربه, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Termasuk ciri-ciri iman yang berkaitan dengan loyalitas adalah memenuhi kebutuhan seorang muslim, menutupi (aib)nya dan melapangkan kesusahannya. Rosululloh –semoga Alloh limpahkan sholawat dan salaam baginya- bersabda,

"مَن كان في حاجةِ أخيه كانَ اللهُ في حاجته ومن فرّج عن مسلمٍ كربة فرّج الله بها عنه كربة من كُرب يوم القيامة ومن ستر مسلمًا ستره الله يوم القيامة" رواه مسلم.

“Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Alloh memenuhi kebutuhannya, siapa yang melapangkan kesusahan dari seorang muslim, Alloh lapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat, dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Alloh tutupi (aib)nya di hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

وفي الأخير, يا شبابَ الإسلام وفرسانَه, بِكُم تنعقدُ الآمالُ, فذودُوا عن المؤمنينَ وجادلُوا مَن ظَلَمَهُم مِن أهلِ الإسلامِ باللينِ وبالتي هيَ أحسنُ شيئًا فشيئًا حتّى تردُّوهم إلى صوابِهم, وأطلِعوهم على كُتبِ المجاهدينَ وإصداراتِهم.

Terakhir, wahai pemuda dan ksatria islam, harapan ini terikat pada kalian. Belalah kaum mu’miniin, bantahlah siapa saja yang menzholimi mereka dari pemeluk islam dengan lembut dan dengan cara yang baik sedikit demi sedikit hingga kalian dapat mengembalikan mereka kepada kebenaran. Sampaikanlah kepada mereka kitab-kitab para mujaahidiin dan rilisan-rilisannya.

اللهم انصُر الإسلامَ والمسلمينَ ومن والاهم, وأهلِك أعداءك أعداءَ الدينِ ومَن ناصرهم, ووفقنا لموالاةِ المؤمنينَ وأعِنا على البراءةِ مِن المرتدينَ, وسلامٌ على المرسلينَ, والحمدُ للهِ مُتولي المؤمنينَ وناصرِ المجاهدين.

Ya Alloh, tolonglah islam dan muslimiin serta siapa saja yang loyal pada mereka. Binasakanlah musuh-musuh-Mu yang juga musuh-musuh diin ini dan siapa saja yang menolong mereka. Berikanlah tawfiq kepada kami untuk loyal pada orang-orang beriman dan bantulah kami untuk berlepas diri dari orang-orang murtad. Salam sejahterah bagi para rosul. Segala puji bagi Alloh sebagai wali bagi orang-orang beriman dan penolong bagi para mujahaahidiin.


زوروا:

Kunjungilah:

الدليل المركزي

Central Guide

مؤسسة البراق الإعلامية

Departement Informasi “al-Buroq”

http://up2001.co.cc/central-guide

منبر التوحيد والجهاد:

www.tawhed.ws

Sabtu, 19 November 2011

Pelatihan Bagi Mujahid Media

Pelatihan Bagi Mujahid Media

Berikut ini adalah tulisan yang dikutip dari sebuah buku dengan judul asli yang diterjemahkan ( PEDOMAN MENCARI PENGALAMAN MEDIA ) Serial Pelatihan untuk Mujahid Media.

Buku ini diterbitkan oleh Markaz Al Yaqin yang memperoleh naskah ini dari tentara Daulah Islam Iraq, Markaz Al Yaqin menerbitkannya berdasarkan izin penerbitannya melalui internet dari Muassasah Al Furqon.

Kami berharap kepada Alloh agar tulisan ini menjadi pedoman bagi mujahid media untuk ikut berjalan bersama umat menuju target dengan program yang jelas dan terpercaya.

Dan perlu diketahui oleh semuanya, bahwa melawan orang-orang murtad bukan hanya dengan konfrontasi fisik secara langsung, tetapi ini adalah kerja yang harus terprogram dan dipelajari baik-baik, sehingga umat akan belajar untuk berfikir serius, memiliki pandangan jauh, dan mulai mempersiapkan pasukan untuk beranjak menuju baitul maqdis …

MUQODDIMAH SESI PERTAMA Segala puji bagi Alloh yang telah menganjurkan untuk melakukan tahridh, i`lam dan tibyan (penjelasan). Sholawat dan salam semoga terlimpah pada sebaik-baik manusia yang telah berjihad dengan lesan, anggota badan dan hati, berikut keluarga dan para sahabat pemilik hujah dan burhan, para tabi`in dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik di setiap waktu dan sepanjang masa …. Wa ba`du …..

Pada sesi ini – ikhwah fillah – akan kami jadikan sebagai muqoddimah dari serial manhajiyah kami, dan kata pengantar tausiyah media kami.

Inilah hakekat pertama yang harus diyakini dan panduan pertama dalam bidang ilmu dan amal jihad media yang baik dan bisa berkembang. Kami prioritaskan tema (Media adalah jihad di jalan Alloh) untuk memulai halaqoh kami yang berbarokah ini, karena beberapa sebab berikut :

Ŏ Menyoroti esensi media Jihad dalam timbangan jihad global dan ikut serta dalam pertempuran yang berlangsung antara kufur dan iman.

Ŏ Mengingatkan akan besarnya pahala bagi orang-orang yang berdiri di atas tapal batas media jihad, dan pahala besar yang disiapkan oleh Alloh `Azza wa Jalla untuk para jurnalis.

Ŏ Menarik perhatian para jurnalis jihad akan esensi peran yang diembankan kepada mereka, mengingatkan mereka akan tanggung jawab besar dan menyiapkan mereka untuk melaksanakan kewajiban besar mereka.

Ŏ Menggembleng para jurnalis akan esensi terwujudnya kemenangan media untuk mengiringi kemenangan militer modern, dan esensi menimpakan kekalahan psikis sebelum kalah secara materi.

Ŏ Melepaskan diri dari cara pandang yang keliru tentang amal media, meluruskan asumsi sebagian orang – karena kebodohan mereka – bahwa jihad tidak lebih dari ikut langsung berperang dengan senjata materi saja ! padahal senjata ucapan terkadang bisa lebih dahsyat dari pada bom nuklir.

Ŏ Mempersiapkan generasi media baru yang berdedikasi dalam kerja, tahu apa yang harus dilakukan, tidak puas dengan kerja apapun kecuali kerja yang bisa meningkatkan kwalitas daulah yang berada diatas manhaj Nabi dengan segala cara berdasarkan dalil baik pemikiran, pengorganisasian, aktifitas dan peradaban.

Bab-bab Jihad yang bisa digeluti oleh media :

Akhi jurnalis mujahid … Ketahuilah bahwa Anda – dengan kerja media ini – adalah mujahid di jalan Alloh Ta`ala, jika niatmu benar. Media dengan aneka ragamnya : baik cetak, audio dan visual – adalah bentuk jihad melawan musuh-musuh Alloh Ta`ala yang esensinya tidak kalah dengan terjun langsung dalam perang. Begitu juga kerja Anda ini masuk dalam bab-bab yang cukup besar dan banyak dalam kaitan jihad.

Diantara bab-bab ini adalah :

1. Jihad dengan Lesan

Dari Anas ra bahwa Nabi Saw bersabda : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lesan kalian ”. (HR. Ahmad, Nasa`I dan Abu Dawud serta dishohihkan oleh Al Hakim.) Jihad dengan lesan bisa dilakukan dengan menegakkan hujah atas orang-orang kafir dan munafik, menyeru mereka kepada Alloh Ta`ala, menakut-nakuti mereka, mengancam mereka dengan pembunuhan, membongkar aib mereka dan menyingkap syubhat mereka.

Di saat yang sama hal ini bisa meningkatkan mentalitas prajurit, merilis kemenangan-kemenangan mereka, memperlihatkan kebaikan- kebaikan mereka, menganjurkan manusia untuk mendukung mereka, menjelaskan aqidah, manhaj dan tujuan mereka, mempererat hubungan antara mereka dan kaum muslimin secara umum dan lain sebagainya.

Imam Abdulloh Azzam berkata : “Dengan lesan kalian : artinya dengan memojokkan orang-orang kafir dan keras kepada mereka, dan hal ini tidak bertentangan dengan larangan mutlak tentang tidak bolehnya mencela orang- orang musyrik agar mereka juga tidak mencela kaum muslimin ”.

Dalam Al Hasyiyah disebutkan : “Artinya kalian harus menteror dan mengancam mereka dengan pembunuhan, penangkapan dan penjarahan. Kamu juga boleh menghina dan mencela mereka selam hal itu tidak memancing mereka untuk mencela Alloh Ta`ala. Menyebut mereka dengan kehinaan dan kekalahan, dan kemenangan dan ghonimah bagi kaum muslimin. Dan juga memotivasi manusia untuk berperang dan lain sebagainya ”.

Jadi sekarang, jihad dengan lesan adalah dengan menampilkan jihad dengan gambaran yang menarik dan membendung serangan media yang dikampanyekan dalam jihad Afghan. Juga bisa dengan berdiri melawan pencitraan buruk terhadap jihad atau merusak kepribadiannya atau hal-hal buruk yang mereka lontarkan. Juga dengan membantah para pengembos, mutsbithin, mu`awwiqin, mukhodzdzilin dan murjifin”. (Ittihaful `ibad bifadhoilil jihad, oleh Abdulloh Azzam)

Syeikh Hamud `Uqola Asy Syu`aiby berkata : “Diantara jenis jihad adalah jihad dengan lesan dan pena. Hal ini mencakup semua ucapan yang bisa memperkuat mentalitas prajurit, dan menghancurkan mentalitas musuh, baik dengan syair, khutbah, menyebar luaskan kemenangan- kemenangan kaum muslimin dan kekalahan musuh-musuh mereka. Diantaranya pula adalah meneriakkan takbir dan dzikir ketika menyerang musuh, memompa semangan pasukan dan menjanjikan kemeangan bagi mereka dan kekalahan bagi musuh mereka, begitu juga mendoakan mereka dengan kemenangan dan pertolongan . ” (Dinukil dari Shuhail Al Jiyyad fi syarhi kitabil jihad min bulughil marom, oleh Abdurrohim bin Murod.)

Syeikh Abdurrohim bin Murod Asy Syafi`I berkata : “Diantara bentuk jihad dengan lesan adalah mentahridh untuk berjihad, menjelaskan hukum-hukumnya, menyingkap syubhat para penyesat, membongkar kedurhakaan para pendurhaka dari kalangan sekuler dan munafikin, membantah para penggembos dari para ulama penguasa dan para penyeru untuk hidup berdampingan dan toleran dengan orang-orang kafir. Begitu juga membela jihad dan mujahidin, mengeluarkan rilisan dalam bentuk yang paling baik dan melawan serangan media yang dikampanyekan ”. (Ittihaful `ibad bifadhoilil jihad, oleh Abdulloh Azzam.)

2. Jihad dengan Jiwa :

Alloh Ta`ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang jujur”. (Q.S Al Hujarat : 15)

Nabi Saw bersbda : “Tidak ada seorang Nabipun yang Alloh utus pada umat sebelumku, melainkan akan ada para pembela dari umatnya dan pengikut yang akan mengikuti sunahnya dan melaksanakan perintahnya. Setelah itu akan ada generasi setelah mereka yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan. Barang siapa yang memerangi mereka dengan tangannya berarti dia mukmin, siapa yang memerangi mereka dengan lesannya berarti dia mukmin dan siapa yang memerangi mereka dengan hatinya berarti dia mukmin. Dan seteah itu tidak ada lagi iman meskipun hanya sebiji atom ”. (H.R. Muslim)

Siapa yang bilang bahwa para jurnalis hanya berjihad dengan lesan sambil duduk-duduk diatas sofa dalam rumah mewah ?? Tidak demi Alloh, mereka berada dalam kancah pertempuran dan panasnya medan laga, mengiringi saudara-saudara mereka para tentara yang berperang dan menggempur musuh-musuh Alloh di muka bumi. Ikut serta memikul beban jihad bersama mereka, berbagi rasa kehidupan bersama mereka, beralaskan tanah dan beratapkan langit. Alloh saja yang tahu mereka, dan Alloh pula yang membalas pahala mereka.

Sungguh, amal media tidak diragukan lagi adalah jihad. Siapa yang masih ragu, maka lihatlah para ikhwah media di negara Islam Iraq, darah mereka yang suci mengalir di tanah dua aliran sungai (Iraq), mereka juga mengalami ujian dipenjara di penjara- penjara orang-orang Salib dan Murtad … mereka berhijrah, menolong dan berjihad hingga musuh mengaku kerepotan menghadapi mereka sebelum kawan yang mengakuinya. Mereka tetap teguh begitu kami beranggapan kepada mereka dan Allohlah yang akan menghisab mereka. Tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa Jurnalis adalah pelaku istisyhad tanpa bom ikat pinggang, karena dia memang berhak dengan penghargaan ini.

Tidakkah Anda melihat kameramen, bagaimana dia membawa kamera sebagai ganti dari AK dan berjibaku di hadapan prajurit dalam berbagai pertempuran menyongsong tembakan peluru dengan dadanya ??!

Tidakkah Anda melihat pada saroya yang membagi-bagikan berbagai rilisan, bagaimana mereka memasuki titik paling rawan dan menyebarkan rilisan para mujahidin di tengah- tengah komunitas orang-orang munafik ??! Tidakkah Anda melihat bagaimana orang yang mengumpulkan berbagai bidang militer berdedikasi, mengikuti kerja para ikhwah dan memburu berita-berita mereka, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Amirul Mukmiinin Umar ra, saat beliau mengirim sebuah pasukan, maka setiap hari beliau akan pergi ke ujung kota Madinah untuk mencari tahu berita tentang pasukan. Beliau memantau berita mereka seperti orang hamil yang memantau kehamilannya ? (Disadur dari ucapan Syeikh Abu Mus`ab Zarqowy rhm dengan judul (dari prajurit untuk amirnya).)

Banyak orang yang beranggapan bahwa tugas ini remeh. Dia tidak tahu bahwa berita media jihad yang disebar melalui internet atau yang diangkat ke imaroh, dibelakangnya adalah pasukan dari para jurnalis !! Kami menganggap para mujahid media termasuk orang yang telah disabdakan oleh Nabi Saw : “Sungguh, Alloh akan memasukkan 3 orang ke dalam surga karena satu buah anak panah, yaitu pembuatnya yang mengharapkan kebaikan dari karyanya tersebut, orang yang melemparkannya dan orang yang mengambilkannya ”. (HR. Abu Dawud, Nasa`I, Al Hakim dan beliau menshohihkannya.)

Dengan izin-Nya, Alloh akan memasukkan siapa saja yang ikut berperan dalam menyampaikan satu berita jihad ke dalam surga karena satu berita. Hal itu tidak sulit bagi Alloh dan tidak terlalu berlebihan bagi keluasan rahmat-Nya. Tidak samar lagi bagi Anda – akhi jurnalis – bahwa Jihad Anda dengan lesan tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi mencakup ucapan, tulisan dan cetak dan lain sebagainya. Semuanya melibatkan kerja keras tubuh. Begitu juga tidak samar bagi Anda bahwa jihad dengan lesan bagi Anda lebih kuat dari pada jihad dengan jiwa, yaitu saat jihad dengan jiwa lebih kuat dari pada jihad dengan lesan bagi ikhwah askari. (Disadur dari kata-kata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.).

Inilah alasan kami mendahulukan pembahasan jihad dengan lesan dari pada jihad dengan jiwa.

3. Motivasi untuk Berjihad :

Alloh Ta`ala berfirman : “Wahai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang. Jika ada sepuluh orang yang bersabar diantara kalian, niscaya akan mampu mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada diantara kalian seratus orang, niscaya akan mampu mengalahkan seribu orang dari orang-orang kafir, karena mereka adalah kaum yang tidak paham “. (Q.S. Al- Anfal : 65)

Dan Alloh subhanah berfirman pula : “Maka, berperanglah di jalan Alloh, tidak dibebankan hal itu kecuali kepadamu, dan kobarkanlah semangat orang-orang beriman. Semoga Alloh menahan serangan orang-orang kafir. Dan Alloh sangat besar kekuatan dan sangat keras siksaannya ”. (Q.S. An-Nisa : 84)

Syeikh Abu Mus`ab As Sury berkata : ”Tahridh untuk berjihad dan berperang, mengajak manusia untuk mencintainya, menyebutkan keutamaannya dan ancaman bagi yang meninggalkannya telah mengambil bagian yang cukup besar dari ayat-ayat Al Qur`anul Karim sejak turunnya ayat idzin untuk berperang pada tahun ke-dua Hijriyah … begitu juga banyak nash-nash nabawi dan sunah fi`liyah dan taqririyah yang memotivasi untuk berjihad dan merinci keutamaan dan pahalanya, serta apa yang Alloh siapkan bagi para Mujahidin dan Syuhada`.

Dan memobilisasi orang-orang beriman untuk berperang, turut terjun demi melindungi agamanya dan marah kepada musuh-musuhnya, karena mengharap pahala di sisi-Nya dan menjanjikan kemenangan dan kekuasaan kepada mereka ….

Tahridh adalah ciri khas jihad dan motivasinya, tugas para kholifah, umaro, ulama dan para dai yang menyeru kepada Alloh, serta para penyeru kepada yang ma`ruf dari berbagai kalangan umat. Ini berlaku jika jihad menyerang musuh di dalam negeri mereka, meninggikan kalimat Alloh, menyebarkan agama dan panji-panji- Nya dan memberlakukan hukum dengan syareat-Nya di muka bumi. Adapun jika jihad berubah menjadi bentuk membela agama, jiwa, kehormatan dan tanah kelahiran serta kesucian seperti kondisi hari ini dan seperti yang terjadi di era krisis , maka hal ini menjadi kewajiban paling esensi bagi setiap muslim secara umum, khususnya para ulama dan penyeru kepada Alloh, bahkan bagi orang-orang yang sebenarnya Alloh berikan udzur untuk tidak ikut berperang karena lemah, sakit dan alasan lain yang menghalangi mereka dari ikut berjihad, Alloh mensyaratkan atas mereka agar alasan mereka diterima, yaitu hendaklah mereka menggerakkan lesan mereka untuk berdakwah kepada Alloh dan mengobarkan semangat untuk menolong agama-Nya.

Alloh Ta`ala berfirman : “Tidak ada dosa bagi orang-orang lemah, sakit dan bagi orang-orang yang tidak mendapatkan biaya perjalanan, selama mereka berbuat baik kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tidak ada celah untuk menyalahkan orang-orang baik. Dan Alloh maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. At Taubah : 91)”. Selesai. (Da`wah muqowamah islamiyah `alamiyah, bab ke – delapan.)

4. Membuat Marah Musuh :

Alloh Ta`ala berfirman : “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Baduwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah Karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia- nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, ”. (Q.S. At-Taubah : 120)

Ayat yang mulia yang terdapat dalam surat At-taubah ini dengan jelas menyebutkan bahwa segala hal yang bisa menyebabkan marahnya musuh- musuh Alloh, baik berupa perkataan atau perbuatan kapanpun dan bagaimanapun adalah termasuk jihad di jalan Alloh Ta`ala.

Apalagi ungkapan yang membuat marah orang-orang kafir itu dirangkai dalam pembahasan tentang pahala jihad dan mujahidin. Kemudian ayat muliau ini juga terdapat dalam surat Al-Baroah, yaitu surat terakhir yang turun berkenaan tentang ayat-ayat jihad, dan di dalamnya secara lengkap disebutkan tentang esensi masalah jihad.

Syeikh Abdurrohim bin Murod Asy Syafi`i berkata : “Segala hal yang bisa membuat marah dan melukai musuh adalah termasuk jihad.

Alloh Ta`ala berfirman : “Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia- nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

Rosululloh Saw juga pernah bersabda kepada Hisan : “Sungguh menyindir orang kafir dengan syair lebih menyakitkan bagi mereka dari pada lemparan anak panah”. Hadits ini terdapat dalam shohihain dari hadits Aisyah. Di dalam shohihain juga disebutkan riwayat dari hadits Baro` dengan lafadz : “seranglah orang-orang musyrik dengan syair, karena ruhul qudus bersamamu””. (Shuhail Al Jiyad . ibid)

Siapa yang mengenal Amerika salibis dan mencari hal yang bisa membuat mereka marah, akan tahu dengan baik bagaimana mereka marah dan meradang dengan adanya media jihadi. Mereka – semoga Alloh membinasakan mereka – lebih mengetahui esensi, pengaruh dan urgensinya dari pada yang lain.

Berapa kali sudah kita mendengar para ikhwah jurnalis – yang ditawan di penjara-penjara Amerika, lalu Alloh berikan kebebasan kepada mereka – bagaimana orang-orang salib memperlakukan mereka dengan serius dan berlangsung lama, dan memperlakukan mereka secara khusus karena khawatir, karena mereka tahu besarnya peran para jurnalis itu di medan perang. Kami akan ceritakan kepada Anda – akhi jurnalis – semoga Alloh menjagamu dan melindungimu dari penangkapan dan siksaan – tentang kisah seorang akhi muhajir dari Arab yang datang ke negeri dua aliran sungai untuk berjihad bersama saudara-saudaranya yang Anshor. Ketika dia sampai di bumi jihad, dia ditemui oleh masul (penanggung jawab), beliau mengetahui pengalaman medianya, maka beliau memintanya untuk bekerja di bagian media. Tetapi akhi muhajir tadi menolak mentah-mentah perintah ini, dan memaksa untuk turut serta dalam aksi militer. Ketika ditanya tentang alasannya, dia menjawab : “Aku menginginkan sesuatu yang lebih banyak bisa menyakiti musuh- musuh Alloh Ta`ala, dan menurutku media tidak bisa menyampaikan keinginanku …”. Sang Amirpun tidak memaksanya, dan membiarkannya ikut beraksi bersama ikhwah lain yang berperang. Alloh Ta`ala menakdirkannya tertangkap oleh tentara Amerika. Setelah dia menjalani masa tahanan, dia langsung kembali bekerja, tetapi kali ini dia pulang dengan sesuatu yang baru. Dia kembali menggeluti media. Ketika ditanya tentang perubahan hobinya ini, dan diingatkan dengan kerjanya yang lalu, dia menjawab : “Aku merubah opiniku sejak aku menyaksikan bagaimana Amerika mati-matian berusaha untuk menangkap satu jurnalis, dan mereka lebih peduli dengan urusan media dari pada militer. Maka, Alloh membukakan hatiku untuk bergelut dengan media setelah aku melihat dengan mata kepada sendiri besarnya luka yang ditorehkannya kepada musuh-musuh Alloh Ta`ala dari kalangan para salibis dan murtadin”.

5. Memasukkan Rasa Gembira ke dalam Hati Orang-orang Beriman :

Alloh Ta`ala berfirman : “.Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan- tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. dan Allah menerima Taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana ”. (Q.S. At Taubah : 14-15)

Rosululloh Saw bersabda : “Manusia yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah kebahagiaan yang dia masukkan ke dalam hati seorang muslim”.

Beliau juga bersabda : “Amal yang paling utama adalah memasukkan rasa senang kepada seorang mukmin ”. (Dua hadits ini terdapat dalam silsilah ash shohihah oleh Syeikh Albany.) Dari Sufyan bin `Uyainah berkata : Muhammad bin Munkadir pernah ditanya : “Amal apa yang paling Anda sukai ?”. beliau menjawab : “memasukkan rasa senang kepada seorang mukmin ”. (Hilyatu auliya oleh Abi Nu`aim, dan shofwatu shofwah oleh Ibnu Jauzy.)

Sisi media jihad yang lain adalah membuat gembira orang-orang beriman. Karena segala hal yang membuat marah orang kafir dan munafik adalah menyenangkan orang mukmin yang jujur. Seperti senjata yang memiliki dua mata. Anda bisa bayangkan – Semoga Alloh membuat Anda gembira wahai jurnalis – besarnya kebahagiaan yang akan meliputi hati kaum muslimin – baik yang mujahid maupun yang hanya duduk – ketika mereka menyaksikan rilisan para mujahidin yang berisi hasil dan kemenangan yang diraih oleh para muwahhid dan kerugian perang yang diderita oleh para petempur kafir dan orang-orang murtad. Betapa gembiranya mereka jika membaca atau mendengar pernyataan militer di salah satu wilayah !! Buatlah mereka melakukan sujud syukur kepada Alloh dan buatlah mereka ikut menikmati pahala ! atau tunggulah terkabulnya doa-doa mereka dari jauh, ketika mereka bergumam : “Ya Alloh, menangkanlah hamba-hamba-Mu para mujahidin dan hinakanlah orang-orang kafir dan murtad ”. Dan Semoga Alloh membalas kebaikan siapa saja yang ikut serta dalam amal media ini. Jawablah : Amin ….

6. Taat kepada Pemimpin :

Alloh Ta`ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya ”. (Q.S. An- Nisa : 59)

Rosululloh saw bersabda : “Siapa yang mentaati aku, berarti dia telah mentaati Alloh, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia juga bermaksiat kepada Alloh. Barang siapa yang mentaati amirku berarti dia telah mentaatiku, dan barang siapa yang bermaksiat kepada amirku berarti dia telah bermaksiat kepadaku ”. (Muttafaqun `alaih.)

Sisi ketaatan disini adalah bahwa Amir (atau penanggung jawab media) telah membagi kerja dan memilih Anda untuk berkiprah di bidang ini (media), jika Anda mentaatinya berarti Anda mentaati Alloh, tetapi jika Anda menolaknya berarti Anda telah bemaksiat kepada Alloh. Kami juga menganggap bahwa jurnalis itu termasuk kelompok yang sedang menuntut ilmu, yang mana Amir telah menunjukkan untuk belajar dan mengajar …

Sebagaimana firman Alloh Ta`ala : “ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ”. (Q.S. At Taubah : 122)

Jadi, harus ada kelompok yang konsentrasi belajar dan mengajar para pejuang tentang urusan-urusan agama mereka. Jika kelompok ini tidak ada, maka kebodohan akan melanda manusia. Tidak berapa lama, pasukan pejuang di jalan Alloh akan segera dilibas. Saat itulah Anda tidak akan bisa menemukan orang yang bisa menyempurnakan perjalanan. Kalaupun ada, tapi tidak akan sesuai dengan yang diharapkan untuk menjalankan pertarungan global.

Dari sini – akhi jurnalis – hendaknya Anda merasakan butuhnya manusia umumnya dan para mujahidin khususnya untuk mengetahui penderitaan umat Islam, dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk menyelamatkan manusia dari kekufuran, kedholiman dan kerusakan. Ini adalah tanggung jawab Anda !! ya, Anda … bukan yang lain..!! Alloh Ta`ala berfirman : “Hendaklah ada diantara kalian satu kelompok yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang- orang yang berbahagia” (QS. Ali Imron : 104). 7.

Perkataan yang Benar : Rosululloh Saw bersabda : “Sungguh, diantara jihad terbesar adalah kata- kata adil dihadapan penguasa jahat ”. (HR. Tirmidzi, dan terdapat dalam shohihul jami`.)

Syeikh Abdulloh Azzam berkata ketika memberikan ta`liq atas hadits ini : “Karena memerangi musuh itu menyebabkan pergolakan antara harap dan takut. Penguasa itu jika disuruh untuk berbuat baik, terkadang justru akan menghadapkannya pada siksaan dan kematian. Di lihat dari sisi besarnya rasa takut di sini menjadikan hal ini menjadi lebih utama, karena kedholiman penguasa terhitung cukup banyak. Jika Anda mencegahnya, maka manfaatnya akan dinikmati oleh banyak orang, berbeda dengan membunuh orang kafir ”. (Ittihaful `ibad bifadhoilil jihad.)

Seorang jurnalis muwahhid dan mukmin mengatakan dengan adil dan jujur di saat para pengikut kebenaran berjumlah sedikit dan orang-orang jujur menjadi langka. Jurnalis muwahhid akan menyampaikan kepada manusia tentang gambaran sebenarnya dari jalannya pertempuran, tanpa melebihkan atau berdusta, sebagai bentuk ketaatan kepada Robbnya yang telah berfirman : “ Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, Agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan ”. (QS. Az Zumar : 32-35).

Dan peneladanan kepada yang benar dan dibenarkan (Rosul) saw yang bersabda : “Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Tidaklah seseorang tetap berlaku jujur dan bergelut dengan kejujuran hingga dia ditulis disisi Alloh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah olehmu sikap dusta, karena dusta akan membawa pada dosa, dan dosa akan menghantarkan ke neraka. Tidaklah seseorang berlaku dusta dan bergelut dengan kedustaan hingga dia ditulis disisi Alloh sebagai pendusta”. (HR. Muslim.)

Ketika kedustaan disalah gunakan dan terjadi pemutar balikan mayoritas – jika tidak semua – sarana media yang loyal kepada para musuh. Para jurnalis mereka rela untuk menjadi corong kekufuran, prostitusi dan kebohongan, serta memerangi agama dan kesucian. Maka pantaslah mereka disebut sebagai “tukang sihir Fir`aun ”. Itulah zaman keterasingan yang disabdakan oleh manusia yang tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, Rosululloh saw : “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan. Di sana pendusta dianggap benar, sedangkan orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat dipercaya dan orang amanah dikhianati. Dan ketika itu Ruwaibidhoh berbicara”. Ada yang bertanya : “Apakah ruwaibidhoh itu ?”. beliau menjawab : “Lelaki dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak”. (Hadits hasan, silsilah shohihah oleh Albany)

8. Melawan Perang Pemikiran (ghozwul fikri) :

Sungguh, ikhwah jurnalis – semoga Alloh Ta`ala menjaga dan meneguhkan mereka – telah membendung serangan kolonial yang paling kuat yang telah dikenal oleh sejarah perang salib dan perang shofwah/kebangkitan. Sungguh mereka adalah katup pengaman syareat Ar-Rahman. Mereka berhadapan dengan perang yang sangat berbahaya yang bahayanya melebihi perang militer. Itulah perang pemikiran yang menyerang otak kaum muslimin dan hati mereka, lalu menghapuskan identitas mayoritas mereka, membodohi pemikiran mereka, menghancurkan pemahaman mereka, mengganti tradisi mereka, mengeringkan sumber iman mereka dan mematikan ghiroh mereka … tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Alloh yang maha tinggi lagi maha agung.

Para musuh zionis salibis shofwy tahu benar bahwa penjajahan hati itu lebih berhasil dari pada penjajahan negara dan perbudakan manusia. Siapa yang bisa membalik lembaran-lembaran sejarah akan bisa memetik hasil yang sempurna, yang intinya : “Kekuatan manapun tidak akan mampu – meskipun dia memiliki semua sarana – untuk menakhlukkan kaum muslimin, merampas bumi mereka demi keuntungan pribadi, dan menghapuskan eksistensi mereka ” sebagaimana yang dialami oleh mayoritas peradaban. * Sedangkan negara-negara baik yang besar maupun yang kecil yang tumbuh dan menetek kepada kekuatan super power akan hancur total dan akan masuk dalam cengkraman yang lain. Bahkan semua perang militer yang menyerang umat Islam akan hancur dan menuai kekalahan, dan hanya akan menorehkan luka setelah kaum muslimin memberikan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan oleh mereka.

Dan pelajaran terakhir yang diambil oleh PBB –penghasung salib – dan yang berputar di sekelilingnya. Mereka belajar dari tangan para pahlawan negara Islam Iraq – semoga Alloh menjaga mereka. Karena itulah, musuh bebuyutan kaum muslimin, trio pendengki (Salibis – Yahudi - Majusy) tahu benar bahwa perang militer melawan umat Islam sangatlah mustahil, maka merekapun beralih kepada perang pemikiran, sosial dan tsaqofah (wacana). Dalam beberapa hal mereka berhasil menyeret putra-putra kita dengan jerat-jerat dan makar mereka.

Menurut Anda – wahai prajurit media – siapakan yang akan membendung perang media ini ? Kami serahkan jawabannya kepada anda sendiri … Pembicaraan diatas yang menampilkan esensi media dan pahala bagi yang beramal di tapal batasnya, bukan hanya sebuah khayalan dan tidak pula berlebihan. Tetapi kami telah menyebutkan hal terpenting dan sedikit keterangan, serta kami tidak ingin bicara terlalu banyak karena khawatir menimbulkan kejenuhan. Sebagaimana dikatakan : (Banyak bicara hanya akan menyebabkan sebagian hal terlupakan).

BEBERAPA PETIKAN KATA-KATA PARA ULAMA DAN KOMANDAN JIHAD DALAM HAL MEDIA

Imamul umat Abu Abdillah Usamah bin Ladin – semoga Alloh merahmati beliau – berkata : Atau di sana ada para jurnalis dan pemegang pena yang memiliki pengaruh signifikan dan peran penting dalam mengarahkan pertempuran, menghancurkan mentalitas musuh dan mengangkat mentalitas umat. Tibalah saatnya, media menempati tempatnya yang benar dan ikut ambil andil dalam menghadapi serangan ganas dan perang salib yang didengungkan dengan semua sarananya baik visual, audio dan cetak.

Bagi para pemegang media, baik itu penulis atau wartawan atau cendekiawan atau responden hendaklah bertanggung jawab dan ikut andil. Mereka harus melakukan peran sesuai harapan dalam memberikan pencerahan kepada umat, menjelaskan hakekat musuh dan menyingkap program dan permainannya. Mereka juga harus bersatu dengan semua kemampuan mereka, karena musuh hari ini tidak lagi membedakan antara satu kelompok dengan yang lain. Targetnya adalah menumpas semua hal yang terkait dengan Arab dan Islam. (Disadur dari ceramah Syeikh mulia yang berjudul : setahun setelah kegagalan Amerika di Afghanistan.)

Hakimul umah Syeikh Aiman Adz Dzowahiry – semoga Alloh menjaga beliau – berkata : Adapun para ksatria jihad media, saya katakan kepada mereka : “Semoga Alloh membalas kalian dengan sebaik-baik balasan atas penderitaan kalian yang baik dalam berkhidmat kepada Islam. Ketahuilah bahwa kalian berada di salah satu tapal batas Islam yang terpenting. Thoghut masa kini sangat ketakutan dengan ulah kalian. Jerih payah kalian telah menampakkan buahnya diantara umat Islam dan masyarakat kaum muslimin. Sebarkanlah kesadaran … kobarkan semangat umat dan bangunkan mereka Perangilah jiwa dan penyeru kelemahan, kekalahan, dan kehinaan. Singkaplah pengkhianatan dan musuh-musuh islam yang beranggapan bahwa Islam hanyalah tipuan, dari kalangan para hakim, ulama dunia, penguasa, para penulis dan politikus. Teruslah berkorban dan memberi, jangan sampai keberhasilan kalian membuat kalian meremehkan dan bersikap masa bodoh. Tetapi tekunilah kerja kalian dan tingkatkan. Curahkan segenap kemampuan kalian, karena kalian berada dalam sebuah pertempuran yang berhadapan dengan kerajaan setan dengan segenap sarana rayuan dan teror, tipuan dan makarnya. Minta tolonglah kepada Alloh dan jangan melemah. Hadirkan selalu niat untuk menolong Islam, dan ikhlaskan amal kalian hanya untuk Alloh semata. Semoga Alloh selalu memelihara dan menjaga kalian dan membantu kalian dari sisi-Nya”. (Disadur dari ceramah beliau berjudul (Al Qudsu lan tuhawwad).)

Wazirul umah Abu Hamzah Al Muhajir – semoga Alloh Ta`ala menerima beliau di jajaran para Syuhada` - berkata : “Sesungguhnya pertempuran mujahidin dengan musuh-musuh mereka hari ini berputar diatas dua poros penting, yaitu : Pertama : poros militer Dan kedua : poros perang media setan yang hendak menghapus eksistensi umat, menyimpangkan aqidahnya, menanamkan sikap ketergantungan dan kekalahan psikis. Sungguh, tembakan misil media lebih mematikan dan lebih berbahaya bagi umat dan para ksatrianya dari pada serangan misil pesawat. Oleh karenanya, para mujahidin yang Alloh beri petunjuk untuk menghancurkan kekuatan musuh- musuh mereka secara militer seharusnya juga menyerang front yang lain yaitu front media … Rosululloh saw pernah mengerahkan segenap cara media di masanya yang paling berbekas dan telak melukai jiwa musuh-musuhnya, yaitu syair … Begitu juga beliau saw mengangkat seorang khotib untuk membela Islam dan kaum muslimin dengan syairnya, yaitu Tsabit bin Qois bin Syammasy, seorang sahabat yang mendapat kabar gembira dengan surga ”. (Disadur dari ceramah beliau Syeikh Asy Syahid dengan judul (Masaliku nashr))

Syeikh `Alamah Hamud bin `Uqola Asy Syu`aiby – semoga Alloh merahmati beliau – berkata : “Diantara sarana jihad yang paling kuat di era masa kini adalah media. semua orang yang memiliki sedikit perhatian dengan media akan tahu bahwa media memiliki pengaruh yang cukup jauh dalam merubah neraca timbangan dalam pertempuran yang berlangsung antara kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka. Karena media mencakup penyebaran terhadap kemenangan-kemenangan umat Islam atas musuh-musuh mereka, mendukung mereka, menampilkan kepahlawanan mereka dan pujian atas mereka. Karena perkara-perkara ini tugasnya adalah mengokohkan persatuan mujahidin dan membimbing mereka untuk memiliki dedikasi dalam meraih kemenangan dan kekalahan musuh. Karena itulah, Rosul saw sangat perhatian dengan jihad jenis ini – yaitu jihad dengan lesan - . beliau memerintahkan para penyair umat Islam seperti Hisan, Abdulloh bin Rowahah dan Ka`ab bin Malik untuk menyerang musuhnya dari kalangan orang-orang kafir dengan syair tersebut. Sebagaimana yang disebutkan oleh imam Muslim dari hadits Aisyah bahwa beliau Saw bersabda : “Seranglah mereka dengan syair, dan ruhul qudus bersamamu”. Beliau juga berkata kepada Hisan : “Sungguh, ruhul qudus (Jibril) terus membantumu selama kamu tetap membela Rosululloh (dengan syair)”. Ini adalah jika media tersebut berlaku jujur, dan yang mengendalikannya adalah orang yang ikhlas karena agama dan umat mereka. Adapun jika media konsisinya seperti sekarang, yaitu hanya perhatian dengan hal-hal tolol yang jauh dari jihad dan kondisi para Mujahidin ..”. (Shuhailil jiyad fi syarhi kitabil jihad min bulungil marom li Ibni Hajar, oleh Abdurrohman bin Murod Asy Syafi`I, hal 23-24.)

Syeikhul asir Abu Mus`ab As-Sury – semoga Alloh membebaskan beliau dari tahanan – berkata : Tugas media adalah mentahridh umat baik secara umum maupun secara khusus. Adapun yang umum adalah Da`wah secara umum untuk memerangi poros serangan dalam peperangan dengan semua aspek baik militer, wacana, pemikiran, pendidikan, ekonomi, politik dan sosial. Tugas menghadapi peradaban berada di pundak semua elemen umat. Para Ulamanya di masjid-masjid, buku- buku, dan pelajaran-pelajaran mereka. Para cendekiawannya dalam pidato-pidato, sastra-sastra dan kegiatan tsaqofah mereka. Para ksatrianya di medan-medan amal, dan arah gerakan mereka dan para wanitanya dalam rumah-rumah dan pembinaan mereka terhadap anak- anak mereka … Beginilah, peran semua pihak terlihat dalam memotivasi, sedangkan media secara umum berperan menghidupkan benih-benih perlawanan, menciptakan cuaca perlawanan dan iklim revolusi bagi pejuang dan para pembelanya dan tahridh untuk mendukung mereka. Ini adalah bidang umum yang kita wajib untuk memotivasi orang-orang yang berada di dalamnya agar masing-masing ikut ambil andil … Adapun bidang tahridh secara khusus adalah motivasi untuk melakukan perlawanan bersenjata. Ini adalah tugas anggota da`wah muqowamah (perlawanan) islam global dan para pembantunya. Ringkasnya adalah motivasi untuk terjun dalam tugas perang dan membentuk saroya (pasukan) pemukul yang terputus … yaitu saroya perlawanan islam global. Saroya jihad bersenjata … ini adalah tugas yang harus dilaksanakan oleh sel yang menadzarkan dirinya untuk tugas ini … Tugas tahridh untuk spesialisasi dibebankan diatas pundak orang- orang yang memang membidangi hal itu … Tugas mereka adalah membentuk sel da`wah untuk berjihad dan memotivasinya. Memudahkan jalan- jalan tersebut untuk manusia dengan memberikan bantuan data-data, pengarahan dan program kepada mereka. Dan sel inilah yang kita sebut dengan (saroya tahridh). (Dari kitab Syeikh (Da`wah Muqowamah Islamiyah `Alamiyah) bab ke- delapan.)

Ya Alloh, jagalah para jurnalis mujahidin yang jujur Ya Alloh, tepatkan bidikan mereka, luruskan pendapat mereka dan baikkanlah akhir hayat mereka. Bangkitkanlah mereka bersama para Nabi dan kumpulkanlah mereka bersama para Syuhada Ya Alloh buatlah mereka cinta terhadap media dan hiasilah hati mereka dengan hal itu Dan buatlah mereka benci terhadap kekufuran, kefasikan, sikap diam, lemah, bakhil dan menyerah kalah Dan jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang lurus, dan mendapat petunjuk Yaitu orang-orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, maka mereka menekuninya Jika mereka sudah menguasainya, maka bimbinglah mereka untuk mengikuti sunah, dan buatlah mereka mengikhlaskan niat karena Alloh Semoga Alloh melimpahkan sholawat kepada nabi kita Muhammad, para keluarga dan sahabat beliau semuanya.

Diterbitkan oleh : Markaz Al Yakin Al I`lamy Jumadil Akhir 1432 H

Jumat, 04 November 2011

موسوعات

موسوعات

موسوعة القرآن الكريم - الإصدار الأول
موسوعة الحديث النبوي الشريف - الإصدار الثاني
مجموع فتاوى ابن تيمية - الإصدار الأول ، الإصدار الثاني
موسوعة فتاوى اللجنة والإمامين - الإصدار الثاني
موسوعة مؤلفات الشيخ محمد بن عبد الوهاب - الإصدار الثالث
موسوعة سير السلف - الإصدار الأول
برنامج مكتبة السنة - الإصدار الأول
موسوعة شروح الحديث - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ صالح آل الشيخ - الإصدار الأول
موسوعة علوم الحديث - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ مقبل الوادعي - الإصدار الخامس
مكتبة الشيخ ربيع المدخلي - الإصدار الرابع
مكتبة الشيخ محمد أمان الجامي - الإصدار الثالث
مكتبة الشيخ عبد الرحمن السعدي - الإصدار الثالث
موسوعة أصول الفقه - الإصدار الثالث
مكتبة الإمام ابن الجوزي - الإصدار الأول
موسوعة المؤلفات العلمية لأئمة الدعوة النجدية - الإصدار الثالث
موسوعة توحيد رب العبيد - الإصدار الثاني
مكتبة الشيخ عبد المحسن العباد - الإصدار الرابع
مكتبة الشيخ صالح الفوزان - الإصدار الثاني
موسوعة مؤلفات الإمام ابن القيم - الإصدار الثاني
موسوعة مؤلفات الإمام ابن تيمية - الإصدار الثاني
مكتبة الشيخ محمد الأمين الشنقيطي - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ حافظ بن أحمد حكمي - الإصدار الثالث
مكتبة الشيخ تقي الدين الهلالي - الإصدار الثاني
مكتبة الشيخ حمود التويجري - الإصدار الرابع
المكتبة اللغوية الإلكترونية - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ عطية محمد سالم - الإصدار الثاني
مكتبة الإمام السيوطي - الإصدار الأول
مكتبة الإمام ابن حزم الأندلسي - الإصدار الأول
موسوعة علوم القرآن - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ عبد السلام بن برجس آل عبد الكريم - الإصدار الأول
الموسوعة الفقهية الكبرى - الإصدار الثالث
مكتبة الشيخ عبد العزيز بن محمد السلمان - الإصدار الأول
موسوعة التاريخ الإسلامي - الإصدار الثاني
موسوعة السيرة النبوية - الإصدار الثاني
مكتبة الإمام ابن رجب الحنبلي - الإصدار الثاني
مكتبة الإمام محمد بن علي الشوكاني - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ محمد بن صالح العثيمين - الإصدار الثاني
الجامع لمؤلفات الشيخ الألباني - الإصدار الثاني
مكتبة الإمام ابن حجر العسقلاني - الإصدار الأول
مكتبة الإمام الذهبي - الإصدار الأول
مكتبة الإمام ابن كثير - الإصدار الأول
مكتبة الإمام النووي - الإصدار الأول
مكتبة الإمام ابن حجر الهيتمي - الإصدار الأول
موسوعة علوم اللغة - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ عبد العزيز بن باز - الإصدار الأول
مكتبة الشيخ محمد بن عبد الله السبيل - الإصدار الأول